
Satu bulan berlalu sejak rumah Kevin kedatangan laki-laki misterius, rumah itu bagai dihuni binatang buas. Setiap hari pertengkaran dan perdebatan antara Kevin dan Priscilla menjadi hiburan bagi orang-orang di rumah itu. Semakin hari semakin memanas dan hawa di di dalam rumah itu pun meningkat drastis.
"Ibu kenapa mereka setiap hari berdebat?" tanya Salim yang menyaksikan keduanya dari lantai dua bersama Sumayah.
"Entahlah, biarkan saja. Mungkin mereka merasa paling benar sendiri," sahut Sumayah lagi ikut menyaksikan perdebatan sengit antara Kevin dan Priscilla.
Bugh!
Sebuah benda besar dilemparkan Kevin ke arah Priscilla. Teo menangis di sudut ia pun jadi pelampiasan kemarahan Kevin.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melempar semua barang-barang milikku?!" hardik Priscilla tidak terima. Matanya membulat sempurna, rahangnya mengeras, dan kedua tangan yang dikepalkan.
"Enyah kau dari rumahku! Jangan harap kau akan mendapatkan bagian dari hartaku. Pergi sekarang juga! Dan bawa serta anak harammu itu!" usir Kevin sembari menuding Teo yang berlari ke arah Priscilla. Menangis sambil memeluk kaki ibunya.
"Ibu, kenapa Ayah mengusir kita?"
"Aku bukan ayahmu! Ibumu itu seorang wanita murahan yang menjijikkan. Kau bukan anakku!" teriak Kevin dengan kuat.
Priscilla menitikan air mata mendengar cemoohan dari Kevin.
"Aku bukan wanita murahan-"
"Lalu, apa? Kau menikah denganku dan tidur dengan laki-laki lain. Lalu, kau mengandung anak bajingan itu dan meminta pertanggungjawaban dariku! Begitu? Pergi! Kau tak layak menangis di rumahku!" tegas Kevin. Amarahnya semakin memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Bukankah seharusnya kau yang pergi dari rumah ini, Kevin? Apa kau lupa, kertas yang kau tandatangani dulu saat kau tergila-gila padaku. Itu adalah surat pengalihan kekuasaan seluruh harta yang kau miliki. Hmm ...."
Kevin tercengang, ia ingat saat pertama kalinya bercinta dengan wanita itu ia diberikan selembar kertas yang entah apa isinya. Bodoh, dia tidak membacanya dengan baik.
Hanya saja, Priscilla tak dapat melakukan apa pun karena kehadiran Juan di sisi Kevin. Sekarang, Juan sudah tidak ada Kevin pun tak bisa diharapkan lagi.
"A-apa maksudmu?!" Kevin menyerang Priscila mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan wanita itu.
"Ibu!" Teo berteriak histeris. Anak itu menangis semakin menjadi.
"Yang dikatakan Priscilla benar adanya. Kau sudah bukan pemilik rumah ini, Tuan Kevin Aji Negoro." Sebuah suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar membuat Kevin seketika menoleh.
"Kau!" Terkejut bukan main. Kevin berlari ke arahnya dan memberinya beberapa pukulan di wajah.
__ADS_1
"Kau pengkhianat! Kalian berdua pengkhianat!" geramnya tanpa henti memukuli laki-laki yang baru saja datang.
"Rai!" gumam Sumayah saat mengenali laki-laki yang baru saja masuk. Ia tersenyum. "Saatnya pertunjukan!" lanjutnya bergumam. Ia menunduk saat Salim mendongak ke arahnya. Keduanya tersenyum menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung di lantai dasar mansion tersebut.
"Kevin! Hentikan, kau bisa membunuhnya!" cegah Priscilla mencoba melerai kedua laki-laki yang sedang bergulat sengit.
"Argh!"
Bugh!
"Aw!"
Priscilla yang terkena pukulan jatuh terjerembab hingga menabrak pilar rumah besar itu.
"Sial!" Rai bangkit, membalas pukulan Kevin sama sengitnya.
"Ibu!" Teo menghampiri Priscilla yang masih meringis memegangi punggungnya.
"Teo!" Anak itu memeluk ibunya. Ia ikut menangis. Kevin dan Rai masih bergulat sengit. Para pengawalnya tak bisa melerai keduanya. Mereka berbaris menonton mengelilingi.
"Kevin! Rai! Hentikan! Siapa saja tolong buat mereka berhenti. Mereka bisa saling membunuh!" pinta Priscilla memandangi satu per satu pengawal Kevin yang berbasis di sana.
Tak ada harapan, Priscilla kembali bangkit mendekati dan mencoba memisahkan keduanya.
"Hentikan! Apa kalian tidak tahu malu!" teriaknya.
Bugh!
Satu hantaman tangan mengenai ulu hati Rai. Ia terpental hingga menabrak dinding kokoh rumah besar itu.
"Rai!" Priscilla berlari mendekati. Ia membantu Rai untuk duduk bersandar di dinding.
"Kalian makhluk tak tahu malu, tak tahu balas budi. Aku memungut kalian dari tempat sampah dan menjadikan kalian manusia, tapi sampah tetaplah sampah. Kalian berdua tidak layak berada di rumah ini, kertas apa pun itu aku tidak peduli. Ini rumahku, tidak ada siapa pun yang bisa mengusir aku dari rumahku sendiri!" ucap Kevin dengan dada yang naik-turun dan napas yang bergemuruh.
"Kau sudah menandatangani surat pengalihan itu, Kevin. Lebih baik kau yang angkat kaki dari rumah ini dan aku tidak mengizinkanmu untuk membawa apa pun dari dalam sini karena semua yang ada di sini adalah milikku!" Priscilla tidak mau kalah.
Rai tertawa dengan bibir yang berdarah. Ia berhasil mengelabui Kevin. Priscilla bekerjasama dengannya untuk menghancurkan Kevin.
__ADS_1
"Kau!"
"Sudahlah, Kevin! Tidak ada gunanya lagi kau membela diri, semua yang tertulis di kertas itu jelas atas namamu dan namanya. Kau bahkan tak segan membubuhkan tandatangan di atas materai," lanjut Rai tertawa lebih keras hingga membuatnya terbatuk-batuk.
"Dan untuk kalian! Mulai sekarang, akulah Tuan kalian bukan Kevin!" ucap Rai menunjuk para pengawal yang menatap tak percaya.
Kedua tangan Kevin mengepal.
"Menarik? Tapi kenapa aku tidak puas rasanya," gumam Sumayah sembari memangku dagu dengan tangan pada pembatas lantai.
"Ibu, boleh aku berdiri?" tanya Salim ingin melihat dengan jelas apa yang terjadi.
"Berdirilah, sayang. Kita tidak perlu sembunyi lagi," ucap Sumayah. Salim berdiri dan ikut melihat bagaimana Kevin ditindas tanpa ada yang menolongnya.
"Tu-tuan Muda!"
Baik Sumayah mau pun Salim, sama-sama tersentak kaget saat sebuah suara terdengar dari belakang mereka. Keduanya menoleh dan mendapati kepala pelayan yang menatap tak percaya.
"Nyo-nyonya, apakah Anda Nyonya Maya?" tanyanya lagi melempar tatapan pada Sumayah.
Sumayah menghela napas, ia tertawa kecil sebelum berucap, "Sepertinya memang sudah saatnya aku membongkar identitasku. Kau benar, Ibu. Aku adalah Sumayah, apa kau masih setia padaku? Atau kau sudah berpaling pada wanita itu?" Sumayah melirik ke lantai bawah sejenak.
"Saya tidak berani, Nyonya. Saya sudah bersumpah untuk tetap berada di sisi Anda pada mendiang Tuan dan Nyonya besar dahulu. Untuk itu saya bertahan di sini menunggu Anda kembali," ucapnya membungkukkan tubuh dengan hormat.
"Terima kasih, Ibu. Kau masih memegang janjimu," tutur Sumayah mengulas senyum tulus pada kepala pelayan di rumahnya.
"Tuan Muda!"
"Terima kasih, Nenek. Selama ini Nenek selalu melindungi aku dari kejahatan mereka, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja tidak ada Nenek di sisiku," ungkap Salim dengan tulus pula.
"Tidak masalah, Tuan Muda. Itu memang sudah tugas Anda, tapi kenapa Nyonya menyembunyikan diri dari saya?" tanyanya ingin tahu.
"Maaf, Bu karena saya tidak mempercayai siapa pun lagi selain diri saya sendiri," jawab Sumayah.
Obrolan mereka berhenti tatkala suara gaduh kembali terdengar membahana di lantai bawah.
"Kalian harus mati!" teriak Kevin mengambil sebilah golok yang terpasang di tembok.
__ADS_1
"Hentikan semuanya!"
"Ju-juan!"