Sumayah

Sumayah
Siapa?


__ADS_3

Tanpa ketiganya ketahui, di kejauhan seseorang mengintai dengan geram. Ia berbicara pada orang lainnya seperti tengah memerintah sesuatu. Setelahnya, ia masuk ke dalam mobil memperhatikan. Menunggu aksi dari orang suruhannya.


Usai berpamitan pada Salim, Sumayah lantas berbalik dan melangkahkan kakinya tanpa menoleh pada Kevin. Tujuannya hanyalah bermain dengan Salim, tanpa ada niat berbicara dengan laki-laki itu.


Melihat sikap Sumayah yang tak mengindahkan kehadirannya, Kevin sungguh kecewa. Entah kenapa, padahal hatinya tengah membenci wanita itu. Ia menatap punggung Sumayah yang berjalan perlahan menjauh darinya.


"Kenapa kau tidak memikirkan dulu permintaan Salim? Kau bisa kembali ke rumah itu."


Tanpa sadar lisannya berucap demikian. Kevin sendiri terperangah usai mengatakannya. Kenapa? Kenapa kalimat itu bisa meluncur dengan sendirinya seperti tadi?


Sumayah menghentikan langkah, mencerna kalimat Kevin sebelum berbalik badan. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi, terkesan dingin dan kaku bagai makhluk tanpa nyawa.


"Kenapa? Apa kau berubah pikiran dan tidak ingin membunuhku lagi?" ketus Sumayah diakhiri senyum smirk menjengkelkan bagi Kevin.


"Sekali pun di dunia ini hanya ada kau seorang, aku tidak sudi kembali padamu. Lagi pula kau sudah memiliki istri dan juga anak darinya, bukan? Jadi Kevin ... berbahagialah kau bersamanya, dan jangan ganggu aku-"


"Ingatkan pada istrimu jangan pernah menyentuh anakku! Sedikit saja kulitnya tergores, kalian semua akan menerima balasan berkali lipat dariku bahkan polisi sekali pun tidak akan bisa mencegahku saat waktu itu tiba," ucap Sumayah dengan serius.


Kevin meneguk ludah, itulah kenapa dia membutuhkan puluhan orang untuk menangkap Sumayah karena dia sendiri tak akan sanggup melakukannya. Setiap kali memandang wajah itu, rasa rindu dalam hatinya membalut luka yang tumbuh meski benci masih meraja, tapi cinta untuk Sumayah tetap yang utama.


Sumayah tersenyum pada Salim, ia melambaikan tangan sebelum berbalik dan pergi meninggalkan taman.


Dipayungi awan senja, seharusnya ini menjadi momen keromantisan cinta mereka yang akan bersemi kembali. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Kevin saat melihat Sumayah dan Salim bercengkrama bersamanya tanpa canggung.


Ia pikir, Sumayah ingin kembali padanya dengan meminta waktu bermain supaya hatinya meluluh kembali. Nyatanya, hati Kevin memang luluh, tapi Sumayah tidak sama sekali.


Keduanya masih duduk di bangku taman menatap punggung Sumayah yang menjauh dan menghilang di sebuah gang.


"Ayah!" Salim mengguncang tangan Kevin yang berada di pangkuan. Membuyarkan lamunan Kevin tentang senja indah bersama Sumayah.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Kevin sembari menarik Salim ke atas pangkuannya.


"Kenapa Ayah terlihat sedih? Apakah karena Ibu menolak ajakan Ayah? Jika Ayah mau, Salim akan membujuk Ibu agar mau ikut bersama kita ke rumah," tutur Salim manis sekali terdengar di telinga Kevin.


Laki-laki itu tersenyum, ia belai rambut putranya dengan lembut.


"Tidak apa-apa, mungkin Ibumu benar. Laki-laki brengsek seperti Ayah tidak pantas bersamanya," timpal Kevin tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh. Padahal cinta, tapi begitu mudah termakan hasutan. Padahal ingin bersama, tapi gengsi terlalu tinggi.


Mereka berdua beranjak meninggalkan taman.


"Ayah, bisakah kau menggendongku? Dulu, Ibu hampir setiap hari menggendongku," pinta Salim sembari mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke atas.


Kevin tersenyum, hanya permintaan sederhana itu sudah membuat hatinya berbunga-bunga.


"Baiklah! Sekarang naiklah, Ayah akan membawamu terbang tinggi!" ucapnya seraya berjongkok di depan Salim dan membawa Salim berlari pelan dalam gendongan. Gelak tawa dari keduanya memicu rasa cemburu dalam hati seseorang yang berniat menghampiri mereka.


"Bahagia sekali kalian!" sindir Priscilla yang sudah berdiri di samping mobil Kevin.


Kevin menurunkan pandangan, tak tega melihat mata kecil berkaca itu ia pun menurunkan Salim.


"Kakak Salim turun sebentar, ya. Sekarang biarkan Teo ikut terbang," ucapnya. Ia mengangkat tubuh Teo ke atas dan mendudukkannya di pundak. Berputar sebentar dan menurunkannya kembali. Tawa anak itu berhasil membuat Priscilla tersenyum. Ia tak menyangka kali ini Kevin memenuhi permintaan anaknya meskipun hanya sebentar.


"Sudah, ya," katanya seraya membawa Salim masuk ke dalam mobil.


"Kami ikut!" cegah Priscilla dengan cepat.


"Mmm." Hanya itu sahutan dari Kevin. Priscilla ikut masuk bersama Teo duduk di bangku belakang.


Matahari mulai merangkak meninggalkan singgasana dan menuju peraduannya. Menghadirkan gelap yang perlahan menutupi jagat raya. Sehari bersama Salim dan Sumayah membuat Kevin mengerti sebuah ikatan. Sumayah dan Salim memiliki ikatan yang sangat kuat hingga ia harus bekerja keras untuk dapat memisahkan mereka.

__ADS_1


Suasana dalam mobil menghangatkan hati Priscilla karena Kevin sesekali menimpali celotehan anaknya yang tak penting. Biasanya ia akan bersikap tak acuh padanya. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang berbunga.


Di kejauhan, Sumayah belumlah pergi. Ia mengintip apa yang terjadi termasuk kedatangan Priscilla. Bibirnya tersenyum, berharap semoga Salim tidak melupakan nasihatnya.


"Tunggu saja kalian! Setelah semua bukti dan saksi aku dapatkan, aku pastikan kalian yang akan mendekam di dalam penjara. Untuk saat ini, nikmati kebahagiaan kalian sebelum penderitaan datang," gumam Sumayah seraya berbalik setelah mobil milik Kevin menghilang.


Ia menuju mushola yang berada di sekitar taman untuk menunaikan kewajiban tiga rakaat. Berdoa dengan khusyuk meminta pada sang Kuasa untuk keselamatan Salim di rumah besar itu.


Tiada lagi yang dia inginkan selain cepat selesainya kasus ini. Ia harus mencari cara agar bisa masuk ke dalam mansion, menyamar menjadi pembantu atau selainnya. Perlahan saja, biarkan Salim melakukan tugasnya merayu Kevin dan menjauhkannya dari wanita ular itu.


Sumayah melipat mukena dan sajadah, merapikannya ke dalam sebuah lemari kecil. Ia akan kembali ke tempat tinggalnya menyusun rencana selanjutnya sambil menunggu kabar dari pengacara muda yang sedang mengumpulkan bukti dan mencari saksi.


Ia keluar dari mushola kembali berjalan di jalan yang sama. Menjejakkan kaki di bawah temaram sinar lampu jalanan. Seorang diri tanpa teman dan kekasih.


Sadar sesuatu yang aneh tiba-tiba ia rasakan. Jalanan yang sepi begitu terasa mencekam. Seperti di film-film horor bulu kuduk Sumayah berdiri. Ia merinding sesuatu mengikutinya dari belakang.


Sumayah mendekap tubuhnya sendiri karena suhu udara tiba-tiba menurun di sekitarnya. Ia tak menghentikan langkah, terus berjalan dengan cepat ingin segera meninggalkan tempat mencekam itu.


Tepat, saat di belokan sesuatu menyiram wajah Sumayah.


"Argh!"


Sumayah menjerit histeris. Rasa panas terasa membakar wajahnya. Ia dapat merasakan kulit di wajahnya mulai melepuh saat kedua tangannya mencoba menutupi wajah.


"Ya Allah! Tidak! Apa ini, panas sekali! Argh ... panas! Perih!" pekik Sumayah berlari kepanasan. Pandangannya tiba-tiba menggelap, dia jatuh tak sadarkan diri. Entah apa yang disiramkan ke wajahnya.


"Astaghfirullah!" pekik seseorang melihat sosok Sumayah tergolek di jalanan. Dengan sigap ia mengangkat tubuh itu dan membawanya ke Rumah Sakit.


*****

__ADS_1


Siapa yang membawa Sumayah?


__ADS_2