Sumayah

Sumayah
Seandainya ....


__ADS_3

Kevin yang murka segera masuk ke dalam dan menghardik Priscilla. Tak ingin Salim melihat kekerasan, Sumayah membawa anaknya menuju kamar.


Priscilla berdiri gelisah, menggigit kukunya sesekali sambil mengedarkan pandangan ke segala arah. Tiba-tiba Kevin mencengkeram tangannya membuat Priscilla mendongak dengan ketakutan.


"Katakan padaku, siapa laki-laki tadi? Katakan, Priscilla! Apa benar dia ayahnya Teo?" bentak Kevin sembari mengeratkan cengkeraman di tangan wanita ular itu.


"Sa-sakit, Kevin! Kau menyakitiku!" rintih Priscilla meringis merasakan sakit dari tangan Kevin yang terus menguat.


"Jangan membuat alasan, Cilla! Aku menuntut penjelasan darimu siapa laki-laki tadi? Apa benar Teo anaknya? Apa yang dikatakan oleh Juan selama ini benar adanya bahwa kau selalu tidur dengan laki-laki lain selain aku?! Katakan Priscilla, katakan semuanya!" tuntut Kevin dengan nada suara yang naik turun.


Gemuruh dalam dada membuatnya merasa dihantam gada Malaikat Malik di neraka. Sesak dan serasa hancur berkeping-keping.


"Lepaskan tanganku, Kevin!" lirih Priscilla sembari memutar tangan yang dicengkeram Kevin.


"Tidak akan aku lepaskan sampai kau mengakui yang sebenarnya!" kecam Kevin dengan jarak wajah yang begitu dekat.


"Jadi, katakan padaku ... apa benar yang dikatakan laki-laki itu?!" Ia berteriak di telinga wanita itu.


Priscilla memejamkan mata rapat-rapat. Telinganya berdenging nyeri akibat suara tinggi Kevin. Bahkan ludah dari lidah laki-laki itu menciprat di wajahnya mencipta titik-titik di sana.


"Yah ... dia memang Ayah dari Teo! Apa kau puas, hah! Apa kau puas?! Sekarang, lepaskan tanganku!" Priscilla balas meninggikan suara di depan wajah Kevin.


Matanya merah menyala, wajahnya menghitam. Dua orang itu kini sama-sama dikuasai api kemarahan.


Kevin yang terkejut, melepas cengkeramannya pada tangan wanita itu. Ia termangu tak percaya. Matanya membesar dengan mulut terbuka lebar.


Priscilla memegangi tangannya yang terasa nyeri akibat cengkeraman Kevin. Ia menatap sinis laki-laki yang kini terdiam dengan wajah bodohnya.


"Kau bodoh, Kevin! Teo sama sekali tidak memiliki kemiripan denganmu. Benar apa yang kau katakan, dia memang bukan anakmu! Laki-laki yang datang tadi itu adalah ayahnya. Sekarang kau puas! Apa yang-"

__ADS_1


Plak!


Sebuah tamparan mendarat dengan keras sebelum Priscilla mengakhiri ucapannya. Membekas meninggalkan jejak empat jari yang memerah di pipinya. Wanita itu memegangi dan mengelusnya. Perih terasa, setetes darah merembes di sudutnya.


Ia lirik laki-laki yang kembali pada wajahnya yang menghitam. Laki-laki itu bahkan tidak menyesali perbuatannya.


"Kau menamparku? Kenapa kau menamparku?" Priscilla memicingkan mata menatap Kevin.


"Itu bahkan belum cukup untuk membalas pengkhianatanmu, Cilla!" geram Kevin.


Priscilla tersenyum sinis. "Apa kau lupa bercermin? Kau pun mengkhianati istrimu sendiri, Kevin! Bahkan ingin membunuhnya tanpa alasan. Apa kau tidak menyadari itu!" sindir Priscilla yang sukses membuat Kevin membeku. Namun, selanjutnya ia tak dapat menahan diri lagi.


"Pergi dari rumahku! Tinggalkan rumahku karena mulai detik ini kau bukan lagi istriku!" ucap Kevin tanpa perasaan.


Priscilla memelas, ia menangis pilu. Detik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema ke segala penjuru rumah. Kevin dilanda kebingungan melihat sikap wanita itu.


"Hiduplah dengan baik di sini bersamaku karena semua yang kau miliki adalah milikku juga!" tandas Priscilla sembari berbalik meninggalkan Kevin.


Lagi-lagi Kevin dikalahkan oleh wanita itu.


"Sial! Kenapa aku harus memberikan perjanjian itu dulu! Awas kau, Cilla! Bagaimana pun caranya kau harus pergi dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun dari hartaku!" geram Kevin sembari mengepalkan kedua tangan menatap nyalang punggung Priscilla yang menaiki anak tangga.


Prang!


Sebuah guci menjadi pelampiasan kemarahan Kevin.


Sumayah tersenyum mendengar pertengkaran mereka, ia bersama Salim yang disibukkan dengan game di tangannya.


Kalian bodoh! Tiada guna memperebutkan harta yang sebentar lagi akan lenyap dari hidup kalian. Nikmati sisa-sisa waktu kalian di rumah ini!

__ADS_1


"Salim, boleh Ibu bertanya sesuatu?" ucap Sumayah sembari menilik Salim dengan seksama. Salim berpaling dan mengangguk pelan.


"Kalau Salim disuruh memilih antara Ibu dan Ayah, siapa yang akan Salim pilih? Salim tahu, bukan? Ayah dan Ibu sangat jauh berbeda. Ibu tidak memiliki apa pun untuk memenuhi semua keinginan Salim," tutur Sumayah berandai-andai.


Salim menatap Sumayah dalam-dalam. Jika ia memang berada dalam situasi seperti itu, apa yang akan ia lakukan. Apakah ia harus ikut dengan Sumayah ataukah tetap bersama Kevin di rumah besarnya dengan semua harta yang dia miliki.


Salim meraih tangan Sumayah, menggenggamnya dengan lembut dan mencium punggung tangannya penuh hormat. Dipatrinya tatapan pada manik hangat milik wanita yang telah banyak berkorban untuknya itu.


"Ayahku adalah seorang yang kaya dan berkuasa. Dia memiliki segalanya, harta dan kemewahan. Apa yang aku butuhkan semua terpenuhi, apa yang aku inginkan semua bisa diwujudkan. Dia bahkan memberiku beberapa pelayan untuk melayani semua keperluanku. Aku tak perlu melakukan apa pun, cukup duduk dan memerintah seperti seorang putra mahkota. Setiap hari makan enak, mainan apa saja yang aku inginkan akan aku miliki. Hidup bersama Ayah, membuatku tak kekurangan apa pun." Salim menjeda ucapannya.


Ditiliknya Sumayah yang masih diam mendengarkan. Kevin yang samar mendengar menempelkan tubuh pada tembok samping pintu kamar Salim untuk menguping.


"Sedangkan Ibuku, dia hanyalah seorang yang miskin dan tak berdaya. Dia tidak memiliki apa-apa selain apa yang menempel di tubuhnya. Kalau aku tinggal hidup bersamanya, aku pasti akan kekurangan. Tidak tahu apa itu makan enak bahkan aku tidak tahu apakah aku akan memiliki mainan yang banyak seperti yang Ayah lakukan sekarang padaku."


Jatuh menetes air suci dari kelopak mata indah milik Sumayah. Sesak. Dadanya terasa sesak terhimpit oleh sesuatu yang ditimpahkan anak kandungnya sendiri. Namun, ia masih memandang Salim dengan tegar.


Tangan kecil Salim mengusap air yang dijatuhkan mata indah ibunya itu. Mengecup kedua belahnya untuk menghibur hati Sumayah yang gundah.


Kevin yang menguping, menarik garis bibirnya melengkung ke atas. Tersenyum penuh kemenangan. Diam-diam ia sudah berhasil merebut hati Salim dari Sumayah. Memang seperti itu seharusnya, bukan? Akhirnya, dialah yang berhasil memenangkan hati Salim dan bukan Sumayah. Ia lantas melenggang pergi dengan hatinya yang bahagia.


"Lagi pula, ibumu itu sudah mati!" Senangnya bukan main, Kevin sampai tertawa saat tiba di kamarnya.


Namun, ia tak pernah tahu Salim belum selesai dengan ucapannya.


"Tapi, Ibuku ... dia telah mengorbankan segalanya untukku bahkan nyawanya pun, ia pertaruhkan hanya untuk menyelamatkan aku. Aku tahu persis bagaimana perjuangannya hanya untuk membuatku tersenyum, bagaimana tekadnya untuk membuatku senang. Kegigihannya mencari yang hanya untuk membelikan aku mainan. Bagaimana mungkin aku tega meninggalkan dia yang telah menelan pahitnya hidup demi secuil rasa manis untuk kucicipi. Aku tidak akan meninggalkannya, aku lebih memilih hidup bersama Ibu meskipun Ibu tidak memiliki harta melimpah seperti Ayah. Aku mencintaimu, Bu."


Salim merengkuh Sumayah dan membenamkan wajahnya di pundak kokoh ibunya itu.


"Ibu kira Salim akan memilih Ayah dari pada Ibu," lirih Sumayah sembari membalas pelukan Salim dengan erat pula. Bahagia tak terkira, Salim masih ingin hidup bersamanya meskipun ia tak memiliki harta seperti yang dimiliki Kevin.

__ADS_1


__ADS_2