
Hari ke hari kehidupan yang Kevin jalani semakin rumit. Tak ada Kevin yang ramah seperti waktu dulu saat Sumayah di sisinya. Tak ada lagi Kevin yang bijaksana seperti saat Sumayah mendampinginya dulu.
Kini, hanya ada Tuan Kevin kejam tak berperasaan. Satu kesalahan saja, nyawa bisa jadi melayang. Kevin tidak mentolerir kesalahan sedikit pun. Dia berubah menjadi binatang buas yang tak terkendali. Dan yang memegang tali kendalinya adalah wanita ular itu.
"Juan, bagaimana hasil pencarian di daerah Utara?" tanya Kevin selepas duduk di singgasananya dan memeriksa setiap laporan. Pagi tadi, ia baru saja mengadakan rapat dadakan tentang anjloknya harga barang di pasaran.
"Sampai saat ini belum satu pun dari mereka datang melapor, Tuan," jawab Juan sembari menelisik raut wajah Kevin yang lain dari biasanya.
Kevin menghembuskan napas kasar, ia meletakkan bolpoin sedikit lebih keras untuk meluapkan kekesalannya. Juan tahu, ada sesuatu yang mengusik pikiran Kevin. Apa perlu ia menanyakannya! Tunggulah saat Kevin mulai tenang, barulah ia akan bertanya.
"Mau sampai kapan pencarian ini tidak membuahkan hasil, Juan? Sudah lima tahun berlalu, dan yang kita cari hanyalah seorang wanita lemah. Dari sekian banyaknya orang yang disebar, tak satu pun dari mereka datang melapor!" geram Kevin sembari mendengus.
Ia membanting punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Kevin mengambil sebatang rokok dan menyesapnya. Begitulah yang dia lakukan saat melampiaskan kekesalan dalam hatinya semenjak Sumayah pergi.
Kebiasaan buruk yang dengan susah payah ia tinggalkan saat ingin mendapatkan hati Sumayah. Wanita yang kini dicarinya walau sampai ke ujung dunia sekali pun.
Juan sangat menyayangkan sikap Kevin yang saat ini.
"Tuan, bukankah Anda telah berhenti merokok?" tanya Juan tiga tahun yang lalu saat Kevin memutuskan untuk kembali pada kebiasaan lama.
"Untuk apa lagi aku menahan diri, Juan? Jika apa yang aku perjuangkan pergi meninggalkan aku. Dia sudah mengkhianatiku dan pergi dari hidupku. Tidak usah lagi membahas tentang dia!" jawab Kevin saat itu yang langsung membungkam mulut Juan dan tak pernah menanyakannya lagi.
Juan menatap nanar Kevin saat tangan satunya meraih gelas wine dan menenggaknya sekali tandas.
Anda semakin buruk, Tuan. Saya tahu Anda masih mencintai Nyonya, hanya saja kesalahfahaman dalam hati Tuan menyembunyikan kecintaan Anda kepada Nyonya.
__ADS_1
"Terlalu banyak minum tidak bagus untuk kesehatan Anda, Tuan," sindir Juan tanpa berkedip menatap Kevin yang sudah menghabiskan hampir satu botol wine.
"Aku sudah tidak peduli pada kesehatanku, Juan. Hatiku saja sudah sangat menderita saat ini. Anakku belum diketemukan, tapi dia sudah menambah beban dalam hidupku-"
"Kau tahu, Juan? Aku tidak menginginkan anak dari wanita lain. Satu-satunya anakku adalah anak yang sekarang aku cari keberadaannya. Bukan dari yang lain," racau Kevin setengah mabuk karena pengaruh alkohol.
Juan mengernyit mendengarnya, apa itu ungkapan hati Tuannya yang saat ini mengganggu pikiran laki-laki yang semakin tak terawat penampilannya itu.
"Tuan, apa sebenarnya yang sedang mengganggu pikiran Anda saat ini?" Pertanyaan Juan memancing keluh kesah dalam diri Kevin.
Kevin memandang asistennya dengan mata yang sayu, rasa lelah, kecewa, sedih, sesal, semua nampak jelas di manik kelam itu.
"Kau tahu, Juan? Cilla mendatangi kamarku pagi kemarin, dia mengatakan jika saat ini dia sedang mengandung anakku," ujar Kevin diiringi tawa hambar yang menyiratkan kesedihan.
Juan terkejut, tapi tetap berwajah datar. Ia sudah bisa memprediksi bahwa hari ini pasti akan datang, tapi tidak menyangka akan datang secepat ini.
"Aku tidak tahu, aku bahkan tidak sadar melakukannya tanpa pengaman. Di sana tertulis bahwa usia kandungannya baru menginjak Minggu ke-empat dan itu artinya sebulan yang lalu aku melakukan hubungan itu dengannya-"
"Kau tahu, Juan? Dia juga mengatakan bahwa aku memintamu untuk mengantarkan aku ke kamarnya. Apa itu benar, Juan?" tanya Kevin bergetar. Ia ingin Juan mengatakan tidak sebagai jawaban agar ia tidak perlu memikirkan permintaan wanita itu lagi.
"Benar, Tuan." Kevin tertawa terbahak.
"Sudah aku duga bahwa aku memang tidak pernah melakukannya," katanya sembari terus tertawa terbahak-bahak.
"Anda meminta saya untuk mengantar Anda yang mabuk berat ke kamar Nona malam itu, tapi saya membekali Anda dengan pengaman waktu itu, Tuan."
__ADS_1
Tawa Kevin terputus. Kedua pupilnya membesar hampir keluar saat sadar apa yang dikatakan Juan adalah sebuah kebenaran.
"Apa? Jadi, itu benar? Argh!" Kevin menjambak rambutnya sendiri, membanting tubuhnya pada sandaran kursi lagi dengan keras.
"Tidak! Itu tidak mungkin! Dia mengatakan kalau aku lupa memakai pengaman waktu itu, dia menuntutku untuk meresmikan hubungan dengan cara menikahinya, Juan," keluh Kevin sedih.
"Jika memang itu benar, maka Anda harus bertanggungjawab atas janin yang ada dalam kandungan Nona, Tuan," ujar Juan.
"Jadi, aku harus menikahinya?" Kevin tertawa sumbang. Menertawakan nasib dirinya yang tak semulus sejak bersama Sumayah.
"Tapi jika boleh saya memberi saran, sebaiknya Anda memastikan terlebih dahulu apakah anak itu benar benih Anda atau benih orang lain?" saran Juan yang menghentikan tawa Kevin dan membuatnya terdiam.
"Kenapa kau mengatakan hal itu, Juan?" tanya Kevin menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi.
"Sudah saya katakan, saya beberapa kali memergoki Nona pergi ke kamar pengawal yang dulu menjadi pengawal Nyonya. Saya sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya di tempat tersebut, tapi itu membuat saya curiga Nona ada main di belakang," ungkap Juan kembali mengatakan hal yang dulu pernah ia katakan dan dipatahkan oleh keterangan Priscilla.
"Bukankah Cilla sudah menjelaskan bahwa saat itu dia sedang mencari angin dan tak sengaja terpeleset lalu pengawal itu menolongnya, dan membawanya ke tempat tersebut untuk mengobati luka di kakinya. Kau sendiri melihat luka itu, bukan?" sahut Kevin, dahinya berkerut tidak senang atas perkataan Juan barusan.
Juan terdiam, ternyata pengaruh wanita itu sangat melekat dalam diri Kevin. Ia telah meracuni pikiran Tuannya dengan tipu muslihat yang dia buat.
"Jadi, Anda mengakui janin itu adalah anak Anda?" tanya Juan memastikan pikiran Kevin.
"Aku tidak tahu, tapi aku juga tidak bisa menyakitinya. Aku akan menikahinya, Juan," ucap Kevin pasrah.
"Saya tidak setuju, Tuan. Saya tidak setuju Anda menikahi Nona, setidaknya sampai Tuan Muda ditemukan. Setelah itu, Anda bisa mengambil keputusan untuk menikahinya atau tidak. Atau setelah Anda memastikan bahwa janin dalam kandungan Nona benar anak Anda," ungkap Juan mengutarakan penolakannya terhadap keputusan Kevin yang akan menikahi Priscilla.
__ADS_1
Kevin terdiam, mencerna setiap kata yang disusun Juan dalam satu kalimat panjang. Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka dengan kasar dan langkah kaki cepat terdengar mendekat.
"Apa maksudmu mengatakan itu pada Kevin? Apa kau sedang meracuni otaknya untuk tidak mengakui anak dalam kandunganku?"