
Tiga hari lamanya, Kevin dan orang-orang yang berkhianat bersamanya dikurung Sumayah di dalam ruang bawah tanah dengan makanan dan minuman yang tak sepadan dengan jumlah orangnya.
"Maya! Buka pintunya! Wanita sialan, kenapa kau mengurung kami di sini!" Kevin menggedor-gedor pintu ruang bawah tanah yang tentu saja tak akan terdengar oleh Sumayah dan yang lainnya.
Bugh!
Sebuah dus berisi makanan terjatuh dari atas yang menjadi atap ruangan tersebut. Orang-orang yang berada di bawah sana, kembali berebut makanan tersebut. Jika tidak cepat, maka tak akan dapat. Priscilla pun harus ikut berebut bersama mereka karena jika tidak, tak ada yang peduli padanya untuk membagi makanan dengannya.
"Sial!" umpat Kevin saat menoleh dan makanan itu telah ludes dilahap orang-orang di bawah sana. Jadilah ia harus menahan lapar sampai esok hari.
Pintu ruang bawah tanah terbuka, Sumayah disusul Juan dan tiga orang pengawal memasuki ruang tersebut. Ia tersenyum saat melihat mereka memakan makanan dengan lahap.
"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian makan dengan cukup?" tanya Sumayah sembari melempar tatapan pada semua orang yang ada di ruangan tersebut.
"Nyonya, ampuni kami. Kami sungguh tidak tahu apa pun, kami hanya disuruh dan diancam jika tidak menurut. Nyonya, percayalah pada kami. Kami telah dipengaruhi oleh wanita itu, Nyonya. Tolong ampuni kami!"
"Benar, Nyonya. Ampuni kami!"
"Kami akan melakukan apa saja untuk menebus semua kesalahan kami."
"Kami akan membayarnya dengan kesetiaan kami, Nyonya."
"Tolong ampuni kami, Nyonya!"
Satu per satu dari orang-orang Kevin memohon pada Sumayah. Selain Kevin, Priscilla dan Rai tentunya. Mereka tetap bersikap angkuh seperti tidak menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan. Melirik sinis pada Sumayah dan Juan, jelas kebencian tergambar di tatapan mata mereka.
"Juan!" panggil Sumayah. Juan sigap melangkah ke depan Sumayah.
"Selain Kevin, Priscilla, dan Rai kalian ikuti laki-laki itu!" titah Juan pada semua orang kecuali tiga orang yang disebutkannya.
"Terima kasih, Nyonya!"
"Terima kasih, Tuan!"
"Terima kasih!"
__ADS_1
Satu per satu dari mereka mulai beranjak mengikuti salah satu pengawal yang ditunjuk Juan tadi. Entah akan pergi ke mana mereka. Yang pasti ketiga orang itu akan tinggal lebih lama di dalam ruang bawah tanah tersebut.
"Ibu, Teo juga mau keluar. Teo tidak mau di sini, Ibu. Nyonya bisakah saya juga ikut keluar?" rengek Teo yang menarik-narik baju Priscilla lalu beralih menatap Sumayah.
Tak tega hatinya melihat anak sekecil itu. Ia seperti melihat Salim.
"Apa kau mau berjanji meminta maaf dan tidak melakukan hal jahat lagi?" tanya Sumayah melempar tatapan pada anak itu.
"Teo, apa yang kau lakukan? Kau akan tetap di sini bersama Ibu, kau tidak akan pergi ke mana pun," tolak Priscilla menatap tajam putranya.
"Tapi aku ingin keluar Ibu! Nyonya, aku akan meminta maaf pada Tuan Muda. Aku bersumpah akan menjadi temannya dan tidak akan menyakitinya lagi," ucap Teo bersungguh-sungguh. Priscilla bahkan dikhianati anaknya sendiri.
Sumayah tertawa dalam hati melihat raut wajah Priscilla yang merah padam atas perkataan anaknya itu. Priscilla yang geram mencengkeram lengan putranya sendiri dengan kuat.
"Aw ... sakit, Ibu!" rintih Teo sembari meringis kesakitan.
Sumayah mengernyitkan dahi melihat Priscilla yang melotot lebar ke arah putranya.
"Kau bahkan tega menyakiti anak kandungmu sendiri. Padahal, binatang sekali pun akan tetap menjaga dan menyayangi darah dagingnya sendiri," ucap Sumayah tersenyum samar menatap kelakuan Priscilla.
"Diam, kau! Wanita sialan! Aku tidak butuh ceramahmu!" hardik Priscilla sembari terus memegangi tangan putranya.
"Hmm ... aku tidak peduli!" Sumayah mengalihkan pandangannya pada Kevin. Tatapan penuh cinta yang dulu selalu dilayangkan Sumayah padanya, kini tak ada lagi. Sumayah terkesan dingin tanpa ekspresi.
"Kevin, ada yang ingin kau sampaikan? Aku akan dengarkan!" tanya Sumayah sembari melihat Kevin datar.
Laki-laki itu tak menyahut, ia memalingkan wajah dari Sumayah enggan bertatapan dengannya.
"Baiklah, karena tak ada yang ingin berbicara lagi ... Juan? Ambil anak itu, dan berikan dia pengawal untuk diawasi!" titah Sumayah.
Teo berbinar, tapi Priscilla justru meludah penuh benci. Ia berdecih jijik sembari mengeratkan pegangannya pada Teo.
"Tidak akan aku biarkan kalian membawanya!" hardiknya sembari membuang ludah ke arah Sumayah. Wanita itu hanya tersenyum, lantas menginjak ludah Priscilla dan menggosok-gosokkannya.
Teo yang sangat ingin ikut keluar memberontak dari cekalan ibunya sendiri. Ia dengan cepat berlari menghampiri Juan setelah cekalan Priscilla terlepas.
__ADS_1
Sumayah beserta yang lainnya keluar meninggalkan mereka kembali di ruangan pengap dengan sedikit ventilasi udara tersebut.
Kau akan tahu bagaimana rasanya berpisah dengan anakmu. Tangisanmu saat ini belum seberapa dibandingkan dengan yang telah aku lalui. Kegelisahan, ketakutan, kerinduan, perlahan akan mengikis rasamu dan membuatmu menderita. Sama seperti yang pernah aku alami.
Sumayah tersenyum sembari terus melangkah memasuki rumah. Teo dibawa satu pengawal Juan ke tempat yang berlainan. Ia akan dididik layaknya anak seusianya sembari terus diawasi.
"Ibu! Paman!" sapa Salim saat melihat Sumayah yang berjalan beriringan dengan Juan.
"Salim? Bagaimana sekolahmu, Nak?" tanya Sumayah sembari mengusap kepala anaknya setelah Salim mencium tangannya.
"Alhamdulillah, lancar, Bu. Semua aman," katanya. Senyum yang ditampilkan Salim berbeda dari sebelumnya. Lebih ceria, lebih tulus dan lebih mempesona tentunya.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang makan sianglah, semua sudah siap di meja makan," ucap Sumayah yang diangguki Salim.
"Apa Ibu sudah makan?"
"Kau duluan saja, sayang. Ibu akan menyusul," katanya.
Salim beranjak menaikkan anak tangga menuju kamarnya. Mengganti seragam dengan pakaian biasa dan meletakan semua alat sekolahnya di tempat semula.
Ia kembali turun menuju meja makan. Kepala pelayan sudah menunggunya dan siap melayani.
"Aku bisa sendiri, Nenek!" katanya mengambil alih sendok nasi dan piring dari tangan wanita sepuh itu.
"Mulai sekarang, jangan layani aku seperti anak-anak manja di sekolahku. Aku bisa melakukan apa saja sendiri, kalau aku butuh bantuan aku akan meminta tolong," ucap Salim sembari terus mengisi piringnya dengan makanan.
"Baik, Tuan Muda!" sahutnya sopan.
"Satu lagi! Jangan pernah membungkuk di depanku! Aku tidak suka, Nenek lebih tua dari aku. Tidak pantas rasanya seorang yang lebih tua membungkuk di hadapan anak kecil. Jangan pernah lakukan lagi! Jangan lagi!"
Usai berceramah panjang lebar Salim barulah memulai makannya. Kepala pelayan itu tersenyum. Dia memang masih anak kecil belum mengerti apa pun.
Anda orang besar, Tuan Muda meskipun Anda masih kecil. Kakek Nenek Anda sangat disegani di Negeri ini, jadi pantaslah semua orang membungkuk di hadapan Anda.
Mata tua itu menatap penuh kekaguman pada sosok Salim yang sedang lahap memakan makan siangnya. Anak itu tak lagi banyak meminta, apa pun yang disediakan di meja makan ia akan memakannya.
__ADS_1
Sungguh beruntung Nyonya memiliki anak seperti Anda, Tuan Muda!