Sumayah

Sumayah
Pengampunan


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, dan hari ini Sumayah mengambil keputusan.


"Apa Anda yakin akan melakukan ini, Nyonya?" tanya Juan memastikan. Sumayah bergeming di balik meja kerja yang dulu ditempati Kevin.


"Aku sudah berpikir ribuan kali, Juan. Sepertinya memang sudah saatnya melepas mereka," jawab Sumayah dengan pandangan tegas lagi tajam.


Juan mendesah pasrah, apa yang bisa ia lakukan selain menuruti kemauan Nyonya-nya itu.


"Baiklah, Nyonya. Saya akan menyiapkan semuanya," ucap Juan seraya berbalik meninggalkan ruang kerja Sumayah.


Sumayah merenung, ada rasa ingin melihat bagaimana perkembangan putra Priscilla di bawah asuhan Juan langsung. Ia beranjak berencana mengunjungi tempat di mana Teo belajar banyak hal.


Sore hari, ia pergi ke bagian Timur mansion-nya. Di ujung sana terdapat sebuah bangunan yang dipagari tembok sekelilingnya dengan gerbang sebagai pemisah.


Ia berjalan di serambi rumah sendirian. Susana yang sejuk dengan berbagai tanaman yang tumbuh subur di sekelilingnya. Sumayah menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Ia tersenyum, apa yang seharusnya menjadi miliknya kini telah kembali. Semua rencana yang disusunnya berjalan dengan lancar.


"Nyonya!" Seseorang menyapa memapak langkahnya. Ia membungkuk di hadapan Sumayah cukup lama.


"Ada apa?" tanya Sumayah yang seketika menghentikan langkah.


"Maafkan saya, ada titipan untuk Anda, Nyonya," katanya seraya menyodorkan sesuatu di tangannya pada Sumayah.


Sumayah menatap benda di hadapannya dengan kedua ujung alis yang saling bertaut. Ia melirik laki-laki di depannya yang menunduk lagi.


"Apa ini? Siapa yang menitipkannya padamu?" tanya Sumayah sembari menerima benda di tangannya.


"Anda akan tahu setelah Anda membukanya, Nyonya," sahutnya seraya menurunkan kembali tangannya setelah Sumayah mengambil benda di tangan.


"Baiklah, kau boleh pergi!" titahnya.


Sumayah memperhatikan benda kecil di tangan. "Apa ini?" gumamnya dengan dahi yang berkerut.


Ia tak sadar, di balik sebuah pohon seseorang tengah memperhatikan dirinya. Ia tersenyum saat melihat Sumayah menerima pemberian darinya.


"Semoga kau suka," bisiknya pada diri sendiri.


Ia tak beranjak hingga Sumayah membuka bungkusan kecil tersebut. Sebuah kotak beludru berwarna merah yang entah apa isinya. Tak ada tulisan apa pun pada kotak tersebut hingga ia membuka kotak itu dan secarik kertas terlipat di dalamnya.

__ADS_1


Sumayah mengambilnya, ia tersenyum saat melihat sebuah kalung emas putih berbandul permata biru yang mungil. Sumayah membuka lipatan kertas dan membaca isinya.


"Selamat ulang tahun, Maya! Aku memang tidak seromantis Kevin, tapi semoga kau suka dengan hadiah kecil ini."


Senyum di bibirnya terkembang sempurna. Indah dan mempesona. Sumayah beralih tatapan pada kalung tersebut. Ia mengambilnya dan mengangkatnya.


"Cantik!" gumamnya sembari melihat kalung yang ia angkat tepat di depan wajahnya.


"Kau lihat, aku tahu kau berada di sini. Aku akan memakai ini untukmu," ucap Sumayah seraya memakai kalung tersebut di dalam hijab yang ia kenakan.


Sumayah tahu, dia berada di sini sedang bersembunyi. Diam-diam memperhatikan dari kejauhan. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Tepat saat kepala Sumayah menatap sebuah pohon, sosok yang bersembunyi di baliknya merapat pada batang pohon tersebut.


Ia tersenyum lega, menjatuhkan kepala pada pohon dengan dada yang naik turun. Melihat Sumayah yang tersenyum sambil menerima hadiah darinya saja sudah membuat jantungnya tak karuan.


"Biarlah, teruslah bersembunyi," katanya seraya meneruskan langkah menuju tempat karantina semua para pengkhianat. Tempat itu dijaga ketat, tak satu pun dari mereka dapat melarikan diri dari sana.


"Nyonya!" sapa penjaga gerbang seraya membukakan pintu untuk Sumayah.


"Apa Juan di dalam?" tanya Sumayah.


"Benar, Nyonya. Tuan Juan ada di dalam sedang mengajari Teo," jawabnya.


"Juan!" panggil Sumayah saat melihat sosok yang dicarinya sedang berdiri memperhatikan. Setelan jas hitam lengkap dengan sepatu pantofel yang mengkilap, menambah karisma laki-laki lajang itu. Juan betah sekali jadi jomblo.


"Nyonya! Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Juan sembari sedikit membungkuk di depan Sumayah.


"Aku ingin melihat anak itu," katanya seraya berpaling dari menatap Juan ke sekitar lokasi tersebut.


"Mari saya antar, Nyonya!" ajak Juan sembari menggerakkan tangannya mempersilahkan Sumayah berjalan lebih dulu.


Ia melangkah diiringi Juan yang mengekor di belakangnya. Sumayah mematung begitu tiba di tempat Teo berada. Anak itu sedang belajar seperti anak-anak lainnya dengan seorang guru privat. Sumayah tersenyum puas, ibunya memang melakukan kesalahan, tapi anak itu tidak tahu apa pun perihal yang ibunya lakukan. Dia masih bisa diluruskan selama pendidikan yang diterimanya sesuai dengan aturan negara dan agama.


Tiga hari berlalu, Juan mendatangi ruang bawah tanah. Di tangannya memegang buntalan kain yang berisi pakaian ganti untuk mereka bertiga.


Brak!


Bugh!

__ADS_1


Satu buntalan kain dilempar Juan ke hadapan ketiga orang yang duduk lesu di dalam ruangan.


"Ganti pakaian kalian dan cepat pakai itu! Ada yang datang mencari kalian bertiga," titah Juan kepada ketiganya.


Mereka menatap buntalan itu dan mengambilnya dengan pelan.


"Nyonya akan mengeluarkan kalian dari sini. Gunakan kesempatan ini dengan baik, dan buatlah kesan yang baik pula agar Nyonya tidak berubah pikiran," lanjut Juan menatap dingin ketiga orang itu.


Kevin dan Rai segera mengganti baju mereka. Lumayan dari pada pakaian yang telah mereka kenakan beberapa bulan ini.


"Kenapa kau tidak mengganti bajumu?" tanya Juan pada Priscilla yang masih bergeming dengan pakaian di pelukannya.


Wanita itu menatap geram Juan, rasa benci dan dendam jelas tersirat di maniknya yang berwarna biru.


"Bagaimana aku akan mengganti pakaian kalau di hadapanku ada banyak pria?!" ketus Priscilla sengit.


Juan mengangkat satu sudut bibirnya, rasanya ingin tertawa lebar saja mendengar Priscilla mengatakan hal tadi.


"Kau mengatakan itu seolah-olah kau adalah gadis yang tak pernah tersentuh laki-laki. Sementara mereka berdua telah sering melihat bahkan mencicipi tubuhmu itu!" cibir Juan yang berhasil menohok jantungnya.


Priscilla menggeram, memicingkan mata tajam pada sosok Juan yang sebenarnya mempesona.


"Tapi kau tidak termasuk di dalamnya!" sarkas Priscilla yang lagi-lagi membuat Juan terkekeh.


"Aku tidak terbiasa mencicipi sesuatu yang dinikmati oleh orang banyak," sahut Juan tepat merobek harga diri Priscilla.


Wanita itu bungkam. Marah, tapi tak dapat berkata apa-apa.


"Baiklah ... baiklah, aku akan membiarkanmu mengganti baju," katanya seraya keluar dari ruangan dan menunggu di balik pintu.


"Aku sudah selesai!" beritahu Priscilla setelah beberapa saat terdiam tak ada suara.


Juan membuka pintu dan membiarkan mereka keluar untuk menemui orang yang ingin bertemu dengan mereka.


"Nyonya!" seru Juan setelah melihat punggung Sumayah dari balik kursi.


Wanita itu menoleh dan tersenyum. Di hadapannya tiga orang berseragam duduk menunggu.

__ADS_1


"Kalian sudah datang? Orang-orang ini ingin bertemu dengan kalian," ucap Sumayah menunjuk ketiga orang yang duduk di hadapannya.


Kevin, Rai, juga Priscilla menegang sesaat mereka mengenali ketiga orang itu.


__ADS_2