Sumayah

Sumayah
Siapa Yang Datang


__ADS_3

Uang, harta, kedudukan, kemewahan, selalu menjadi ujian yang berat bagi setiap manusia. Tak jarang orang yang langsung tergiur dan hanyut dalam gelimangnya. Tidak sedikit orang yang rela melakukan segala macam cara demi mendapatkannya. Mereka bahkan rela menukar harga diri untuk bisa menikmatinya.


Kevin jarang menyapa Salim karena permasalahan kantor yang sedang dihadapinya. Kekacauan demi kekacauan mulai terjadi. Ia kalah bersaing dengan perusahaan baru yang dirintis oleh seseorang. Orang itu bahkan tak segan-segan menerima para investor di perusahaan Kevin yang mencabut saham mereka karena Kevin di ambang kehancuran.


"Sial! Awas saja kalian! Aku tidak akan memaafkan kalian" ancam Kevin sembari mengepalkan tangan dengan erat saat mendapat laporan dari anak buahnya.


"Sepertinya Tuan Juan sakit hati karena terusir dari tugasnya, dan dia ingin membalas dendam kepada Anda, Tuan," lapor asisten baru Kevin sembari menunjukkan sebuah rekaman video. Juan yang sedang mengadakan pertemuan di sebuah cafe. Melihat itu Kevin semakin murka dibuatnya.


"Jalankan rencananya, pancing dia! Bunuh semua keluarganya!" titah Kevin lagi dengan api amarah yang menjilat-jilat.


"Baik, Tuan!"


"Lihat saja, Juan! Kau sudah berani bermain-main denganku. Aku tidak akan mengampunimu!" ancam Kevin lagi.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk ke aplikasi pesan milik Kevin. Nomor asing yang tak dikenalnya. Ia menggeser untuk membuka pesan. Matanya membulat saat membaca pesan tersebut.


Semua keluarga Juan telah kau bantai habis, Kevin. Siapa lagi yang ingin kau habisi?


"Tidak mungkin!" tolak Kevin. Ia buru-buru menghubungi nomor tersebut, tapi di luar jangkauan.


"Argh! Sial!" Kevin melempar semua yang ada di meja kerjanya. Kedua tangannya mengepal di atas meja dengan hembusan napas berat yang membuat sesak dadanya.


"Siapa yang telah melakukan itu! Brengsek!" umpatnya. Kevin menyugar rambutnya lelah. Ia jatuhkan kepala pada tiang jendela menatap hilir mudik kendaraan di jalan besar depan kantornya.


"Siapa yang telah membantai keluarganya? Apakah Priscilla? Mungkin dia," gumam Kevin lagi berpikir dalam mencari tahu siapa yang telah melakukan itu dan mendahului dia.


Lelah fisik juga pikiran yang dirasakan Kevin, ia sungguh tak bisa beristirahat sejak permasalahan dimulai. Kevin memutuskan untuk kembali ke mansion dan menenangkan diri sejenak.


Semua karyawan telah pulang kecuali mereka yang lembur karena tambahan pekerjaan. Kevin gegas menaiki mobilnya dan menginjak pedal gas menuju rumah.


Tanpa menunggu apa pun ia bergegas memasuki rumah, membanting diri di atas sofa ruang tamu. Gurat di wajahnya terlihat lelah. Ia memejamkan mata sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang remuk redam. Suara gelak tawa Salim dan Sumayah sama sekali tak mengusik dirinya hingga sapuan lembut dirasakannya pada bagian lengan.


Kevin membuka mata dan mendapati Priscilla yang duduk di sampingnya. Tatapannya mengancam saat teringat laporan dari anak buahnya.

__ADS_1


"Apa kau yang membantai keluarga Juan?" tanya Kevin dengan kedua bola mata yang membesar hampir melompat.


Mata biru di hadapannya bergerak ke kanan dan kiri ikut menatap pada biji manik hitam milik Kevin.


"Ya ... memang aku yang melakukannya-"


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kevin lagi dengan kedua rahang yang mengeras.


Priscilla bersikap tenang, ia membuang pandangan dari Kevin dan menatap ke arah lain.


"Bukan tanpa alasan aku melakukan itu, Kevin. Para pengawalku mengatakan beberapa kali menjumpai Juan di sekitar mansion. Apa lagi kalau bukan ingin memata-matai?" terang Priscilla dengan berani.


"Kau yakin laporan mereka itu benar?" Kevin ikut berpaling kembali menyandarkan tubuh pada kursi.


"Aku yakin karena mereka aku perintahkan untuk berjaga di tempat-tempat yang tidak umum," katanya lagi. Keduanya terlibat obrolan serius saling membicarakan rencana apa yang akan mereka jalankan selanjutnya.


Ting tong!


Bel rumah berbunyi, kebetulan Sumayah yang sedang bersama Salim hendak kembali ke kamar.


Tak lama ia kembali masuk dan menemui Kevin yang sedang duduk di ruang tamu bersama Priscilla.


"Maaf, Tuan, Nyonya!" Suara Sumayah menyentak keduanya. Saking seriusnya obrolan mereka hingga bel rumah berbunyi pun tak terdengar.


"Ada apa?" ketus Priscilla yang merasa terganggu dengan kedatangannya.


"Di luar ada seseorang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya juga Tuan Muda Teo," sahut Sumayah sopan.


Priscilla dan Kevin saling memandang satu sama lain dengan bingung.


"Kau sedang menunggu tamu?" Kevin bertanya tak suka.


Priscilla menggeleng cepat, "Tidak, aku tidak sedang menunggu siapa pun. Mungkin kau salah mendengar," ucap Priscilla melempar pandangan pada Sumayah setelah memandang Kevin.


"Maafkan saya, Nyonya. Dia mengatakannya dengan jelas bahwa dia ingin bertemu dengan Anda," jawab Sumayah lagi.

__ADS_1


Priscilla beranjak diikuti Kevin yang mengekor. Ia ingin tahu siapa yang datang dan ingin menemui Priscilla.


"Siapa?" Priscilla terlonjak kaget hingga saat tubuhnya melompat mundur ia menabrak Kevin yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Ada apa? Memangnya siapa yang datang?" tanya Kevin sembari menangkap tubuh Priscilla yang hampir jatuh.


Buru-buru wanita itu menutup pintu dan berdiri di depannya. Sumayah memperhatikan dari jauh bersama Salim.


"Tidak! Bukan siapa-siapa, sudah jangan pedulikan!" ucap Priscilla gugup. Keringat kasar mengucur di wajahnya. Ada apa?


Brak ... brak ... brak!


Dari luar pintu digedor-gedor orang tersebut. Ia bahkan berteriak kencang memanggil-manggil nama Priscilla.


"Cilla ... Cilla! Buka pintunya, sayang. Aku ingin bertemu dengan anakku, aku ingin melihatnya!" teriak orang itu dengan sangat keras.


Priscilla memejamkan mata, menggeleng sambil menggigit bibirnya saat suara itu menggema di dalam rumah.


Sumayah tersenyum, inilah yang dinantinya. Terkuaknya kebusukan Priscilla satu demi satu. Ini baru permulaan, lihat ke depannya apa yang akan terjadi pada kalian.


Sumayah tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya menonton bersama Salim.


"A-apa maksudnya? Anak siapa yang dia maksud? Apakah Teo anaknya? Katakan, Priscilla!" geram Kevin. Wajahnya kembali terlihat murka merah menyala menatap Priscilla yang sudah menangis.


"Tidak, Kevin! Bukan! Aku tidak tahu siapa dia, aku tidak tahu," sergah Priscilla menangis histeris. Ia masih berdiri di depan pintu menghalangi Kevin agar tidak membukanya.


"Menyingkir dari pintu itu, Priscilla! Biarkan dia masuk dan menjelaskan semuanya," titah Kevin dengan geram.


"Tidak! Jangan, Kevin!" mohon Priscilla. Kevin yang berang menarik tubuh wanita itu dan menjauhkannya dari pintu.


Ia membuka pintu tersebut dengan cepat, tapi laki-laki yang dimaksud sudah tak lagi di sana. Kevin keluar mencari ke segala arah di mana laki-laki itu berada. Pintu gerbang tinggi itu bahkan terkunci seolah tak ada siapa pun yang datang ke rumahnya.


"Tidak mungkin! Ke mana perginya laki-laki itu?" gumamnya masih terus mencari ke mana laki-laki tadi.


"Sial!"

__ADS_1


__ADS_2