Sumayah

Sumayah
Keputusan Terberat


__ADS_3

Hari ke hari dilalui dua orang dengan kegelisahan. Bagaimana tidak? Keduanya menunggu hasil tes setelah melakukan konsultasi dengan seorang dokter kandungan. Perlu menunggu dua Minggu lamanya sampai hasil tes itu diumumkan.


"Tuan, pertimbangkan lagi keputusan Anda untuk menikahi Nona? Saya sangat mengenal Anda. Bagaimana pun usaha Anda dalam menyembunyikan semua, saya tahu Nyonya masih bertakhta di hati Anda, Tuan," pinta Juan sesaat setelah memindai raut wajah tuannya.


Kevin merenungkan apa yang baru saja diucapkan Juan. Ia tak menampik sama sekali kalau di hatinya nama Sumayah memang masih bersemayam. Sosoknya bahkan tak bisa hengkang dari pikiran, membuat Kevin dibuai penyesalan. Namun, lagi-lagi ego dan kebencian menepis semua yang ia rasakan. Membuang jauh-jauh nama wanita yang dulu menjadi idaman. Oh ... ke manakah perginya cinta yang dulu menawan? Hilang bersama dengan asa yang membungbung melintasi awan.


"Apa yang harus aku lakukan, Juan? Dia sedang mengandung anakku, aku tidak bisa menyakitinya dengan membiarkan anak itu lahir tanpa seorang Ayah. Katakan, Juan! Bagaimana jika kau yang menjadi aku?" tutur Kevin dengan pandangan sendu.


Juan bergeming pada hati dan pikirannya. Menimbang semua masalah yang akhir-akhir ini menimpa. Kevin sudah tidak seperti biasanya. Terkadang laki-laki itu tidak dapat menahan amarah dalam dadanya.


Tidak tahu apa yang harus dikatakan, Juan lebih memilih bungkam. Berulangkali ia mengatakan bahwa Priscilla tidaklah selemah yang dia perlihatkan. Dia wanita licik seperti ular berbisa. Rubah bermuka dua yang pandai memainkan rasa. Membuat Kevin sulit membedakan yang ia adalah penjahat sesungguhnya. Bukan tak bisa, tapi terlanjur cinta buta.


"Bukankah kalian sudah bertaruh? Aku hanya perlu menunggu hasil tes itu, bukan? Jika hasil tes itu memihak padamu, maka aku tidak perlu menikahinya. Dia sendiri yang mengatakan bahwa dia akan angkat kaki dari mansion, tapi jika hasil tes itu memihak padanya ... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ke depannya? Apakah aku siap untuk melepasmu, Juan? Apakah aku bisa jauh darimu? Itu yang menjadi pikiranku saat ini, bukan tentang pernikahan itu," sahut Kevin.


Pada asistennya itu segala perasaan ia tumpahkan. Kesedihan, kebahagiaan, penderitaan, semua yang ada dalam hatinya pada Juan ia luapkan.


Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu kembali bungkam seribu bahasa. Lidahnya kelu tak dapat berkata-kata. Sungguh ia tak pernah menduga, kalau dia begitu amat berharga.


"Semua itu sudah diputuskan di awal cerita, Tuan. Saya sangat yakin dengan apa yang saya katakan, tapi saya tidak tahu akan ada kecurangan apa sehingga membuat saya harus meninggalkan Tuan. Kita lihat saja, Tuan. Apa pun hasilnya saya akan menerimanya dengan lapang dada," tutur Juan.


Senyum yang tak pernah ia tampakkan, kini terlihat indah menawan. Menambah wibawa pada sosoknya yang rupawan. Dia laki-laki kedua setelah Kevin yang menjadi idaman.

__ADS_1


Kevin memutuskan pandangan, berpaling pada apa pun untuk mengurai kesedihan. Air yang ia tahan, jangan sampai lolos menjadi tangisan. Dihirupnya udara dalam-dalam dan dihembuskannya secara perlahan. Berangsur-angsur dan pasti perasaannya mulai mendapatkan ketenangan.


Kevin berbalik pandangannya berpijak pada biji manik coklat milik Juan. Hangat dan terasa menenangkan. Baginya, Juan bukan hanya sekedar kawan atau seorang kaki tangan. Dia lebih itu, sosoknya bagai Ayah yang mendekap memberi kehangatan. Bagaimana bisa Kevin akan kehilangan orang seperti Juan? Membayangkannya saja ia tidak sanggup menahan.


"Jangan pernah meninggalkan aku, Juan! Aku tidak bisa melakukan apa pun tanpa kau di sisiku. Tetaplah di dekatku dan temani aku yang rapuh," pinta Kevin lewat nada bergetar lirih. Ia tunjukan dirinya yang ringkih. Hati yang terbalut luka semakin perih. Membuatnya tak dapat menahan letih.


"Tidak akan, Tuan! Sekali pun Anda membenci saya ... saya akan tetap menjadi bayangan Anda ke mana pun Anda pergi," sahut Juan tegas dan yakin terdengar.


Senyum Kevin mencuat ke permukaan, betapa hatinya merasakan ketenangan. Kata-kata Juan terdengar seperti sumpah kesetiaan. Ia memang manusia yang paling bisa diandalkan.


"Kemarilah, Juan! Aku ingin memelukmu."


Kevin membentang tangan menyambut dalam dekapan. Rasa hangat bergelenyar mengalir hingga menyentuh perasaan. Ini yang Kevin inginkan. Dekapan hangat seperti ini yang ia rindukan. Pernah ia juga merasakan hangatnya sebuah pelukan. Sayang, pemiliknya kini telah pergi meninggalkan, dan itu semua hanya karena kesalahpahaman.


"Tinggallah malam ini, jangan pergi ke mana pun!" pinta Kevin menepuk-nepuk punggung Juan dengan pelan.


Juan hanya menunduk sebagai jawaban, sementara kata tidak mewakili ucapan. Biarlah malam ini ia habiskan bersama Kevin yang sedang kesepian. Bercengkrama tentang kenangan yang mampu menghilangkan sedikit kesedihan.


Hari berganti hari, Minggu pun berlalu dengan cepat. Dua Minggu sudah terlewat. Saatnya mendengar hasil keputusan dari tes yang telah ditulis sepakat.


Juan, Kevin, Priscilla, dan beberapa pengawal turut hadir ingin tahu hasil dari tes yang telah dilakukan. Juan melirik semua orang yang menegang dalam lamunan. Bola matanya berakhir pada sosok Priscilla yang terlihat tenang. Cukup lama mereka beradu pandang, sorot mata wanita itu tajam menantang.

__ADS_1


Satu sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyum yang menjengkelkan di mata Juan. Namun, ia tetap tenang apa pun hasilnya ... Juan tetap akan menjadi Juan.


Ketukan sepatu pada lantai terdengar mendekati. Laki-laki berseragam putih datang menghampiri. Dengan langkah yang perlahan ia membawa dua amplop di tangan. Sontak menjadi pusat perhatian. Ia berdiri di depan semua orang menjatuhkan tatapan yang tidak meyakinkan.


"Dokter, apa itu hasil tesnya?" Kevin menyambar dengan cepat.


"Benar, Tuan. Silahkan, Anda bisa membacanya sendiri," ucapnya seraya memberikan satu amplop pada Kevin. Sedang yang satunya diberikan pada Juan.


Kevin terburu membuka segel amplop tersebut. Masih utuh dan belum tersentuh. Matanya berputar menatap sederet angka dan huruf juga kode-kode yang hanya bisa dimengerti oleh mereka saja. Kevin telah menduga ini semua, ia melirik Juan yang terlihat bingung dengan kerutan di dahinya.


"Juan?" panggil Kevin yang tak dapat sahutan dari asistennya tersebut.


"Kevin, bacakan untukku bagaimana hasilnya?" tanya Priscilla yang sedari tadi hanya diam menunggu hasil dari tes.


"DNA kami cocok, itu artinya anak dalam kandungannya apa itu anakku?" tanya Kevin kepada dokter yang memberikan hasil tes tadi.


"Benar, Tuan. Sesuai dengan hasil penelitian kami menunjukan bahwa DNA Anda cocok dengan janin yang ada dalam kandungan Nona," jawab dokter. Tersenyum si wanita rubah.


Lemas sudah seluruh sendi dalam tubuh Juan, ia tidak bisa menerima kenyataan.


"Ada kecurangan di sini! Saya yakin kalian telah salah atau memang disengaja karena ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Ingat, Dokter! Kalian telah disumpah hidup dan mati untuk berbuat jujur!"

__ADS_1


******


Hallo jumpa lagi. Maaf ya lama ga update. Terimakasih sudah menunggu. Habis semedi cari Ilham 🤭. Selamat membaca! Jangan lupa tulis sesuatu di kolom komentar, ya! Ayo, nanti ramaikan novelku biar aku tetap semangat.


__ADS_2