
Salim dengan pelan memiringkan tubuh menghadap jendela tempat biasa ia termenung menunggu Sumayah. Hatinya menggumamkan Sumayah sebelum kelopak matanya terpejam. Pandangannya memburam dan saat itulah ia melihat sesosok yang samar berdiri di dekat jendela.
Ia tak acuh karena dipikirnya itu adalah orang-orang Kevin yang menjaga kamarnya. Salim terpejam, tapi tidak tidur. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah sambil berpikir bagaimana caranya melarikan diri dari rumah Kevin.
Tok ... tok ... tok!
Samar telinganya mendengar jendela diketuk. Namun, ia tetap memejamkan mata tak acuh.
Tok ... tok ... tok!
"Salim!"
Dahi Salim mengernyit saat suara Sumayah merangsek masuk mengetuk gendang telinganya.
"Ibu!" Bibirnya bergumam pelan, tapi mata kecil itu masih enggan terbuka.
"Salim! Ini Ibu, Nak!" ucap suara itu lagi mengulang panggilannya.
Salim yang mendengar dengan cepat membuka mata. Di bawah cahaya jingga dari senja ia melihat sosok Sumayah memakai jubah berdiri melambaikan tangan padanya.
"Ibu!" Sontak tubuhnya terbangun dan melempar selimut ke sembarang tempat. Ia berlari mendekati jendela membuka kuncinya dengan cepat.
Sumayah merangsek masuk dan berhambur merengkuh tubuh Salim.
"Salim, anak Ibu. Ibu selalu merindukan Salim, sehari saja Ibu tidak pernah tidak memikirkan Salim," ucap Sumayah terisak penuh haru saat dapat memeluk tubuh anaknya lagi.
Tangan kecil itu melingkar erat di leher Sumayah. Salim membenamkan wajah di pundak Sumayah. Isak tangisnya ikut membaur dengan suara lirih Sumayah.
"Ibu ... Ibu, kenapa Ibu lama sekali datangnya? Salim menunggu Ibu setiap hari," adu Salim semakin mengeratkan pelukan di leher Sumayah.
"Maafkan Ibu, sayang. Apa Salim baik-baik saja? Apa mereka menyakiti Salim?" tanya Sumayah seraya melepaskan pelukan dan memegangi kedua bahu anaknya.
Salim menggeleng pelan, ia kembali memeluk Sumayah tak ingin jauh darinya.
"Mereka mengurung Salim, Ibu. Laki-laki itu tidak pernah membiarkan Salim keluar dari kamar, dan wanita itu selalu melotot pada Salim. Dia ingin mencelakakan Salim, Ibu," lapor Salim kembali membenamkan wajah di pundak Sumayah.
"Maafkan Ibu, sayang. Maafkan Ibu karena datang terlambat," ucap Sumayah lagi sembari mengusap punggung Salim.
"Ibu, ayo kita pergi dari sini. Salim tidak ingin tinggal di sini, Salim ingin tinggal bersama Ibu," pinta Salim dengan nada bergetar.
__ADS_1
Sumayah mengangguk-anggukan kepalanya Memang tujuannya adalah membawa Salim kabur dari rumah Kevin.
"Tapi Ibu, bagaimana Ibu bisa masuk ke rumah ini?" tanya Salim lagi sembari melepas pelukannya.
Mereka saling menatap satu sama lain, pandangan Salim menuntut jawaban. Hanya saja, ketukan langkah di lantai yang kian mendekat membuat Sumayah tak memiliki waktu untuk menjawab.
"Kita pergi dulu, setelah itu Ibu akan menceritakannya pada Salim," ucap Sumayah tergesa.
Ia menggendong Salim dan membawanya keluar lewat jendela.
"Ibu, bagaimana cara kita turun?" tanya Salim lagi saat matanya melihat ke bawah.
"Kau tenang saja, Ibu bisa memanjat tentu bisa turun lagi, bukan?" ucapnya sembari tersenyum meyakinkan.
"Bagaimana penjagaan di luar? Apa kalian masih waspada?"
Suara Kevin terdengar hingga ke tempat Sumayah dan Salim. Ia tersentak, dan segera pergi dari tempat itu. Pergi ke ujung balkon dan membuka lantai di kamar Salim.
"Ibu?" Salim membulatkan mata tak percaya saat melihat jalan keluar dari lantai yang dibuka Sumayah. Tanpa ada yang tahu, terdapat sebuah tangga curam untuk dapat turun dari lantai tersebut. Tak banyak yang tahu bahkan Kevin sendiri lupa bahwa ada jalan rahasia tersembunyi di balkon kamar anaknya.
Sumayah tersenyum, dan membawa Salim menuruni anak tangga tersebut. Tepat setelah ia menutup lantai yang menjadi pintu itu, pintu kamar Salim terbuka dan suara Kevin yang memanggil Salim menggema dengan keras.
"Ibu!" Salim tersenyum saat tiba di ujung tangga. Mereka baru saja turun dengan jalan berbeda.
"Tuan, ada apa?" Para pengawalnya berhamburan ke kamar Salim dengan gegas.
"BODOH! Apa saja yang kalian lakukan? Aku memerintahkan kalian untuk jangan lengah, tapi lihat sekarang! Anakku hilang entah ke mana!" hardik Kevin dengan berang.
Para pengawal kelimpungan pasalnya, mereka telah menjalankan perintah Kevin sesuai yang dipintanya.
"Tuan Muda hilang? Tidak mungkin! Ini sungguh tidak masuk akal, Tuan. Kami telah berjaga di seluruh penjuru mansion dan tidak lengah sama sekali. Bagaimana mungkin Tuan Muda bisa hilang? Di bawah kamarnya bahkan telah berjaga sepuluh orang pilihan," sahut pemimpin mereka yang menggantikan posisi Juan.
Kevin semakin murka.
Prang!
Satu guci pecah berserakan saat Kevin melampiaskan amarahnya. Mereka berdiri dengan gelisah dan sedikit memundurkan tubuh khawatir terkena pecahan guci tersebut.
"Buktinya, anakku hilang sekarang! Siapa yang akan aku salahkan selain kalian. Sekarang, cepat cari anakku!" bentak Kevin lagi.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" Mereka berhambur membubarkan diri dari kamar Salim dan berpencar ke segala arah.
Sumayah masih berdiri di lorong. Jalan rahasia itu mengantarkannya pada ruang bawah tanah tempat Kevin menyimpan segala rahasianya. Ia terus membawa Salim pada pintu keluar ruangan tersebut.
Suara derap langkah terdengar banyak dan tergesa di atas mereka.
"Ibu!"
Sssstt!
Sumayah menempelkan jari telunjuknya ke bibir meminta Salim untuk tidak bertanya apa pun.
"Kita akan di sini sampai gelap datang," ucap Sumayah seraya duduk di lorong tersebut yang hanya terbuat dari tanah. Salim ikut duduk dan menyandarkan kepalanya pada pundak Sumayah.
"Ibu!" Ia yang merindukan pelukan Sumayah melingkarkan tangan di pinggang Ibunya. Terpejam saat merasakan kehangatan yang selama enam bulan ini ia damba dalam mimpi.
Sumayah menciumi kepala anaknya, rasa rindu tak terkira ia luapkan padanya. Selama enam bulan memulihkan diri dari kesakitan luar biasa yang mendera kepalanya, ia dapat bangkit dan menyusul Salim setelah beberapa hari memperhatikan sekitar mansion tempat tinggalnya dulu.
Kevin masih berada di kamar Salim, ia tak menyangka Salim akan pergi atau dibawa pergi.
"Sial!" teriaknya frustasi. Sia-sia sudah pendekatan yang dilakukannya selama enam bulan ini. Ternyata Salim masih mengharapkan Sumayah dan namanya tak pernah ada dalam hati anak itu.
Teringat sesuatu, ia bergegas menuju balkon memastikan di bawah kamar putranya orang-orang itu berjaga.
"Sial! Aku melupakannya?" Kevin menatap pohon pinus yang ditunjuk Salim.
"Yang dilihatnya tidak salah, dia sudah berada di dalam sini. Brengsek!" Ia terus mengumpat dengan kesal.
Pohon pinus itu adalah tempatnya merahasiakan segala sesuatu bersama Sumayah. Pantas jika Salim mengatakan Sumayah berdiri di sana dan menghilang secara misterius.
"Periksa jalan ini!" perintahnya pada orang yang masih berada di kamar Salim, "bongkar!" katanya lagi menunjuk lantai yang menjadi jalan Sumayah melarikan diri.
Lantai tersebut dibongkar dan terpampang-lah sebuah jalan rahasia yang tak terduga.
"Dia bersembunyi di dalam sana!" ucap Kevin meminta mereka untuk masuk ke dalam lorong tersebut.
Tiga orang di antara mereka bergegas turun dan berjalan dengan hati-hati karena tangga yang curam.
"Dia di sana!"
__ADS_1
******
Hayo buat lolos Sumayah dan Salim!