Sumayah

Sumayah
Janji Kevin


__ADS_3

Janji ... saat kau terlanjur mengucapkannya maka, ia haruslah dipenuhi. Jika kerbau dipegang talinya maka, manusia dipegang ucapannya.


Di ruangan serba putih, terbaring seorang anak yang masih betah mengelana di alam bawah sadarnya. Ia yang tiada berdaya tak mampu bergerak walau hanya satu jari saja.


Di sofa masih di ruangan yang sama, duduk seorang laki-laki dewasa dengan gelisah. Penampilan yang berantakan, kusut dan kuyu. Rambut aut-autan tak terawat. Lingkaran hitam membentuk di matanya yang sembab. Gurat penyesalan jelas nampak di setiap urat wajahnya.


"Tuan Muda mengalami dehidrasi hebat, Tuan. Apakah Tuan Muda tidak makan dengan baik selama beberapa hari ini?" Pernyataan sekaligus pertanyaan dari dokter kemarin sungguh membuat hatinya terpukul.


Ia bungkam tak mampu menjawab sang Dokter.


"Beruntung, Tuan Muda cepat dibawa ke Rumah Sakit, jika tidak saya tidak tahu apa yang akan terjadi padanya." Suara dokter itu kembali mengiang di telinga. Rasanya baru beberapa detik lalu ia bicara.


"Maafkan Ayah, Salim!" Kevin yang semakin frustasi meraup wajahnya kasar. Air mata menetes kembali saat ia mengalihkan pandangan pada ranjang pesakitan di sampingnya.


"Apa yang harus Ayah lakukan? Ayah tidak bisa mengembalikanmu padanya, Ayah tidak ingin kehilanganmu lagi. Tolong, bangunlah, Nak! Kita bisa bicara," ucap Kevin penuh harap.


Ia beranjak mendekati ranjang Salim, menggenggam jemari lemah anaknya dan menciuminya. Tangan kanannya mengusap rambut Salim dan dikecupnya pula dahi anak itu.


Sungguh ... betapa Kevin sangat menyayangi Salim! Ia tidak tega melihat kondisi anaknya yang tak berdaya, tapi mengembalikannya pada Sumayah ia pun tak ingin melakukannya. Rasa benci dan dendam benar-benar telah menancap di hatinya.


"Jika kau Ayahku, seharusnya kau membelanya."


Kata-kata Salim kembali mengiang bagai ribuan lalat yang menyerang gendang telinganya. Berdengung tiada henti.


"Jika kau memang mencintainya, seharusnya kau mempercayainya."


Kembali kalimat sarkas itu mengetuk-ngetuk indera rungunya. Membuat pikiran Kevin dipenuhi kata-kata Salim yang menohok jantungnya.


"Kau benar, Nak. Seharusnya aku membelanya, seharusnya aku mempercayainya. Akan tetapi, apa kau tahu? Semua bukti mengarah padanya dan dia sama sekali tidak dapat membela dirinya. Ibumu telah mengkhianati pernikahan kami, Salim. Kau harus tahu itu, Nak."


Kevin menciumi tangan Salim. Berharap anak itu akan segera membuka mata dan melihatnya sebagai Ayah.


"Ibu!" gumam Salim lemah.


Kelopak kecil itu berkedut, Kevin terperanjat. Ia berdiri dan segera menekan tombol panggilan.


"Salim! Sayang, ini Ayah, Nak!" ucapnya dengan rasa bahagia yang tak terkira.

__ADS_1


"Ibu! Jangan mati!" Salim kembali bergumam memanggil Sumayah.


Sungguh sakit hati Kevin karena tetap Sumayah yang ada di hati anak itu.


"Ibu! Bangun dan jemput Salim!" Suara lemah itu semakin menghantam hati Kevin. Namun, untuk saat ini ia harus mengesampingkan egonya. Kepulihan Salim itulah yang lebih penting untuk saat ini.


"Salim! Ini Ayah, buka matamu!" ucap Kevin lagi berharap Salim akan mengenalinya.


"Permisi, Tuan! Kami akan memeriksa Tuan Muda!" izin dokter yang datang bersama timnya.


Kevin menyingkir memberi ruang pada tim medis untuk memeriksa keadaan Salim. Ia menunggu dengan cemas, terpikir olehnya tentang Juan yang ia butuhkan kehadirannya saat ini. Benar apa yang dikatakan mantan asistennya itu, saat ia sedang membutuhkan seseorang tak satu pun yang datang membantu. Ia sendirian sekarang.


"Bagaimana, Dokter?" kejar Kevin begitu dokter selesai memeriksa.


"Kondisi Tuan Muda sudah stabil, sebaiknya buat hatinya bahagia, Tuan karena itu akan mempercepat pemulihannya," saran dokter sembari tersenyum lega.


Kevin mendekati Salim setelah tim medis meninggalkan ruangan anaknya. Mata kecil itu telah terbuka meski berpaling darinya. Salim masih enggan bertatapan dengan Kevin.


"Salim-"


"Jangan bicara padaku!" tukas Salim dengan cepat ia menggelung selimut hingga menutupi wajahnya.


"Salim, bisa kita bicara? Ayah akan mendengarkan apa yang Salim ingin katakan. Bisakah?" pinta Kevin dengan tangan mengudara hendak menyentuh tubuh Salim di dalam selimut. Namun, urung ia lakukan.


Hening. Tak ada sahutan dari balik selimut. Salim masih menutup rapat mulutnya tak ingin bicara dengan Kevin.


"Salim, ayo kita bicara, Nak! Apa yang ingin Salim katakan akan Ayah dengarkan. Kita bisa bicara dari hati ke hati, bukan?" pinta Kevin lagi tidak menyerah.


Juan, aku sungguh membutuhkanmu sekarang.


Berharap Juan berada di sisinya dan membantunya untuk memenangkan hati Salim.


Masih sama, Salim belum membuka mulutnya. Kevin berpikir bagaimana caranya membujuk Salim agar ia mau diajak bicara.


Apa aku harus memancing dengan membahasnya?


Gumaman kecil dilakukan hatinya. Terbersit nama Sumayah dalam benak.

__ADS_1


"Apa kau ... menginginkan Ibumu?" Ragu Kevin bertanya. Tangannya mengepal erat menahan ego yang membludak. Kebenciannya terhadap Sumayah membuat ia enggan bahkan hanya menyebut namanya saja.


Salim bereaksi, mendengar kata Ibu ia membuka selimut perlahan. Berbalik menghadap Kevin dengan pandangan berbeda.


Kevin tersenyum, diusapnya dahi Salim yang sedikit mengeluarkan keringat.


"Benar, apa kau ingin bertemu Ibumu?" ulang Kevin bertanya. Salim mengangguk pelan masih dengan mulut yang terkunci rapat.


"Ayah berjanji akan mempertemukanmu dengannya. Ayah akan mencari Ibumu dan kalian bisa bersama lagi, tapi kau harus berjanji satu hal pada Ayah ...,"


Kevin menjeda ucapannya membiarkan Salim menebak apa yang harus ia lakukan agar bisa bertemu dengan Sumayah.


"Apa?" Suara Salim masih sama dinginnya dengan saat pertama kali ia datang.


"Kau harus sehat, kau harus makan yang banyak agar saat Ibumu datang kau bisa menyambutnya dengan senyuman. Lagi pula, Ayah tidak ingin disalahkan Ibumu karena kau sakit. Dia akan berpikir Ayah tidak memberimu makan dan juga tidak memperhatikanmu-"


"Dengar, Salim! Ayah sangat menyayangimu, Ayah tidak bisa kehilanganmu lagi. Tetaplah di sisi Ayah, masalah Ibumu orang-orang Ayah akan mencarinya dan membawanya ke rumah kita. Jadi, Ayah harap kau tidak lagi berkeras hati dan tidak menyiksa dirimu sendiri," rayu Kevin sembari mengusap kepala Salim dengan lembut.


Senyumnya menghangat bagai sosok seorang Ayah yang sesungguhnya. Membuat hati Salim terenyuh dan sedikit ia bisa menerima Kevin sebagai Ayahnya.


"Apa kau bisa berjanji? Apa kau benar-benar akan menepati janjimu? Aku harus memastikannya," cecar Salim meski dengan suara lemah.


"Tentu saja! Ayah berjanji padamu. Kau tahu, Kevin Aji Negoro tidak pernah mengingkari janjinya, dan Ayah sudah berjanji padamu. Itu artinya Ayah akan memenuhinya, tapi, Salim ...,"


Kevin melirik Salim, dahi kecil itu mengernyit mendengar kata 'tapi' dari Kevin.


"Bisakah kau memanggilku Ayah?" lanjut Kevin dengan pandangan memohon.


Salim terdiam, menelisik manik kelam milik Kevin yang saat ini begitu menghangatkan dalam pandangannya.


Kevin menuntut jawaban lewat sorot mata yang ditegaskan.


"Aku tidak tahu!" jawab Salim masih dengan nada yang sama.


"Baiklah ... setidaknya kau bisa mencobanya, bukan? Ayah akan menunggu dengan sabar hingga kau terbiasa memanggil Ayah," ucap Kevin lagi mengusap tangan Salim dengan lembut.


Salim tidak menyahut, pandangannya terpatri pada netra Kevin.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang makanlah dulu! Agar kau cepat pulih, kita bisa bersama-sama pulang dan menunggu Ibumu datang," ucap Kevin lagi sembari mengambil makanan untuk Salim


Ia menyuapi Salim dengan sabar meski diawal Salim menolak suapan darinya, tapi Kevin tidak menyerah. Ia terus merayu Salim dengan membahas soal Sumayah. Padahal ia tahu, wanita itu tidak akan bisa bertahan hidup. Setidaknya itulah yang dia dengar dari laporan anak buahnya.


__ADS_2