
Dalam kepanikannya, Sumayah tidak tahu harus melakukan apa. Perasaan ini seperti ia sedang berada di sebuah adegan film horor menegangkan. Jantungnya berdebar tak karuan, dia yang berdiri di sana bagai sosok iblis yang bersiap mencabut pedangnya dan menebas lehernya seketika.
"Rai!" Suara terkejut dari wanita tua yang ditunggunya tak membuat perasaan Sumayah menjadi tenang. Ia justru semakin gelisah, tak dapat menerka apa yang akan terjadi setelah ini.
"Rai?" sahut suara pria tua pula dengan sama terkejutnya seperti sang Istri.
Pemuda itu berbalik dan tersenyum begitu sosok dua orang tua yang dia rindukan berdiri di hadapannya. Ia melangkah perlahan mendekati, sedangkan kedua orang tua itu memandangnya dengan gugup. Sesekali mereka akan saling menatap dengan sorot mata sarat akan makna.
Dahinya membentuk lipatan, senyum sumringah raib begitu saja saat menangkap sesuatu yang mencurigakan dari raut wajah kedua orang tuanya. Ia berhenti melangkah, jiwa pengawalnya mencuat mengintimidasi orang tua di hadapannya lewat tatapan mata.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku!" Tanpa basa-basi bertanya langsung pada intinya. Kedua orang renta itu terhentak, sang Ibu mengukir senyum meski gugup bercampur canggung bertemu dengan Putranya kembali.
"Ah ... Nak. Tidak ada, kami hanya terkejut melihatmu sudah berdiri di depan pintu seperti ini. Ayo, Nak duduk dulu, Ibu rindu ingin berbincang denganmu," ucap sang Ibu sembari merangkul lengan Putranya dan membawanya duduk di teras.
"Ayah mau ke mana? Kenapa tidak ikut duduk di sini?" tanyanya curiga saat mendapati sang Ayah yang berjalan tanpa suara menuju belakang rumah.
"Ah ... i-ini, Ayah perlu membersihkan kaki dan tangan Ayah yang kotor. Tadi di ladang tidak sempat membersihkannya," sahutnya terdengar gugup dari nada bicara yang keluar dari lisannya.
'Ada yang mereka sembunyikan di rumah ini!' Matanya memicing curiga menatap kepergian sang Ayah ke belakang rumah.
"Ayo, Rai! Duduk di sini. Ceritakan pada Ibu bagaimana pekerjaanmu di kota? Kenapa lama sekali kau baru pulang?" celetuk wanita renta sembari menepuk kursi kayu di teras rumah sederhana itu.
Rai melangkah perlahan, setiap kaki yang diayunnya ia berpikir tentang kemungkinan apa yang mereka sembunyikan di dalam rumahnya. Ia duduk di samping Ibunya. Bokongnya tak lekas mendarat begitu tangisan bayi terdengar hingga keluar rumah.
Rai mendongak dengan posisi hampir duduk. Ia menatap sang Ibu yang seketika berubah gelisah.
"Bayi siapa itu?" Wanita itu bungkam.
Sementara Sumayah panik, ia lekas mengambil Salim dari kereta bayi dan menggendongnya. Menimang bayi enam bulan itu agar berhenti menangis.
"Ssstt ... diam, sayang. Jangan Menangis! Ya Allah bagiamana ini?" Wajah Sumayah berkeringat dingin. Gelisah dan takut menghampiri. Ia mengambil kain dan mengikat bayi Salim dalam gendongan.
Bersiap pergi dari rumah itu lewat pintu belakang. Biarlah ia tak membawa apa pun, yang penting nyawanya dan nyawa anaknya terselamatkan.
__ADS_1
Sumayah berlari ke pintu belakang, ia terlonjak ke belakang saat ingin membuka pintu secara tiba-tiba terbuka dengan cepat.
"Nyonya, ayo!" Laki-laki tua itu menangkap tangan Sumayah dan membawanya lari ke belakang rumah.
"Ini simpan sebagai bekal untuk Nyonya, kami tak dapat menolong lebih dari ini. Maafkan kami," sesal Pak tua sembari menyerahkan sebuah bungkusan berisi uang yang segera diselipkan Sumayah ke dalam kain yang ia gunakan untuk menggendong Salim.
"Terima kasih!"
"Anda hanya harus berjalan lurus dari sini dan temukan jalan raya. Menumpanglah di mobil untuk sampai ke kota lainnya," kata Pak tua lagi mengarahkan.
Sumayah mengangguk lantas pergi dengan cepat tanpa menunggu wanita tua itu muncul.
"Tunggu!"
Sebuah suara tinggi dan penuh tekanan menghentikan laju kaki Sumayah yang baru beberapa saja melangkah. Ia tertegun berdiri mematung tak tahu harus apa.
Suara langkah dari Rai menggetarkan hati Sumayah. Setiap ketukannya mengancam nyawa Sumayah juga bayinya. Tangannya memperat dekapan pada Salim yang baru saja tenang.
"Berhenti di sana!" Laki-laki tua tadi berdiri tegak di belakang tubuh Sumayah yang mematung.
"Ayah?"
"Aku bukan lagi Ayahmu jika kau tetap berjalan mendekat padanya!" tukas Pak tua tanpa terdengar ragu sedikit pun.
Rai tertegun melihat sang Ayah yang berdiri menantangnya. Seumur hidupnya ia tak pernah sekali pun melihat laki-laki tua itu memandangnya demikian.
"Ada apa, Ayah? Siapa dia? Dan apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Rai tidak suka. Ia memicing, menatap penuh netra tua di hadapannya.
"Kau tidak perlu tahu! Biarkan dia pergi, maka kami akan merasa bahagia," sahut suara wanita tua yang baru muncul di belakangnya. Ia berjalan melewatinya dan ikut berdiri bersisian dengan laki-laki tua itu.
"Ada apa dengan kalian? Aku baru saja pulang dan kalian memperlakukan aku layaknya seorang musuh?" Kerutan di dahinya semakin bertumpuk. Kedua orang tua itu bungkam.
"Hanya biarkan dia pergi dari sini!" ucap wanita tua itu sekali lagi.
__ADS_1
"Aku tahu siapa dia? Ternyata selama ini dia bersembunyi di rumahku ... cerdik sekali! Menjadikan sarang musuh tempat bersembunyi," ucapnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Mencetak senyum smirk menjengkelkan.
"Jika kau ingin membawanya atau melaporkannya pada mereka, maka kau saat ini adalah musuh kami!" tegas laki-laki tua tadi tanpa meragu.
Rai terkejut mendengar itu, ia tak percaya Ayah dan Ibunya akan melakukan ini karena kecintaannya pada Sumayah.
"Ada apa dengan kalian? Kalian telah dibutakan oleh rasa memuja yang berlebihan. Dia buronan, Ayah. Dia membawa kabur putra Tuan Kevin, Ibu. Dia penjahat!" terang Rai dengan geram.
"Aku bukan penjahat! Kalian semua-lah penjahatnya. Aku hanya ingin hidup bersama Putraku." Sumayah berbalik.
Ketegasan bercampur kesedihan menyatu dalam kejoranya yang indah. Pemuda itu pernah menjadi salah satu pengawal yang begitu memperhatikan setiap detail kebutuhannya. Tatapan memuja yang dulu selalu ia lihat dari manik coklatnya, kini raib berganti benci.
"Sadarlah, Nyonya. Semua bukti sudah mengarah kepada Anda, dan Anda tidak bisa mengelak dari itu semua. Jadi, mari ikut saya dengan suka rela. Saya berjanji tidak akan berlaku kasar kepada Anda apalagi sampai menyakiti Anda," ucapnya lemah.
"Rai! Kau tahu persis siapa aku dan bagaimana aku. Kau pikir aku akan menyerah begitu saja? Ingat, Rai ... kau pun masih punya hutang janji padaku. Sebagai pengawal kau tidak boleh ingkar terhadap janji atau kau menyerahkan nyawamu sebagai gantinya," tegas Sumayah tanpa rasa takut sedikit pun.
Rai bergeming tanpa suara. Ia menelisik keadaan Sumayah yang jauh lebih baik dari sejak ia melihatnya di rumah sakit beberapa bulan lalu.
"Kalau kau masih menganggap kami orang tuamu, maka tolong ... biarkan Nyonya pergi dari sini dengan aman!" mohon sang Ibu dengan air matanya yang telah berderai.
Rai gamang, ia tidak ingin membuat wanita yang telah melahirkannya itu bersedih, tapi di lain sisi ia pun tak bisa mengabaikan perintah Tuannya.
"Kevin tak akan memberikan surga Tuhan padamu, Rai. Akan tetapi, mereka ... mereka berdua adalah tangan Tuhan yang akan mengantarkanmu ke surga-Nya." Sumayah melembut.
Tatapannya hangat sama seperti saat pertama kali Rai melihatnya. Dia masih wanita yang sama dengan yang waktu itu. Hangat dan penuh kasih sayang. Sikapnya yang keibuan membuat nyaman semua pelayan yang melayaninya.
"Kalau kau bertekad membawa Nyonya maka kau tak akan pernah bisa menemui kami lagi, Rai! Kami pastikan hal itu. Kau harus melangkahi mayat kedua orang tuamu dulu sebelum bisa membawa Nyonya!" tantang sang Ayah membuat Rai gamang.
Lama ia mematri tatapan pada netra tua di hadapannya itu sebelum menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Baiklah, aku mengalah. Anda bisa pergi, Nyonya. Maafkan saya karena hampir melawan orang tua saya. Saya mengerti kenapa mereka rela menukar nyawa mereka demi Anda karena Anda memang pantas untuk dibela. Anda tenang saja, saya tidak akan melaporkan keberadaan Anda kepada Tuan. Pergilah!" tandas Rai dengan senyum hangat sama seperti dulu saat pertama kali ia bekerja sebagai pengawalnya.
Sumayah tersenyum tulus matanya berkaca menatap manik coklat Rai. "Terima kasih, Hiro. Kau selalu menjadi pahlawan di hatiku. Kau pengawal terbaik dan terhebat yang pernah aku miliki. Aku sayang kau, Hiro!" tutur Sumayah tulus.
__ADS_1
Rai terharu, begitu pun kedua orang tua itu. Sumayah berbalik dan melangkah dengan tenang sesuai petunjuk arah dari Pak tua itu. Senyum tercetak di bibirnya, ia telah memenangkan hati Rai kembali. Suatu saat jika ia kembali maka orang yang akan ia temui adalah Rai dan kedua orang tuanya.