
"Tuan! Anda pulang?" sapa Kepala Pelayan di mansion Kevin. Ia sigap membukakan pintu utama dan berdiri di teras begitu deru suara mobil milik Tuannya tertangkap telinga.
"Hmm ... ya," sahut Kevin singkat. Ia memberikan tas kerja serta jasnya pada wanita paruh baya itu. Berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju lantai dua mansion tersebut.
"Bagaimana keadaan di sini?" tanya Kevin seraya melepas kancing tangan kemejanya dan mengendurkan dasi yang melekat di leher.
Kepala Pelayan itu membukakan pintu kamarnya, ia berdiri menunggu di samping pintu.
"Semuanya baik-baik saja, Tuan. Para pekerja mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Nyonya di rumah ini," sahutnya seraya membungkuk membiarkan Kevin melewatinya.
Ia ikut memasuki kamar Tuannya. Meletakkan tas kerja dan jas di tempatnya, Kevin mendaratkan bokong di sofa. Raut lelah terlihat jelas di wajahnya. Ia memijit pelipis yang terasa berdenyut.
Sementara Kepala Pelayan itu, menyiapkan air hangat untuknya berendam merenggangkan otot-otot tubuh yang kaku.
"Silahkan, Tuan! Apa perlu saya siapkan makan malam, Tuan?" tanyanya setelah menyiapkan air hangat untuk Kevin.
"Tidak perlu, istirahatlah!" sahut Kevin beranjak dari sofa dan masuk ke ruang ganti. Kepala Pelayan itu undur diri dari kamar Kevin, ia menutup pintu pelan tanpa suara.
Pagi datang begitu cepat, rasanya baru saja mata Kevin terpejam kini sinar matahari sudah menerpa wajahnya. Ia yang masih bergelung dalam selimut tak ingin tidurnya terusik.
"Tutup kembali tirainya, Maya! Aku masih ingin tidur," racau Kevin menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Wanita yang membuka tirai kamar Kevin berkacak pinggang memandang laki-laki yang masih berada dalam kemul itu. Wajahnya masam, ia kesal saat Kevin masih menyebutkan nama wanita itu dalam keadaan tidak sadar seperti itu.
"Ini aku, sayang. Cilla!" tekannya dengan nada merajuk manja. Kevin mengerutkan dahi bingung dalam selimut. Ia menyibak selimut dan mendapati Priscilla yang berdiri di dekat ranjang. Kedua tangannya terlipat di perut, wajahnya berpaling cemberut dari tatapan Kevin.
"Kau? Kenapa sepagi ini ada di kamarku?" tanya Kevin dengan suaranya yang parau. Ia beranjak duduk sembari mengucek matanya yang masih memburam.
"Di mana dia?" tanyanya lagi mencari sosok Kepala Pelayan yang biasa melayani semua keperluannya.
"Aku memintanya untuk tidak melayanimu hari ini karena aku sendiri yang akan menyiapkan semua keperluanmu," sahut Priscilla masih dengan nada ketus.
__ADS_1
"Oh!" Kevin membulatkan mulut, mengejek wanita yang masih merajuk di hadapannya. Ia mengulum senyum tak percaya bahwa gadis manja itu akan bersusah payah melayaninya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau tidak percaya padaku?" cecarnya semakin kesal. Ia berkacak pinggang lagi, menatap geram laki-laki yang justru tertawa mendengar ocehannya.
"Ya ... karena selama ini kau tidak pernah melakukannya, bukan? Jadi, rasanya sedikit tidak percaya saat kau mengatakan akan menyiapkan semua keperluanku hari ini," ungkap Kevin masih dengan sisa tawa di mulutnya.
"Ayolah, May-a ...," Kalimat Kevin menggantung, mulutnya terbuka, ekspresinya tak percaya, ia terkejut sendiri bahwa lisannya akan salah menyebutkan nama.
Priscilla melotot lebar, ia menurunkan kedua tangan dari pinggang dan mengepalkannya dengan erat. Urat wajahnya mengeras matanya berkilat dipenuhi api cemburu.
"Kenapa kau masih selalu menyebut namanya? Ini sudah lima tahun berlalu, Kevin, tapi kau masih belum bisa melupakannya. Kau bahkan masih menyuruh orang-orangmu untuk mencarinya. Apa artinya aku di matamu, Kevin?" hardik Priscilla dengan intonasi tinggi disusul air matanya yang menetes. Dasar buaya!
"Ci-cilla ...." Kevin salah tingkah sendiri. Ia berpaling wajah gelisah, mencari alasan untuk meredakan tangis gadis itu.
"Kau tahu, bukan? Aku mencari dia bukan karena ingin kembali padanya, tapi aku menginginkan anakku. Semua orang tahu itu," ucap Kevin, dia kembali dingin seperti biasanya.
"Ayolah, Kevin. Sudah hampir lima tahun ini kau bersikap dingin padaku, aku sendiri tidak tahu kenapa kau bisa seperti itu? Apa karena wanita itu kau menjadi dingin padaku? Kau bahkan sangat jarang mengunjungiku, satu bulan yang lalu itu terakhir kali kau datang ke kamarku," ungkap Priscilla dengan sisi lemahnya yang tak dapat ditolak oleh Kevin.
"Lalu, apa kau tidak ... menginginkan anak lain?" tanya Priscilla dengan wajahnya yang menunduk malu-malu. Ia melirik sembari memainkan jemarinya di depan tubuh.
Kevin mengernyit mendengar kalimat ambigu yang diucapkan wanita itu.
"Anak lain? Apa maksudmu?" tanya Kevin bingung. Ia menelisik wajah Priscilla yang tiba-tiba bersemu.
"I-iya ... anak dari yang lain ... begitu?" sahut Priscilla ragu dan gugup.
Semakin bingung Kevin dibuatnya. Urat wajahnya kembali menegang.
"Apa maksudmu, Cilla! Bicara yang jelas?" bentak Kevin sembari membawa tubuhnya turun dari ranjang dan berdiri berhadapan dengan gadis itu.
Priscilla tidak menyahut, ia mengeluarkan sesuatu dari saku rok mini yang ia kenakan. Ia memberikan sebuah amplop putih berlogo rumah sakit kepada Kevin. Dengan wajah yang berpaling dari laki-laki itu ia menyembunyikan semu merah yang menghangatkan wajahnya.
__ADS_1
"Apa ini!" tanya Kevin seraya merebut amplop itu dan membacanya dengan cepat.
"Tidak! Bagaimana mungkin bisa ... kau ...?"
Jauh dari ekspektasi Priscilla, Kevin yang akan bahagia mendengar kabar dia hamil, bukan yang terkejut tidak suka seperti saat ini.
"Kenapa tidak mungkin, Kevin?" Priscilla cepat berbalik, matanya menyipit tidak senang dengan reaksi Kevin barusan.
"Ya ... tentu saja tidak mungkin? Bagaimana bisa kau hamil, sedangkan aku selalu menggunakan pengaman saat melakukannya lagi pula, rasanya sudah sangat lama kita tidak berhubungan," tolak Kevin jelas-jelas begitu menyakitkan hati Priscilla.
"Apanya yang tidak mungkin, Kevin? Dokter mengatakan usia kandunganku baru menginjak Minggu ke-empat. Itu artinya saat terakhir kali kita melakukannya," jelas Priscilla dengan geram.
"Kapan terakhir kali kita melakukannya?" tanya Kevin menatap Priscilla yang tiba-tiba menunduk menghindari tatapan Kevin.
"Sebulan yang lalu-"
"Sebulan lalu?" tukas Kevin dengan cepat memangkas ucapan Priscilla, "aku tidak mengingatnya," lanjut Kevin lirih.
"Tentu saja kau tidak ingat karena saat itu kau mabuk berat, dan Juan mengatakan kau minta diantar ke kamarku. Lalu, kau melakukannya dengan liar saat itu. Mungkin kau lupa memakai pengaman, saat itu pun kurasa berbeda dari biasanya. Tanyakan saja pada Juan jika kau tak percaya padaku," jelas Priscilla lagi menatap tajam manik kelam Kevin yang berang.
"Argh!" Kevin menyugar rambut frustasi. Ia tak menginginkan anak dari wanita lain meskipun sering berhubungan dengan mereka. Satu-satunya anak yang dia miliki dan akui hanyalah anak yang dilahirkan Sumayah.
Kevin terpancing emosi, napasnya memburu. Manik kelamnya berkilat saat terjatuh pada gadis itu.
"Apa maumu?" tanyanya mencoba mengontrol emosi yang meluap.
"Sayang, kenapa kau marah? Apa kau tak ingin memiliki anak dariku? Kukira kau benar-benar mencintaiku, tapi kau hanya menginginkan tubuhku saja," lirih Priscilla sembari menunduk dan kembali menunjukkan sisi lemahnya dengan air mata yang berderai.
Kevin berdecak, ia kalah lagi. Ia menarik napas dalam-dalam dan memegangi kedua bahu Priscilla.
"Baiklah, maafkan aku. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan?" ujar Kevin mengalah.
__ADS_1
"Aku ... aku ingin kau menikahiku dan meresmikan hubungan kita. Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah, kevin."