
"Sampai kapan kakak akan merahasiakan ini semua?"
"Sampai ketahuan lah" Ucapnya santai sambil terus menyetir.
"Huftt..."
"Sudah jangan fikirkan itu"
Amel menyenderkan kepalanya pada senderan kursi mobil, Ia memejamkan matanya, apa yang terjadi jika sahabatnya itu tahu si penulis surat ternyata kakaknya sendiri, Aku pun pasti akan terkena imbasnya.
"Kakak sudahi saja semua sebelum Dini semakin berharap"
"Biarkan saja perasaan itu hadir"
"Sadar kak, itu bukan untuk kakak"
Aditya melihat adiknya sejenak, lalu matanya kembali fokus menyetir.
"Biarlah...asal Dia bahagia"
"Kakak menyukainya ya?"
"Hemmm"
"Hah...sejak kapan?"
"Sudah jangan banyak bertanya"
Amel mendengus kesal, Ia ingin sekali mengetahui sejak kapan kakaknya itu menyukai Nandini, pantas saja dengan rela hati membalas surat-surat dari Nandini.
Sesampainya di rumah Mama dan Papah sedang berada di ruang tamu, mereka sedang membicarakan masalah perusahaan.
"Assalamualaikum, Mah...Pah"
"Eh kalian, pagi-pagi sudah ngelayap"
"Jogging Mah"
"Joging kok pakai mobil"
"Itu Kak Adit Mah"
"Mampir ke cafe distro tadi" Ucap Adit.
"Kamu ini Dit, kenapa tidak urus perusahaan Papah saja sih"
"Kan belajar dari yang kecil juga pah, lagian sama juga kan di bidang fashion"
"Iya tapi kan...."
Belum sempat meneruskan pembicaraan dengan Papahnya Adit sudah memotongnya.
"Pah..Aku mau jahit baju dengan desain sendiri nanti mau aku jual di distroku bisa tidak pah?"
"Ya harus partai besar"
"Ya jangan partai besar dulu Pah, bantu ya pah"
"Kamu ini Dit"
"Ya Pah, Please"
"Oke nanti papa bantu bicara dengan bagian produksi"
"Yes thanks Pah, Adit mau mandi dulu"
Adit berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Seharian ini Adit tidak berencana kemana pun karena semalam sudah kelelahan.
__ADS_1
Hanya ada satu rencana, sore nanti akan pergi ke rumah Nandini.
***
Sore harinya Aditya sudah siap ke rumah Nandini, Aditya menggunakan kaos warna biru Dongker dan jeans warna hitam, Aditya mengendarai motor tigernya.
Aditya mengendarai motornya dengan terus tersenyum, seperti akan bertemu dengan pujaan hati saja.
Sesampainya di rumah Nandini yang berada di belakang toko bangunan milik ayahnya, Aditya langsung turun dari motornya, lalu melangkah menuju pintu rumah Nandini.
Tok...Tok...Tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jawaban salam terdengar dari dalam rumah.
Ceklek...
"Lhoo...Mas Adam"
"Eh...Adit"
"Mas Adam....Kakak Nandini?"
"Iya...kamu mau bertemu Nandini ya?"
Aditya mengangguk, Adam lalu mempersilahkan Aditya masuk dan duduk di kursi tamu. Adam lalu memanggil Nandini yang sedang berada di dapur bersama dengan Ibu nya.
"Dek...Ada Adit itu di depan?"
"Siapa Adit Nduk?" Tanya Ibu sambil terus mengulek sambelnya.
"Teman Dini, Kakak Amel Bu, Dia ingin melihat gambar-gambar desain baju Dini"
"Ya sudah cuci tangan, temui dulu tamunya ya"
Sebelum menemui Aditya, Nandini membuatkan teh manis hangat dan beberapa cemilan seperti risol solo dan kue cucur untuk di hidangkan di ruang tamu.
Nandini berjalan menuju ruang tamu sambil membawa nampan, disana sudah ada Mas Adam dan kak Adit sedang mengobrol, bercanda tawa juga.
"Mas Adam kok akrab sekali dengan Kak Adit?"
Nandini menata minuman dan cemilan nya, lalu duduk di sebrang Aditya sambil memangku nampannya.
"Kami dulu satu tim di OSIS waktu SMA" Jawab Adam sambil mengambil teh hangat nya.
"Monggo di minum juga Kak"
"Iya Din"
Adit juga mengambil cangkir yang berisi teh manis hangat buatan Nandini.
Nandini lalu ke kamarnya untuk mengambil buku desain-desain baju miliknya, setelah itu kembali lagi ke ruang tamu.
"Kak ini buku nya,"
Aditya menerimanya lalu mulai membukanya, Aditya kagum dengan setiap desain yang Nandini gambar, Ia benar-benar bertekad ingin mengembangkan lagi potensi Nandini.
"Din...Aku berminat untuk menjahit dan menjualnya, Apa besok kita bisa menandatangani kontrak kerjasama"
Nandini menutup mulutnya penuh haru, Ia tidak percaya jika desain nya di minati oleh Aditya.
"Tidak perlu buru-buru kak, dilihat saja dulu dengan seksama, jika kakak ingin memproduksi, produksi saja, masalah kontrak nanti saja"
Aditya tersenyum " Oke kalau begitu "
Padahal aku ingin kamu menandatangani kontrak kerja dengan ku agar aku bisa selalu ada alasan untuk bertemu dengan mu, berdiskusi dengan mu, memandangmu Din, Batin Aditya.
__ADS_1
Mereka bertiga kembali berbincang mengenai sekolah, kuliah, distro dan rencana ke depan.
Aditya merasa sangat nyaman jika mengajak berunding dengan Nandini, walaupun Nandini masih SMP tapi pola pikirnya sudah begitu bagus untuk remaja seusianya.
Tanpa terasa ternyata sudah Adzan magrib, Mereka segera melaksanakan sholat magrib di mushola.
Selesai sholat magrib mereka mengaji di kamar masing-masing, kali ini Adam menemani Aditya di ruang tamu tidak ikut mengaji dulu.
Di keluarga Nandini mewajibkan anak-anaknya untuk mengaji ba'da magrib.
Aditya mendengar Nandini yang melantunkan ayat suci Alquran dengan merdunya, Aditya menyimak dan mengagumi suara Nandini yang fasih dalam membacanya.
"Kamu nanti akan melanjutkan kemana Dit?"
"Ya di Jogja saja"
"Ambil jurusan apa?"
"Bisnis"
"Cocok untukmu"
"Iya Papah selalu menyuruhku mengambil alih perusahaan terus, Aku masih belum mau, itu kan tanggung jawab yang sangat besar, aku anak baru kemarin sore, belum mengerti sekali tentang perusahaan"
"Iya...tekuni saja dulu distro mu, mungkin hampir mirip dengan perusahaan, hanya skalanya saja yang berbeda"
"Iya tapi aku masih belum berani, ilmu ku belum memadahi"
Aditya memakan risol solo yang berisi daging ayam dan wortel, ia merasa ketagihan dengan rasanya.
"Siapa ini yang buat?"
"Ibu, kenapa?"
"Enak"
Adam tersenyum, ia juga sangat suka dengan risol solo buatan ibunya.
Nandini keluar dari kamarnya, karena Nandini sudah keluar kamar, Aditya berencana untuk pamit pulang.
"Din, Aku pamit yah, besok kita bisa bicarakan ini lagi"
Nandini mengangguk " Makasih ya Kak"
Aditya juga berpamitan pada Ayah dan Ibu Nandini. Aditya segera menaiki motornya dan bergegas pulang ke rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.[ Jangan lupa Like ,Komen dan Vote]
__ADS_1
[ Readers pernah tidak menikmati Cinta dalam diam?hehe]