Sumayah

Sumayah
Epilog (THE END)


__ADS_3

Kebahagiaan yang hanya sebuah impian, kini dapat ia rasakan dengan nyata. Juan memperlakukannya bak seorang ratu. Ia menghormati Sumayah sama seperti dirinya menghormati seorang Ibu.


Sikap Sumayah yang lemah lembut selalu membuatnya jatuh cinta setiap hari.


"Maya, apa kau tahu? Sudah sejak lama aku menyimpan rasa cinta padamu. Jauh sebelum Kevin memutuskan untuk menikahimu," ucap Juan pada malam pertama mereka.


"Benarkah? Lalu, kenapa selama ini kau diam saja?" Sumayah mengusap wajah Juan sembari tersenyum manis pada suaminya itu. Dikecupnya pipi Juan dan ia menjatuhkan kepala di atas bahu kekar itu.


Juan meraih tangan Sumayah di dadanya, mengecupnya dengan mesra dan menggenggamnya erat.


"Itu benar, aku tidak berani maju karena Tuan Besar lebih memilih Kevin menjadi suamimu. Bukan aku," sahut Juan.


"Juan, selama ini yang aku tahu aku berasal dari desa Utara. Aku tidak pernah tahu kalau semua ini adalah milikku. Seandainya kau tidak mengatakannya, aku berencana melarikan diri dari sini bersama Salim," ungkap Sumayah sejujur-jujurnya.


"Yah, Tuan Besar dan Nyonya memilih tinggal di desa karena beliau ingin mendidikmu menjadi seseorang yang sederhana juga mandiri. Beliau datang ke mansion setiap hari juga ke perusahaan. Lalu, pulang kembali ke desa," jawab Juan lagi.


Kini, Sumayah mengerti semuanya. Juan adalah kunci dari semua itu, dan Kevin yang bodoh telah menuai hasil dari kebodohan yang dia lakukan.


Keduanya sedang duduk di balkon hotel, memandangi langit malam yang bertabur bintang. Menjalankan bulan madu dengan tenang. Hanya berdua ... tunggu!


"Ibu! Bukankah kita akan makan malam di luar? Kenapa kalian tidak keluar kamar? Apa yang kalian lakukan? Apa kalian melupakan aku?" cecar Salim dari luar pintu. Ia bahkan menggedor-gedor pintu hotel membuat Juan dan Sumayah yang sedang asik berduaan harus mendesah pasrah.


"Ya, sayang! Tunggu sebentar!" sahut Sumayah sedikit berteriak. Keduanya beranjak meninggalkan balkon dengan bergandengan mesra.


Juan melepas tangannya saat Sumayah membukakan pintu untuk Salim. Dua orang anak berbeda usia dan ekspresi berdiri di depan kamar mereka.


"Kalian sudah siap? Baiklah, kita pergi sekarang," ucap Juan tanpa berbasa-basi lagi. Mereka berempat pergi meninggalkan hotel.


Juan duduk sebagai supir, Sumayah di sampingnya. Salim bersama Teo duduk di kursi belakang. Matanya memicing saat melihat Juan menggenggam tangan Sumayah.


"Bisakah tidak bermesraan di depanku? Tidak tahukah kalian aku cemburu," sarkas Salim sembari melipat tangan di dada.


Sumayah terkekeh kecil, Juan melepas tangannya dan meletakkannya di atas kemudi. Ia bersenandung kecil lewat siulan yang dilakukannya.


"Paman-"


"Salim! Biasakan panggilanmu, sayang," tukas Sumayah mengingatkan panggilan Salim untuk Juan.


"Ah ... aku lupa," katanya sembari terkekeh kecil.


"Ayah, aku mau makan di restoran baru itu. Yang iklannya masih hits di televisi itu-"


"Menggelikan, kenapa lidahku terasa gatal memanggilmu Ayah, Paman," lanjut Salim sembari berekspresi seolah memang lidahnya gatal.


"Kau harus terbiasa memanggilku Ayah, Nak," sahut Juan lagi sambil melirik Salim dari kaca spion.


"Ah ... bener, aku memang harus terbiasa. Baiklah, aku akan membiasakan diri kalau begitu," timpal Salim pula. Ketiganya tergelak merasa konyol sendiri dengan percakapan yang mereka lakukan.


Kecuali Teo yang menundukkan kepala sedih. Sumayah melirik ke arahnya, dahinya mengernyit melihat Teo yang terus menunduk.


"Teo? Kau kenapa, sayang?" tanya Sumayah lembut. Juan ikut melirik dari spion, dan Salim menoleh padanya.


Anak itu menggeleng tanpa mengangkat wajahnya.


"Bilang saja sama Ibu kenapa kamu sedih?" pinta Sumayah dengan tubuh berbalik ke belakang.

__ADS_1


Teo pelan-pelan mengangkat kepalanya, menatap Sumayah dengan matanya yang berkaca.


"Ibu!" panggilnya bergetar. Hati Sumayah ikut bergetar karenanya. Apa Teo merindukan ibunya?


Ia melirik Juan, laki-laki itu menganggukkan kepala mengerti dengan arti tatapan Sumayah.


"Teo, merindukan Ibu?" tanya Sumayah lagi setelah menjatuhkan pandangan pada anak itu.


Teo menggelengkan kepala, ia menatap Sumayah dan Juan bergantian.


Sumayah masih menunggu dengan lipatan di dahi. Salim pun ikut bungkam ingin mendengar apa yang akan dikatakan Teo.


"Aku ... bisakah aku juga memanggil kalian Ayah dan Ibu? Dan bisakah aku menjadi adikmu, Kakak?" pintanya menatap ketiga orang yang berada di dalam mobil tersebut.


Sumayah dan Juan saling melirik sebentar, Salim bahkan tidak berkedip menatap Teo yang masih menunggu dalam diam.


"Tentu saja, sayang. Sekarang kau juga anak kami, adik Salim. Panggil kami Ayah dan Ibu, dan dia Kakakmu," jawab Sumayah dengan senyum keibuan yang tulus untuk Teo.


Teo menangis haru, ia mengangguk sembari mengucek matanya yang terus menjatuhkan air. Salim memeluknya, menenangkan. Kedua anak itu berpelukan dan saling menerima satu sama lain.


Jadilah keluarga bahagia, kalian.


*****


"Ibu!" panggil Teo untuk wanita yang sedang berada di balik sel tahanan.


Priscilla yang duduk memeluk lutut, menoleh. Rambut kusut dan aut-autan. Wajah kusam dan kumal, mata sembab terdapat lingkaran hitam mengelilinginya.


"Teo!" panggil Priscilla saat menyadari bahwa anak yang berdiri di luar sel itu adalah anaknya. Ia beranjak mendekat, mengeluarkan kedua tangannya untuk dapat menggapai wajah Teo. Sambil menangis Priscilla menggumamkan nama anaknya.


"Teo, anakku!" ucap Priscilla setelah mereka dipertemukan dalam ruangan khusus. Ia memeluk anaknya erat, menangis penuh haru karena akhirnya dapat bertemu dengan anaknya kembali.


"Bagaimana kabar Ibu?" tanya Teo mengajak Priscilla untuk duduk di sebuah bangku.


Sumayah yang berdiri di luar ruangan tersenyum meskipun hanya melihat dari balik pintu kaca, tapi ia dapat dengan jelas menyaksikan bagaimana keharuan pertemuan anak dan Ibu itu.


"Ibu baik-baik saja. Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya balik Priscilla. Ia meletakan tangannya di wajah Teo dan menatapnya dalam.


"Aku sudah lebih baik, Ibu. Ibu Sumayah merawatku dengan sangat baik, ia juga memberikan aku pendidikan yang sama dengan kakak Salim," jawab Teo apa adanya.


Priscilla terdiam, menatap tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Teo meraih tangan Priscilla dan menggenggamnya.


"Ibu, ibu Sumayah itu bukan orang jahat. Dia orang yang baik, dia memperlakukan Teo seperti anaknya sendiri. Ibu Sumayah tidak membedakan aku dengan kakak Salim, Ibu. Kami mendapat perlakuan yang sama darinya. Ibu jangan berpikir kalau ibu Sumayah itu jahat," ungkap Teo yang seketika membuat hati Priscilla bergetar karenanya.


Ia menangis tersedu, dalam hati menyesal mengingat semua kesalahan yang telah ia lakukan pada Sumayah. Mendengar penuturan Teo, Priscilla sadar bahwa Sumayah memang wanita yang baik. Ia tidak pantas disakiti.


"Maafkan Ibu, Teo. Maafkan Ibu. Ibu menyesal, Ibu menyesali semuanya," ucap Priscilla lagi memohon pada anaknya, Teo.


"Ibu, minta maaflah pada ibu Sumayah bukan padaku," ucap Teo lagi sembari menunjuk ke arah pintu di mana Sumayah baru saja masuk ke dalamnya.


Priscilla menoleh dengan mata yang berair deras. Ia mendekati Sumayah dan menjatuhkan diri di bawah kakinya.


"Nyonya, maafkan aku! Maafkan aku. Aku sungguh menyesali semua yang telah aku lakukan. Maafkan aku, Nyonya," mohon Priscilla menjatuhkan kepalanya di lantai.


Sumayah memegangi bahunya, ia mengangkat tubuh Priscilla dan memeluknya.

__ADS_1


"Semua yang telah terjadi biarlah terjadi. Lupakan semua, lebih baik sekarang kita fokus menata masa depan dengan yang lebih baik lagi," ucap Sumayah lagi dalam pelukan.


"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih dan maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku," ulang Priscilla lagi memohon pada Sumayah. Berdamailah dua wanita yang pernah berseteru itu.


"Maya!" panggil Kevin yang juga datang ke tempat tersebut bersama Salim.


Sumayah menoleh, hatinya selalu merasa perih setiap kali melihat laki-laki itu. Kevin mendatangi Sumayah dan bersujud di kakinya.


"Maya, maafkan aku, Maya. Tolong ampuni aku, aku menyesali semuanya. Maafkan aku, Maya," mohon Kevin. Sumayah termundur ke belakang dengan wajah yang terkejut saat Kevin menjatuhkan diri di lantai.


Laki-laki itu mendongak menatap Sumayah dengan gurat penyesalan di wajahnya.


"Tolong, beri aku kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya, aku berjanji akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Tolong, beri aku kesempatan," pinta Kevin lagi dengan sangat.


Sumayah melirik Juan yang mematung di dekat pintu. Laki-laki itu memberikan tatapan yang sulit diartikan.


Sumayah kembali menjatuhkan pandangan pada Kevin yang masih bersimpuh di kakinya.


"Maafkan aku, tapi semuanya sudah terlambat. Kesempatan itu sudah kau sia-siakan, Kevin, dan sudah tidak ada lagi," jawab Sumayah bergeming di tempatnya berdiri.


"Apakah memang sudah tidak ada kesempatan lagi untukku? Bukankah kita bisa memperbaikinya dan memulainya dari awal lagi? Kenapa sudah tidak ada?" pinta Kevin lagi dengan pandangan memohon pada Sumayah.


Wanita itu menggelengkan kepala, ia menatap Juan yang masih berdiri di tempatnya.


"Karena sudah tidak ada tempat lagi untukmu di hatiku, Kevin. Tempatmu sudah tergantikan oleh seseorang yang berdiri di sana," ungkap Sumayah sembari menatap Juan dengan senyum manis di bibir. Laki-laki itu ikut tersenyum.


Kevin mengikuti pandangan Sumayah, betapa ia terkejut saat melihat Juan adalah orang yang dimaksud Sumayah.


"Ju-an?" gumamnya. Sumayah mendatangi Juan dan menggandeng tangannya. Menunjukan pada Kevin bahwa dia sudah menemukan cinta sejatinya.


"Dia suamiku sekarang, Kevin," katanya sembari menjatuhkan kepala di bahu Juan.


Betapa Kevin kecewa, ia telah menyesali semuanya berharap suatu saat akan kembali pada pelukan Sumayah. Nyatanya, Sumayah telah menikah dengan Juan. Sahabatnya sendiri sekaligus pernah menjadi musuh.


Dia memang lebih pantas untuk mendampingi wanita mulia seperti Sumayah.


Ia bergumam dalam hati. Menyerah karena tidak mungkin untuknya mendapatkan kembali hati Sumayah.


******


"Ibu, ceritakan padaku bagaimana wajah Ibu bisa berubah?" pinta Salim. Mereka sedang berada di ruang keluarga menonton televisi.


"Ceritanya waktu itu ada seseorang yang menyiram wajah Ibu dengan cairan kimia dan itu merusak seluruh wajah Ibu. Beruntung, ada Juan yang menolong Ibu waktu itu. Dia membawa Ibu ke Rumah Sakit dan akhirnya bertemu dengan dokter baik. Lalu, seperti inilah jadinya. Wajah Ibu berubah," jawab Sumayah sembari melirik Juan penuh cinta.


"Apa kau tahu, Nak? Ibu sempat terpuruk dengan wajah baru Ibu waktu itu. Ibu takut Salim tidak akan mengenali Ibu lagi. Ibu takut Salim tidak mau mengakui Ibu lagi, tapi Juan memberikan dukungan pada Ibu. Dan jadilah kita sekarang bisa berkumpul bersama lagi sebagai keluarga kecil yang bahagia," ungkap Sumayah yang menjatuhkan diri di bahu Juan.


Salim ikut menyandarkan tubuhnya di antara kaki keduanya. Disusul Teo yang duduk di samping Salim. Ia tak segan lagi untuk bermanja dengan mereka.


Bahagialah, Sumayah.


Bahagialah, Salim.


Kevin dan Priscilla perlahan berubah menjadi orang yang baik dan melakukan segala macam kebaikan demi menebus dosa yang telah mereka lakukan. Rai di sisa hidupnya terus-menerus terkurung dalam lingkaran penyesalan.


\=TAMAT\=

__ADS_1


__ADS_2