Sumayah

Sumayah
Ayahku Adalah


__ADS_3

Di bawah guyuran hujan deras, Salim duduk diam tanpa kata. Pandangannya kosong ke depan tiada asa dan harapan. Di kanan dan kirinya, pengawal Kevin duduk waspada. Tiga mobil beriringan meninggalkan pantai tempat Sumayah terluka tiada pertolongan.


Ibu, Ibu harus hidup. Ibu harus menjemputku, Ibu tidak boleh mati! Ibu, kuatlah agar kita bisa berkumpul kembali.


Hati kecilnya meminta sembari menahan sebak di dada.


Kedua tangan mengepal erat, pandangannya yang jenaka berubah dingin dan tajam. Ia tidak peduli ke mana orang-orang itu akan membawanya.


"Tuan, kami menemukan Tuan Muda!" lapor salah satu dari mereka lewat sambungan telepon. Sudut matanya melirik Salim yang tak bergerak bagai patung.


"Benarkah? Bagus ... bagus! Cepat bawa dia ke mansion, aku menunggu!" sahut Kevin dengan suara antusias yang teramat. Ia segera menutup sambungan telepon dan bergegas pulang ke mansion.


"Anakku! Akhirnya, aku dapat bertemu denganmu!" gumamnya seraya mempercepat langkah menuju basemen di mana mobilnya berada. Senyum penuh kebahagiaan tercetak dengan jelas di bibirnya. Para karyawan yang melihat terheran-heran dibuatnya. Namun, ia tidak peduli. Ia harus segera sampai di mansion untuk bertemu anaknya.


Di dalam mobil ke-empat orang yang duduk bersama Salim tak henti memperhatikan gerak-gerik Salim yang terdiam tanpa kata.


Mereka waspada, takut anak kecil itu akan melakukan sesuatu dan membahayakan mereka.


"Tuan Muda, apa Anda ingin memakan sesuatu? Atau meminum sesuatu?" tanya seseorang yang duduk di kursi samping kemudi juga yang melapor tadi.


"Namaku Salim, aku bukan Tuan Muda!" ketus Salim tanpa mengalihkan pandangannya dari udara kosong dan hampa.


Dia diam, tak lagi banyak bicara dan menatap lurus pada jalanan yang terhalang oleh derasnya hujan.


Melihat reaksi Salim yang keras, keempatnya tak mencoba untuk berbicara lagi. Diam seribu bahasa dan hanya fokus pada jalanan agar secepatnya tiba.


Butuh waktu hampir seharian untuk sampai di kota mereka. Salim meragu dalam hatinya, apakah Sumayah akan berhasil menemukannya. Semoga saja, hatinya berharap penuh pada sosok Ibu yang selama ini menjadi Ayah untuknya.


Ibu pasti bisa menemukan aku di mana pun aku berada. Aku yakin, Ibu pasti akan menemukan aku!

__ADS_1


Mobil terus melaju menerjang air yang jatuh dengan lebat. Sama sekali tidak ada tanda-tanda ianya akan berhenti. Sambaran petir sesekali mengiringi perjalanan ketiga mobil mewah tersebut.


Cahayanya yang menyilaukan seolah-olah menghadang laju mereka. Langit saja tidak rela dua anak dan Ibu itu dipisahkan secara paksa. Namun, orang-orang itu bagai Iblis yang tak memiliki nurani. Sikap mereka menentang langit bahkan terkesan mengolok-olok pasukan-Nya berupa guntur dan petir juga hujan yang semakin lebat menghalangi.


Mau dibawa ke mana aku sebenarnya, kenapa rasanya jauh sekali? Ibu, Ibu tahu mereka membawaku ke mana, bukan? Ibu tahu aku ada di mana, bukan? Cepat bangun, Bu! Dan jemput aku.


Hati kecilnya kembali bergumam sambil merajut asa pada langit yang bermurah hati.


Tolonglah Ibuku, ya Allah! Tolong bangunkan dia agar dia bisa menjemputku secepatnya. Kumohon!


Langit semakin menjerit mendengar ratapan Salim. Ia tahu kondisi Sumayah begitu parah. Ia pun melihat dengan jelas bagaimana darah tak berhenti mengalir dari kepalanya. Mata kecilnya memperhatikan Sumayah yang perlahan terpejam dan tak sadarkan diri.


Ingin menangis? Tentu saja, tapi ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan mereka. Ia harus bisa menahan tangisnya.


Mobil memasuki sebuah kawasan perumahan mewah di kota. Terus melaju meski terkadang suara petir memekakkan telinga. Salim mengedarkan pandangan ke sekitar, gedung-gedung perumahan yang mewah, tinggi menjulang dan gagah, menyambut kedatangannya.


Salim tidak tertarik untuk melihatnya. Ia lebih memilih menundukkan kepala dalam-dalam sembari berdoa meminta pada Yang Esa untuk keselamatan Sumayah seorang.


"Rumah siapa ini?" Tanpa sadar bibir kecil Salim bertanya. Pandangannya menatap pintu utama yang berdaun dua terkesan begitu besar dan megah.


"Ini rumah Anda, Tuan Muda, dan yang di sana itu adalah Ayah Anda." Pengawal yang duduk di depan memberitahu Salim sembari tersenyum.


Mengernyit dahi kecilnya, menatap dingin seorang pria dewasa yang berdiri di teras rumah tersebut. Ia gagah, tampan dan berwibawa. Setelah hitam yang dikenakannya, menambah kesan arogan pada sosok Kevin yang dipandanginya.


"Anda begitu mirip dengan Tuan-"


"Hentikan omong kosongmu! Aku tidak suka disamakan dengan orang yang tidak aku kenal. Lagi pula, ini bukan rumahku dan dia bukan Ayahku!" tukas Salim memangkas ucapan pengawal yang mencari muka padanya.


Ia diam tak lagi bicara. Berpaling wajah ke depan demi menyembunyikan semu merah di pipinya.

__ADS_1


Mobil berhenti tepat di depan rumah besar tersebut. Satu orang datang menyongsong dengan sebuah payung di tangan. Dibukanya pintu mobil dan dituntunnya Salim untuk turun.


Bocah itu bergeming mematri pandangan pada sosok Kevin yang gelisah menunggu.


"Tuan Muda!" tegur orang yang membawa payung membuyarkan lamunan Salim.


"Tidak perlu memayungiku! Aku akan jalan sendiri di atas kakiku!" tolak Salim saat sebuah tangan terjulur ke arahnya. Ia bahkan membuang pandangan dari semua orang dan kembali fokus pada wajah Kevin yang dia akui memang ada sedikit kemiripan, tapi ia menolak.


Salim mendorong orang yang berdiri dekat mobil hingga jatuh terjerembab. Kevin bereaksi, ia masih menunggu bagaimana sosok putranya.


Salim keluar tanpa ingin dipayungi, ia berdiri di bawah guyuran hujan yang deras menatap berang sosok Ayah di depannya.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa anakku masuk!" teriak Kevin cemas.


"Tidak perlu, Tuan! Aku hanya butuh jawaban untuk satu pertanyaanku. Untuk apa kalian membawaku ke sini?" tanya Salim menolak meninggalkan hujan.


Kevin gugup, dari mana ia harus memulainya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk membujuk Salim yang masih bergeming di bawah hujan. Seandainya ada Juan ... ah, tidak! Juan tidak ada di sisinya. Laki-laki itu pasti tahu apa yang harus dilakukan. Bodoh!


"Kau ... kau adalah anakku. Yah ... kau adalah anakku, kemarilah! Kau bisa sakit jika berdiri di bawah hujan seperti itu!" ucap Kevin terbata. Ia mengulurkan tangan meminta Salim untuk mendekat.


Kepala anak laki-laki itu menggeleng, tetap pada pendiriannya menolak masuk ke rumah Kevin.


"Jika kau benar Ayahku, maka kau tidak akan memisahkan aku dengan Ibuku. Apa kau tahu, Tuan ...," Salim menjeda ucapannya. Maniknya yang sama persis dengan milik Kevin berkilat penuh amarah.


"Ibuku bilang, Ayahku adalah seorang laki-laki yang baik dan bertanggungjawab. Dia seorang laki-laki pemberani dan bukan pengecut. Dia laki-laki tampan yang penuh wibawa, dan yang paling penting ... dia sangat mencintai Ibuku. Dia laki-laki yang tidak pernah berlaku kasar terhadap Ibuku. Dia berperangai lembut dan penuh kasih sayang. Dia tidak akan pernah tega menyakiti Ibuku apalagi ingin membunuhnya. Jadi, Tuan-"


"Katakan padaku, apa benar kau adalah Ayahku?" ungkap Salim yang seketika membungkam mulut Kevin dan membekukan tubuhnya bahkan semua pengawal yang mendengar, ikut membeku mendengar penuturan Salim.


"Aku ...."

__ADS_1


******


Haduh sudah harus bersambung lagi....


__ADS_2