Sumayah

Sumayah
Salim di Rumah Kevin


__ADS_3

Anak itu, masih terlalu kecil dihadapkan dengan permasalahan berat yang menimpa kedua orang tuanya. Mulai dari ayahnya yang tak henti ingin membunuh ibunya. Wanita ular yang bersembunyi di sekitarnya, juga ingin melenyapkan nyawanya. Belum lagi, ada anak yang selalu berbuat jahat padanya.


Salim, selalu ingat pesan sang Ibu untuk menjauhi wanita ular itu dan anaknya. Salim semakin hari semakin bertambah patuh kepada Kevin hingga ia semakin lengket dengan laki-laki itu. Anak yang tidak tahu kejadian yang menimpa ibunya. Dalam hati berharap ibunya akan datang kembali untuk menjenguk.


Namun, hari demi hari, Minggu pun berlalu, bukan ikut berganti, dan tahun bertukar angka. Sumayah tak kunjung datang menjenguknya.


Dua tahun berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Sumayah, Salim semakin dewasa dan pintar. Kevin mempersiapkannya menjadi penerus bisnisnya dan hal itu semakin membuat rasa cemburu dalam hati Priscilla kian tumbuh dan berkembang biak. Ia menaruh dendam pada anak kecil itu.


Salim yang tengah melamun di belakang rumah menatap kolam ikan dilihat Priscilla juga anaknya. Datanglah ide untuk mencelakakan Salim mumpung Kevin tak ada di rumah, begitu pikirnya.


Teo yang usianya tiga tahun lebih muda dari Salim itu pun berjalan mendekati Salim dengan sebuah benda tajam di tangan. Ia yang juga membenci Salim karena tak mendapatkan perhatian Kevin, mengacungkan benda itu di belakang kepala Salim.


Beruntung, cermin di hadapannya memantulkan bayangan Teo. Tepat saat benda tajam itu hendak menembus tengkuknya, Salim menyingkir dengan gesit dan berdiri tegak.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku?" hardik Salim dengan napas tersengal karena rasa terkejut.


Teo yang masih memegang benda itu, menatap Salim penuh dendam.


"Karena kau Ayah tidak pernah lagi memperhatikanku, karena kau ada di rumah Ayah selalu bermain bersamamu dan tidak pernah menemaniku. Aku membencimu, Salim. Kau bukan Kakakku!" ucap Teo kembali hendak menyerang Salim dengan benda tajam di tangan.


"Kupikir sudah jelas semuanya saat Ayah sendiri tidak mengakuimu sebagai anaknya karena kau sama sekali tidak mirip dengannya. Berbeda denganku yang begitu mirip dengan Ayah. Setidaknya itu yang dikatakan semua orang. Jadi wajar saja jika Ayah lebih menyayangiku," sarkas Salim.


Pandangannya mengejek Teo dengan senyum tercetak miring. Teo merasa ditertawakan, ia merasa dihina oleh Salim. Begitu pun Priscilla yang mendengarnya.


Lakukan, Teo! Lakukan! Bunuh dia, singkirkan dia untuk selamanya.

__ADS_1


Priscilla menggeram dalam hati mendengar kalimat menohok dari Salim.


"Sialan, kau!" Teo berlari menghampiri. Sebilah benda tajam menghunus ke arah Salim.


Salim yang tubuhnya lebih besar pun, dapat menghindar dengan cepat. Namun, ia tak menyangka kakinya terpeleset dan ia jatuh ke atas keramik dengan kepala yang membentur.


"Hentikan! Apa yang kau lakukan!" Suara Kevin yang menggema menghentikan Teo yang hendak menikam tubuh Salim.


Teo membeku, benda tajam di tangan terjatuh dengan sendirinya. Kevin berlari menghampiri, tangannya menarik Teo dan menghempaskannya ke belakang hingga anak itu jatuh terjerembab di lantai.


Salim mengerang sebelum kesadarannya menghilang. Tak ada luka, tak ada darah, tapi Salim tergolek pingsan.


"Salim! SALIM!" Kembali teringat pada saat Salim pingsan tak sadarkan diri, Kevin dilanda kepanikan yang sama.


"PRISCILLA!" teriak Kevin membahana ke segala penjuru rumah.


Para pekerja di rumahnya, sudah biasa mendengar mereka bertengkar. Hampir setiap hari Tuan dan Nyonya mereka berseteru adu mulut karena hal sepele. Priscilla selalu cemburu saat Kevin menemani Salim. Rumah besar itu tak lagi damai dan tenang. Tidak seperti saat Sumayah yang menjadi Nyonya, kedamaian dan ketenangan selalu mereka rasakan bahkan mereka tidak perlu takut mengutarakan pendapat. Berbeda dengan Priscilla yang memiliki segudang peraturan untuk semua pekerja.


Brak!


Pintu kamar Teo dibuka Kevin dengan kasar. Dada yang naik turun, mata merah menggelap, keringat mengucur deras, Kevin seperti seseorang yang sedang kesurupan. Membuat tubuh Teo gemetar ketakutan.


"Kau menakutinya, Kevin!" ucap Priscilla tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Apa yang kau ajarkan pada anak itu? Apa kau yang menyuruhnya untuk melukai Salim? Apa kau juga ingin membunuhnya? Jadi benar, kau ingin membunuh anakku, Priscilla!" geram Kevin sembari melangkah mendekati.

__ADS_1


Priscilla dilanda gugup, apa yang harus ia lakukan dan alasan apa yang akan dia katakan untuk mengelak dari kesalahannya.


"Ti-tidak ... a-apa yang kau katakan? Aku tidak berniat menyakitinya apa lagi membunuhnya. Kau jangan asal tuduh, Kevin!" kilah Priscilla tanpa berani menatap Kevin.


Anak dalam pelukannya menangis sesenggukan. Dia tentu saja takut kepada Kevin, tapi dia tidak ingin Priscilla bersedih.


"Kau sudah tidak bisa mengelak lagi. Kejadian tadi sudah menjelaskan semuanya yang selama ini kau ingin menyingkirkan keturunanku. Apa tujuanmu, Priscilla?" tekan Kevin melayangkan tatapan yang mengintimidasi wanita dan anak itu.


"Ibu tidak salah, aku juga tidak bermaksud menyakiti Kakak. Aku hanya ingin mengajaknya bermain, pisau yang aku pegang itu untuk memotong buah. Mungkin Kakak terkejut melihatnya terus terpeleset dan jatuh, aku hanya ingin membantunya waktu itu. Bukan ingin membunuhnya. Aku berkata benar," sergah Teo masih membenamkan wajah di dada Priscilla.


Kevin tidak percaya begitu saja. Selama ini ia sering mendapat aduan dari Salim tentang sikap Priscilla dan anaknya. Hanya saja, ia mengira itu semua karena Salim belum bisa menerima Ibu baru selain Sumayah. Sekarang dia mulai percaya apa yang dikatakan Salim.


"Kau ingin aku percaya? Buktikan itu dengan sikap baik kalian. Aku sudah tidak percaya lagi pada kalian. Atau jangan-jangan benar yang dikatakan mereka kau adalah dalang semua masalah di mansion ini-"


"Jangan asal menuduh, Kevin! Aku memang tidak suka pada Salim, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal buruk seperti itu terhadapnya. Mungkin itu hanyalah ketidaksengajaan seperti yang dikatakan Teo, dan untuk semua masalah aku tidak tahu apa-apa. Kau sendiri sudah melihat semua bukti dan mendengarkan semua saksi di pengadilan kemarin. Apa lagi? Kenapa malah menuduhku yang bukan-bukan?"


Priscilla menukas ucapan Kevin sembari berdiri dengan geram di hadapan laki-laki itu. Tatapannya yang menantang tak gentar saat bertemu dengan manik Kevin yang masih menggelap.


"Buktikan saja jika kau tidak terlibat di dalamnya. Dan untukmu, jika sekali lagi kau menyakiti Salim aku tidak akan segan menendang kalian keluar dari mansionku!" ancam Kevin seraya berbalik meninggalkan kamar anak itu dengan amarah yang membara.


"Perketat penjagaan di mansion, jangan biarkan apa pun terjadi selama aku pergi," titah Kevin pada semua penjaga di mansion-nya.


Maka mereka menyebar ke segala penjuru rumah menjaga rumah besar Kevin dari apa pun. Sementara ia pergi ke Rumah Sakit untuk mengetahui kondisi Salim.


Dan apa yang terjadi padanya sungguh membuat hati Kevin terpukul.

__ADS_1


__ADS_2