
Nia mengangguk lalu tersenyum.
Aditya memegang surat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aditya merasa senang jika memang Nandini yang mengirim suratnya. Mungkin Nandini merindukannya.
Aditya permisi pada Nia untuk masuk kedalam apartemen. Aditya segera duduk lalu membuka bungkusan surat itu. Tak sabar ingin segera membacanya Aditya menyobek bungkusnya.
Aditya tersenyum kala surat itu sudah siap ia baca. Perlahan ia baca tanpa melewatkan satu katapun. Di alinea terakhir Aditya meremas kertas surat itu lalu melemparnya kesembarang arah.
"Kenapa kamu tega Din,"ucapnya sambil meremas rambutnya.
"Kamu tega, kamu ..."
Aditya mengusap wajahnya dengan kasar. Aditya merasa hubungannya selama ini dengan Nandini baik-baik saja tapi kenapa berakhir dengan seperti ini.
"Kamu penghianat Din,"umpat Aditya.
Nia yang mendengar triakan Aditya segera mengetuk pintu apartemen Aditya. Aditya membukanya, tampak penampilan Aditya sudah tidak karuan.
"Dit, kamu kenapa?"
Aditya tidak menjawab Nia, ia langsung berjalan meninggalkan Nia yang tengah menanti jawaban. Aditya duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.
Nia masuk dan ikut duduk di samping Aditya. Nia sedikit tersenyum, senyum kemenangan tentunya.
__ADS_1
"Kenapa Dit?"
Aditya menatap Nia, "Nandini ternyata punya pacar lagi disana, dan baru jujur sekarang setelah rasa ini sudah sangat besar. Aku sangat mencintai Nandini, Nandini pacar pertamaku, cinta pertamku."
Nia mengerutkan keningnya, Cinta Aditya ternyata tidak kaleng-kaleng.
"Sudahlah Dit, mungkin saat ini kamu harus fokus belajar dulu, masalah wanita mah siapa sih yang tidak mau denganmu, pasti banyak yang antri, tenang saja,"ucap Nia berusaha menenangkan Aditya. Tentunya dengan maksud tertentu juga.
"Aku ingin sekali pulang untuk klarifikasi semuanya, tapi tugasku sedang banyak-banyaknya, aku harus bagaimana, tadinya aku ingin membelikan ponsel untuk Nandini tapi malah berujung seperti ini"
"Sudahlah, mending fokus sekolah aja dulu Dit"
Aditya menundukan kepalanya, ia merasa benar-benar patah hati. Pertama kalinya jatuh cinta dan harus mengalami patah hati.
"Nia, maaf aku mau istirahat"
Misiku kali ini berhasil, setelah satu tahun ini aku bisa menirukan tulisan mereka berdua, batin Nia.
Yaps, Nia mencuri satu lembar surat dari Nandini waktu Nia bermain ke apartemen Adit. Adit tidak membatasi Nia keluar masuk apartemennya karena Aditya sudah menganggap Nia sebagai sahabat baiknya.
Aditya masuk kedalam kamarnya, menatap telfon yang ada di meja belajarnya.
"Apa aku cari tahu lewat Amel saja yah,"ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Aditya tidak tahan jika hanya menatap telfon saja, Aditya langsung menekan tombol nomor telfon rumahnya yang ada di Indonesia. Kebetulan sekali langsung di angkat oleh Mama.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam ma"
"Ya Allah, Adit, gimana kabarnya Nak? sudah seminggu lhoo tidak menelfon"
" Iya Mah, Adit banyak sekali tugas, Mah, Amel ada?"
" Ih, gak kangen mama nih, carinya Amel?"
" Kangen dong Mah, tapi Adit lagi ada keperluan mendesak dengan Amel"
"Oke deh Mama panggilkan dulu yah"
Beberapa detik kemudian suara Amel terdengar memberi salam pada Aditya dan Aditya pun menjawabnya.
Aditya langsung menanyakan mengenai Nandini lewat Amel. Tapi di luar dugaan, Amel justru malah memarahi Aditya karena sudah memutuskan sepihak.
Aditya mengernyitkan dahinya, Bukankah Nandini yang memutuskannya sepihak. Haduh kenapa rumit sekali.
Amel malah mengatai Aditya sebagai laki-laki buaya karena menduakan Nandini. Aditya nampak semakin bingung. Bukankah yang mempunyai kekasih lagi Nandini, kenapa jadi Adit yang dikatai Buaya oleh Adiknya sendiri.
__ADS_1
Aditya akhirnya memutuskan sambungan telfonnya karena Adiknya sangat berisik tidak mau memberi kesempatan untuk berbicara.
Aditya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lalu mengambil leptopnya dan berkutat dengan tugas-tugas yang memang akhir-akhir ini sedang sangat menumpuk. Ia lampiaskan mengerjakan tugas agar bisa sejenak melupakan masalahnya.