
Hari berganti, Minggu pun berlalu. Sudah beberapa purnama terlewati, tapi ketiga orang itu masih berada di ruang tahanan rumah itu. Priscilla yang awalnya percaya diri Teo dapat membantunya keluar, tapi tak kunjung datang membuatnya putus asa di dalam sana.
Ia menangis sepanjang siang dan malam, makanan akan diantar satu hari sekali ke ruang bawah tanah tersebut.
"Hentikan tangismu! Suara tangisanmu itu tidak membantu sama sekali," hardik Kevin yang sudah jengah dengan suara tangisan Priscilla yang semakin hari semakin menjadi.
"Aku mengkhawatirkan putraku, tidak ada kabar sama sekali tentangnya. Kalian tidak tahu bagaimana perasaanku sebagai seorang Ibu karena kalian tidak pernah tahu itu," ucap Priscilla sembari terisak-isak.
"Sudahlah, Priscilla. Anggap saja itu sebagai balasan karena kau telah membuat putranya lumpuh. Nikmati saja semuanya, yang penting kita tidak dibunuh olehnya," cibir Rai yang berbaring santai bersandar pada tembok kotor dalam ruangan tersebut.
Priscilla menatap tajam laki-laki itu, wajahnya memerah karena marah. Ia tidak terima anaknya harus menanggung semua kesalahan yang dia lakukan.
"Kau ... jangan pernah kau lupa bahwa kau juga ikut menabur benihnya, Rai! Brengsek!" bentak Priscilla. Ia menerjang Rai dan mencekik leher laki-laki itu. Namun, wanita tetaplah wanita. Ia tak akan menang melawan kekuatan seorang laki-laki. (Kecuali Zena, ya. Iklan, hehe).
Rai mendorong tubuh Priscilla hingga wanita itu jatuh terjerembab ke lantai.
"Kalian berdua sama-sama menjijikkan. Aku yakin, kau sendiri tidak tahu siapa Ayah dari anakmu itu," sindir Kevin sembari mencibirkan bibirnya mengejek Priscilla.
Priscilla yang terlanjur marah, tak dapat melakukan apa-apa. Satu wanita melawan dua pria, dia bisa apa selain hanya diam dan menangis.
"Kalian bajingan! Kalian nikmati tubuhku semau kalian, tapi sekarang kalian menghinaku. Kalian pun sama menjijikkannya, setidaknya kalian pernah mendesahkan namaku. Wanita yang kalian anggap hina ini," ungkap Priscilla dengan getir.
Ia meringkuk di pojokan. Memeluk kedua lutut dan membenamkan kepala di atasnya. Menangis tersedu memanggil-manggil nama Teo.
Tak ada yang dia miliki di dunia ini, selain anaknya itu. Satu-satunya harta yang dia miliki, tapi kini ia pun pergi meninggalkannya. Beginikah rasanya berpisah dengan si buah hati? Takut, gelisah, cemas, dan rindu berbaur jadi satu.
"Teo!" lirihnya pilu.
__ADS_1
Kevin dan Rai tak acuh, mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Entah sampai kapan mereka akan menyadari kesalahan dan menyesalinya.
"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian butuh pakaian ganti?" tanya Sumayah tiba-tiba sudah berada dalam ruangan tersebut.
Ia menatap mereka bertiga yang seketika mendongak saat mendengar suaranya. Pakaian yang melekat di tubuh mereka adalah pakaian yang terakhir kalinya mereka kenakan sebelum dikurung. Kotor dan lusuh, juga kumal.
Kevin meneguk ludah saat melihat Sumayah yang berbeda dari biasanya. Wajah barunya tak kalah cantik dari wajah asli yang dimilikinya dulu. Ia tetap mempesona meskipun ditutupi hijab.
"Bagaimana rasanya jauh dari anakmu? Apakah kau menikmatinya? Apa yang kau rasakan saat ini belum seberapa dengan apa yang telah aku lalui selama bertahun-tahun lamanya. Kalian memisahkan aku dari anak yang kujaga selama ini, dan kau! Seorang Ibu yang tega membuat lumpuh anak yang lemah lagi tak berdaya. Kau tidak pantas menjadi seorang Ibu-"
Sumayah menegakkan kepala beralih tatapan dari Priscilla pada Rai yang menundukkan kepala. Setiap kali melihat Sumayah, rasa bersalah bersarang di hatinya.
"Kau, Hiro! Kau adalah orang yang paling aku percaya, Ibu dan ayahmu bahkan sangat menyayangiku seperti menyayangi anak mereka sendiri. Bukankah mereka memintamu untuk menjagaku? Tapi kau justru menyalahi amanat mereka dan ikut dalam konspirasi untuk membunuhku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan mereka saat tahu putranya telah menjadi seorang pengkhianat," tutur Sumayah sembari mengarahkan kedua tangannya pada pintu ruangan.
Dua sosok orang tua muncul dari balik pintu. Wajah keduanya menyiratkan kesedihan dan kekecewaan yang sangat mendalam. Wanita tua itu bahkan menitikan air mata saat pandangannya tertuju pada putra satu-satunya itu.
"Ayah, Ibu!" Rai merasa malu berhadapan dengan mereka. Ia menunduk memutuskan pandangan, menangis tanpa suara menyesal saat melihat gurat kesedihan dan kekecewaan di wajah keduanya.
"Kenapa kau melakukan ini, Nak? Bukankah kau sudah berjanji pada Tuan dan Nyonya besar akan menjaga Nyonya Maya dengan nyawamu? Tapi kenapa kau justru mengecewakan kami, mengecewakan orang yang telah sangat berjasa menolong kita. Kenapa kau melakukan ini, putraku?" tanya wanita itu dengan iringan air yang membanjiri wajah keriput miliknya.
Rai tak mampu menjawab, ia hanya menggelengkan kepala sambil menangis tersedu-sedu.
"Rai, apakah wanita itu yang membuatmu menyalahi janji pada mereka? Itu sebabnya, kau memindahkan kami ke Selatan. Padahal, kita berasal dari Utara. Ternyata wanita licik itu yang sudah mencuci otak anakku. Kami kecewa padamu, Rai," lanjut wanita tua itu lagi yang kali ini menyeka air matanya.
Ia menatap nyalang Priscilla yang menunduk sambil menangis.
"Maafkan aku!" lirihnya pilu, "maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku memang tidak berguna," lanjut Rai sembari membenamkan kepalanya di atas lutut.
__ADS_1
"Kami kembalikan apa yang kau beri dari hasil memerah darah orang lain, Rai. Kami tidak sudi menerimanya, kami akan kembali pada kehidupan kami di desa Utara sebagai petani," sahut laki-laki tua dengan perasaan muak.
Rai mengangkat wajah menatap mengiba pada kedua orang tuanya. Ia menggeleng, tapi tak dapat mengatakan apa pun.
"Ayo, Bu. Kita pergi, biarkan anak durhaka itu menerima hukumannya," ajak laki-laki tadi sembari memapah istrinya keluar dari ruangan.
"Nyonya, kami serahkan pengkhianat itu kepada Anda. Berilah ia hukuman yang setimpal atas semua kesalahannya," ucapnya seraya membungkuk dan keluar bersama istrinya tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Ayah! Ibu! Ampuni Rai, tolong ampuni Rai, Ayah, Ibu!" ratap Rai sembari berdiri dan hendak berlari mengejar orang tuanya, tapi Juan dengan cepat mencegah dan mendorongnya kembali masuk ke ruangan.
"Renungi kesalahan kalian, tidak satu pun yang dapat keluar dari sini tanpa izinku!" ucap Sumayah seraya berbalik hendak pergi.
"Di mana anakku? Apa yang kau lakukan padanya?" hardik Priscilla menatap Sumayah penuh benci.
Langkah Sumayah terhenti, ia melirik tanpa membalik tubuh sambil berkata, "Kau tenang saja. Nikmati saja masa hukumanmu dan renungi kesalahan yang telah kau lakukan. Aku tidak sekejam dirimu yang tega membuat menderita seorang anak yang lemah tak berdaya."
Sumayah melanjutkan kembali langkahnya keluar ruangan diiringi teriakan Priscilla yang meminta kembali anaknya.
"Kembalikan Teo padaku! Kembalikan anakku! Dasar kau wanita sialan, kembalikan anakku!"
Byur!
Satu ember air diguyurkan ke atas kepala Priscilla membuatnya gelagapan seperti orang yang hampir tenggelam.
"Sial!" Ia menatap berang pengawal yang menyiramkan air padanya dari atas atap.
"Kau berisik sekali, jika berteriak lagi aku akan menyiramkan lebih banyak air pada kepalamu!" bentak pengawal itu dengan bengis. Ia membanting pintu atap ruangan tanpa perasaan.
__ADS_1
"Sial! Jadi basah semua. Kotor, bau. Menjijikkan."