Sumayah

Sumayah
Allahu Musta'aan


__ADS_3

Duar!


Gelegar petir menyambar, berdenging setiap telinga yang menangkap gelombang suaranya. Dahsyatnya kilatan yang menyambar tadi, membuat penglihatan mereka memburam. Sinar yang teramat terang, menyilaukan pandangan. Mereka harus menutupi pandangan agar kornea milik mereka tidak terkena dampak buruk.


Jeritan yang mengiringi ikut memekakan telinga, mereka yang tak berani beranjak dari tempat duduk meringkuk di atas kursi. Menaikkan kedua kaki, dan memeluknya erat-erat.


Tubuh mereka menggigil ketakutan. Takut akan orang-orang yang berseragam serba hitam di dalam bus ditambah sambaran petir yang begitu dahsyat.


"Diam!" Satu kata sebagai perintah yang lantang membuat mereka semua bungkam. Hening dalam gigil tubuh yang kian menciutkan nyali mereka.


Orang-orang berwajah sangar itu, menelisik setiap bangku bus yang diduduki penumpang. Teliti, jeli, tak satu pun dapat lari dari sorot mata dingin mereka. Deru napas yang memburu, pakaian-pakaian yang penuh lumpur juga basah, membuat seluruh penumpang dalam bus bertanya siapa yang mereka cari?


Tak satu pun dari mereka berani angkat bicara walau hanya sekedar berbincang dengan rekan sejawat. Semua penumpang duduk dengan mulut terkunci rapat.


Derap langkah mereka yang mengetuk lantai bus membuat detak jantung orang yang duduk di bagian belakang semakin melonjak tak karuan. Keringat dingin bercucuran dari setiap pori-pori dalam tubuhnya. Menyebabkan dia basah tanpa diguyur air.


"Jangan ada yang terlewat satu kursi pun! Dia tidak boleh lolos!" teriak orang yang berdiri di paling depan bus. Setiap kolong kursi mereka periksa bahkan kamar mandi pun tak luput dari mata elang mereka. Tumpukan selimut diserakkan begitu saja. Sosok yang mereka cari tidak ada dalam bus. Ke mana Sumayah?


Allahu Musta'aan.


"Dia tidak di sini?" teriak orang yang telah memeriksa seluruh bagian dalam bus.


"Aku menemukan sesuatu!" Suara teriakan lain membuat pemimpin mereka merangsek ke belakang bus.


"Apa yang kau temukan?" tanyanya begitu sampai. Orang yang berteriak tadi menunjuk pada satu kursi yang meninggalkan genangan air berlumpur. Dari mana datangnya? Mereka menengadah, tak mungkin rasanya jika atap bus itu berlubang!


Ia melirik tajam laki-laki yang duduk di kursi sebelahnya yang tak lain adalah sang Kondektur bus. Tubuhnya berguncang hebat, ketakutan jelas terlihat di wajahnya yang hampir keriput. Pucat pasih, jejak keterkejutan masih nampak jelas.


"Apa kau tahu sesuatu?" tanya pemimpin kelompok tersebut dingin menusuk.

__ADS_1


"I-iya, tadi ... tadi ada seorang wanita duduk di sana," ucapnya tergagap.


Mata lelaki itu menggerling tajam, menilik tempat duduk di sampingnya lalu kembali pada maniknya yang ketakutan.


"Benarkah? Apa dia seorang wanita yang mengenakan pakaian pasien Rumah Sakit dan membawa bayi!" Itu tidak terdengar seperti pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang yang ingin tahu sesuatu, melainkan sebuah pernyataan mengandung ancaman menggetarkan nyali siapa saja yang berhadapan dengannya.


"Be-benar, Tuan! Di-dia tadi duduk di sana, pakaian dan seluruh tubuhnya dipenuhi lumpur. Ta-tadi dia masih duduk di sana!" katanya lagi bergetar hebat. Jelas dia merasa tersudut karena posisinya duduk tepat berada di kursi yang tergenang air itu.


"Lalu, ke mana dia pergi sekarang? Apa kau ingin bermain denganku?" ancamnya dengan nada rendah menekan. Di tangannya pula sebuah belati tajam ia hunuskan di rahang laki-laki paruh baya tersebut.


Keringat menetes deras dari wajahnya mengenai ujung belati yang menempel di kulit dagunya. Bola mata laki-laki di hadapannya, menggerling tajam menatap air yang baru saja jatuh dan mengotori belati tajamnya.


"Cih! Kau sungguh pengecut!" cibirnya. Ia menarik belatinya, diusapkannya keringat tadi pada pakaian sang Kondektur bus yang diancamnya.


"Katakan! Ke mana dia?" lanjutnya menekan sembari memainkan belati di tangan.


Mendengar ucapan Kondektur bus itu, ia tertegun. Melirik pintu belakang bus yang terbuka lebar. Ada benarnya juga apa yang dikatakannya tadi. Ia melirik ke luar jendela. Di samping kanan dan kiri jalan, adalah hutan.


"Dia melarikan diri! Katakan pada mereka untuk menyusul kita di sini!" titahnya dengan cepat berlari keluar bus dan mengumpulkan anak buahnya.


"Tu-tuan, apa kami boleh berangkat?" tanya sang Kondektur dengan takut-takut.


Ia tidak menjawab melainkan terus melangkah menuruni bus. Sang Supir berinisiatif untuk menjalankan busnya. Melaju secepatnya meninggalkan tempat menegangkan tadi.


"Maafkan aku, Nak! Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku bertanggung-jawab atas keselamatan seluruh penumpang di bus ini. Maafkan aku, semoga Allah memberikanmu pertolongan," gumamnya lirih yang hanya dapat didengar oleh telinganya sendiri.


Bus melaju dengan perasaan lega semua orang yang ada di dalamnya.


"Kita akan membagi kelompok menjadi dua! Sebagian ke hutan bagian kanan, sebagian ke hutan bagian kiri! Mengerti!" teriaknya lantang.

__ADS_1


"Mengerti!"


Dalam satu komando, mereka membelah menjadi dua kelompok. Sebagian berlari ke seberang jalan dan masuk ke dalam hutan, sebagian lagi langsung menerobos semak di bagian hutan yang lain. Kembali berkejaran dalam gelapnya hutan yang ditumbuhi berbagai pohon liar.


Di jantung hutan tersebut, Sumayah bersandar pada sebuah pohon besar. Menarik napas dalam-dalam untuk dapat melanjutkan pelarian. Ia meringis, semakin perih luka di bekas jalan lahir. Akan tetapi, dia tidak boleh berhenti di sini!


Gerimis tak lagi turun, bayinya yang kenyang menyusu kembali terlelap dalam bungkusan selimut. Sumayah menguatkan otot kakinya yang kian melemah. Luka-luka robekan tak dihiraukannya. Ia menahan perih di kakinya yang tanpa alas.


Kembali mengayun langkah meninggalkan tempatnya bersandar. Ia dapat mendengar dengan jelas derap suara orang-orang yang mengejarnya berlarian di dalam hutan. Sumayah menerobos semak tinggi, tak peduli apakah ada binatang melata di dalam sana. Ia terus masuk dan berjalan di dalam semak. Menyembunyikan dirinya dari mata-mata jahat yang mengejar.


Ia yang lelah berlari, berkali-kali menghentikan langkah. Hanya untuk mengisi paru-parunya dengan udara yang semakin menipis dan hilang. Di dalam semak itu ia melihat sebuah gua gelap gulita. Hanya berupa lubang kecil saja, Sumayah menyeret langkahnya masuk ke dalam lubang sempit itu. Susah payah, ia menjejalkan tubuh hingga akhirnya dapat melewati lubang sempit itu.


Sumayah menjatuhkan diri bersandar pada dinding batu. Keadaan di dalamnya tak sesempit pintu masuk gua tersebut. Hanya saja, keadaannya yang gelap gulita membuat matanya tak dapat melihat apa pun. Ia beristirahat dari kejaran musuh.


"Terima kasih, ya Allah! Engkau datangkan penyelamat untukku," gumamnya penuh syukur. Ia meneguk ludah demi membasahi tenggorokannya yang kering.


"Aku haus!" lirihnya.


Sumayah termenung, mengingat kejadian beberapa saat tadi di dalam bus. Di mana ia yang menggigil ketakutan di bawah kursi bus. Tangannya meremas kain yang ia gunakan untuk menggendong bayi.


Keringat dan air mata bercampur aduk menjadi satu. Di dalam keputusasaan itu, sang Kondektur diam-diam membuka celah sedikit pada pintu. Sumayah tahu, itu kesempatan dia untuk melarikan diri.


Namun, bagaimana caranya melarikan diri? Sedangkan mereka menatap waspada pada setiap sudut bus. Pertolongan datang tepat pada waktunya. Sebelum mereka mendekat, petir menyambar dengan dahsyat dan lama.


Di saat semua orang ketakutan, Sumayah memberanikan diri merangkak keluar dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ia terus berlari di bawah sambaran petir yang menyembunyikan tubuhnya dari semua orang.


Cahayanya seolah memberi penerang pada jalan yang harus ia tempuh. Ia menerobos masuk ke dalam hutan dan terus berlari hingga petir menghilang dan menggelapkan dunia. Sumayah bersyukur dalam beberapa saat ia dapat bernapas lega.


"Untuk sementara kita masih selamat, Nak! Ibu tidak tahu setelah ini, apakah kita masih bisa melarikan diri dari kejaran Ayahmu?" Sumayah mendekap bayinya erat. Dalam keadaan gulitanya gua, hanya kedua manik kecil itu yang bersinar.

__ADS_1


__ADS_2