Sumayah

Sumayah
Kecurigaan Salim


__ADS_3

"Bukan! Dia bukan Juan!" tolak Kevin setelah memperhatikan lebih lama sosok berjubah dengan Hoodie yang menutupi wajah. Ia berdiri di belakang pohon asam yang tumbuh tinggi menjulang tak jauh dari mansion. Dari pohon itu, si penguntit dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar mansion.


Tempatnya yang lebih tinggi dari mansion Kevin membuatnya leluasa melakukan pengintaian. Ia terlihat berdiri di sana, tapi tak terlihat ke mana dia pergi. Misterius!


"Perbesar!" perintah Kevin pada orang yang duduk di depan layar. Gambar tersebut diperbesar hingga terlihat detailnya, sayang sosoknya masih tidak dapat dikenali.


"Berhenti di sana!" pinta Kevin lagi saat perbesaran itu mencapai wajah si penguntit. Tak terlihat apa pun dari wajahnya kecuali kedua mata yang bersinar penuh dendam dan benci.


Ditelisiknya bola mata itu, Kevin terhenyak saat melihatnya tiba-tiba menyipit. Mata itu terpaku padanya, seolah-olah mereka sedang bersitatap dalam jarak yang dekat. Ia termundur tak percaya.


"Maya?" gumamnya pelan dengan wajah yang beriak gelisah. Pancaran kedua mata itu mengandung ancaman yang tidak main-main. Dendam yang diperlihatkan dari manik bercahaya menancap di hati Kevin.


Ketiga orang yang berada satu ruang dengannya, segera menoleh pada Kevin. Mereka tidak percaya bahwa yang berdiri di sana adalah Sumayah.


"Tu-tuan? Apa maksud Tuan yang di sana itu Nyonya? Tidak mungkin!" tanya salah satunya menolak pendapat Kevin dengan ragu. Pasalnya, yang mereka dengar adalah Sumayah sedang sekarat saat mereka tinggalkan. Mustahil nyawanya selamat, dia pasti sudah mati.


"Aku bisa mengenalinya hanya dari sorot matanya saja. Dia Maya, dia belum mati. Mungkin ada orang yang menyelamatkannya. Terus awasi, jangan sampai lengah!" perintah Kevin lagi sembari merapatkan kedua rahangnya dengan erat.


"Perketat keamanan mansion, jangan biarkan wanita itu memasukinya walah hanya satu langkah saja!" perintah lanjutan darinya sebelum meninggalkan ruang kendali dan memberi perintah pada yang lain.


Ia menuruni lantai tiga dengan tergesa. Mengumpulkan semua pengawal untuk berjaga di sekitar mansion.


"Perketat penjagaan di sekitar mansion terutama jalan rahasia! Jangan sampai lengah karena dia sudah ada di sini. Tambah penjagaan di kamar putraku juga!" perintah Kevin dengan serius.


"Tuan, apa maksud Anda-"


"Yah ... dia di sini. Dia masih hidup, kalian salah memprediksi. Dia tidak mati!" sahut Kevin seraya membawa langkah dengan gegas ke kamar Salim.


Semua pengawal yang dulu menyaksikan bagaimana Sumayah sekarat terbengong tak percaya. Desas-desus pun tak terelakkan hingga sampai ke telinga Priscilla yang menambah kebencian dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi, dia masih hidup?" tanya Priscilla sesaat setelah mendengar laporan dari pengawalnya.


"Benar, Nyonya. Dari yang saya dengar begitu. Tuan bahkan memperketat penjagaan di sekitar mansion. Kita harus waspada, Nyonya," ucapnya lagi dengan serius.


Priscilla memicing, maniknya yang kebiruan memancar penuh benci dan dengki.


"Tetap waspada, jangan pernah lengah apa lagi sampai dia menyelinap masuk ke dalam mansion," perintah Priscilla lengkap dengan wajahnya yang penuh dengan tipu muslihat.


"Baik, Nyonya!" sahut mereka seraya kembali ke tempat masing-masing dengan waspada. Priscilla duduk di dekat jendela menemani anaknya yang sedang bermain setelah bermuram durja untuk waktu yang tidak sebentar.


Sementara Kevin, ia memasuki kamar Salim dengan pelan. Anak itu bukannya tidur, tapi ia berdiri di dekat jendela menatap lurus ke depan.


"Salim?" tegur Kevin seraya mendekati Salim.


"Ayah, kenapa orang-orang yang berjaga jadi lebih banyak? Ada apa?" tanya Salim tanpa mengalihkan pandangan dari menatap orang-orang Kevin di luar kediamannya.


Kevin memegangi kedua bahu Salim, ia mendekatkan wajah ke telinga anak itu untuk memberitahu sesuatu.


"Benarkah?" tanyanya.


"Tentu saja!"


"Aku melihat Ibu berdiri di sana! Kenapa Ibu tidak langsung masuk saja ke rumah, Ayah? Apa Ibu takut karena orang-orang Ayah berjaga di sekitar rumah?" selidik Salim mulai curiga pada gelagat semua orang di rumah itu.


"Benarkah? Di mana kau melihatnya?" Kevin yang terkejut masih bisa mengendalikan keterkejutannya saat mendengar ucapan Salim. Mata tajam anak itu tidak mudah ditipu.


Jari telunjuk anak itu mengarah pada sebuah pohon pinus yang tumbuh di halaman rumah.


"Di sana! Di pohon itu Ibu berdiri dan tersenyum padaku, tapi sekarang sudah tidak di sana lagi," jawab Salim kembali menurunkan tangannya yang terangkat.

__ADS_1


Tidak mungkin! Mungkin Salim hanya salah melihat, dia hanya berhalusinasi karena sangat ingin bertemu dengannya. Yah ... seperti itu.


"Mungkin kau salah lihat, Salim karena orang-orang Ayah yang berjaga di sana tidak ada yang mengatakan apa pun tentang itu. Itu pasti karena kau sangat ingin bertemu dengan Ibumu hingga kau berkhayal melihatnya. Sebaiknya, kau istirahat bisa jadi karena tubuhmu terlalu lelah," ucap Kevin melembutkan suaranya meski gugup melanda hatinya.


Ia menggiring Salim menuju peraduan, membantunya merebahkan diri untuk beristirahat.


"Ayah, Ibu bilang kita tidak boleh tidur saat sore hari. Itu bisa membuat kita pikun seperti orang tua dan bahkan lupa waktu seperti orang gila," sergah Salim setelah Kevin membantu menyelimuti tubuhnya.


Kevin membatu mendengarnya. Hal itu pun membawanya pada ingatan masa lalu saat Sumayah selalu memberi peringatan padanya tentang larangan tidur saat sore hari.


"Ayah?" Kevin segera mengembalikan kesadarannya dan menatap Salim sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, jangan tidur cukup berbaring saja untuk mengistirahatkan tubuhmu," ucap Kevin. Kali ini Salim yang membatu. Terngiang di telinganya apa yang diucapkan Kevin sama persis seperti yang diucapkan Sumayah.


Ia tersenyum menatap Kevin, "Ibu pun selalu mengatakan itu," katanya. Kevin tersenyum getir. Memang Sumayah selalu mengatakan itu padanya dulu.


"Ya sudah, Ayah harus memeriksa laporan kantor. Salim istirahat saja, ya," katanya.


Salim mengangguk tanpa membantah. Kevin beranjak meninggalkannya setelah memberikan satu kecupan di dahi anak itu.


"Kau berbohong padaku, Kevin! Jelas-jelas aku melihat Ibuku di sana. Kau tidak mencarinya. Kau masih ingin membunuhnya dan memisahkan aku dengan Ibuku. Lihat saja! Aku akan mencari kesempatan untuk pergi dari rumah ini," kecam Salim sembari menatap pintu yang tertutup dengan pelan.


Yah ... gelagat Salim dan semua orang yang ada di kediaman itu membuatnya curiga. Otaknya bekerja dengan cepat mencari sebab dari tingkah laku semua orang di rumah itu. Dan tebakannya tepat, mereka mencegah Sumayah agar tidak menyelinap masuk ke rumah itu.


"Ternyata kau seorang pembual, Kevin. Hanya janji manis saja yang ucapkan, aku tidak akan pernah mempercayaimu lagi," ancam Salim memalingkan wajah pada jendela yang terbuka lebar.


Tok ... tok ... tok!


"Salim!"

__ADS_1


"Ibu!"


__ADS_2