
Selesai sholat magrib Adam, Nandini dan Aditya berangkat ke pasar malam dengan berjalan kaki karena tempat pasar malam dekat hanya butuh waktu 15 menit di lapangan dekat kantor desa.
Nandini jingkrak-jingkrak saat melihat wahana ombak banyu yang berputar-putar naik ke atas ke bawah.
Ombak banyu itu wahana berbentuk lingkaran, kita duduk di pinggiran lingkaran itu, nanti petugas wahana akan memutar dengan sekuat tenaga hingga kayu lingkaran itu berputar naik ke atas bawah.
"Mas Adam aku mau itu"
"Jangan Dek, nanti kamu muntah"
"Ah Mas Adam..."
"Tidak, kamu jangan bandel, Mas mana kuat menggendong mu kalau kamu muntah dan lemas"
Nandini mengerucutkan bibirnya karena kecewa tidak mendapat izin dari kakaknya.
Aditya malah tertawa cekikikan karena melihat tingkah lucu Nandini yang merengek pada kakaknya.
"Ayo Din, kita naik yang lain saja, itu ada kincir angin"
"Aku tidak mau kak, itu untuk anak kecil"
"Siapa bilang, itu ada juga ibu-ibu"
"Ya itu ibu-ibu dengan anaknya"
"Sudah ayo"
Nandini mengikuti Aditya, begitu juga dengan Adam.
"Mas Adam mau naik?" Tanya Nandini.
"Tidak,"
"Ayolah Mas Adam" Ledek Nandini.
Nandini tahu betul Mas Adam itu pobia ketinggian, Ia pernah jatuh dari pohon mangga waktu kecil dan menyebabkan sedikit patah tulang pada pergelangan tangan nya.
"Sudah sana kalian berdua saja"
Akhirnya Nandini dan Aditya masuk kedalam kurungan kincir angin.
Nandini melihat lampu kelap kelip dari penjuru arah, Aditya terus menatap tingkah laku Nandini.
"Din...kenapa sih kamu suka dengan Rendi"
Nandini melihat ke arah Aditya.
"Dini juga tidak tahu Kak, Mungkin karena Kak Rendi ganteng" Ucapnya sambil melihat sekeliling lagi.
"Kakak juga ganteng kali Din"
"Iya kakak juga ganteng"
"Kenapa tidak suka dengan kakak?"
Nandini melihat ke arah Aditya lagi, Nandini tertawa kecil.
"Kakak itu kan kakak sahabatku, kan lucu kalau Dini suka kakak"
__ADS_1
"Berarti kalau kakak bukan kakaknya Amel, kamu akan suka kakak?"
"Aku tidak berani lah, tidak pantas juga, Kak Adit itu ganteng, pinter, mandiri lagi, uangnya juga banyak pasti kan kak, banyak sekali lhoo kak yang menyukai kakak" Ujar Nandini memegangi gagang kurungan kincir angin.
"Nah itu, memangnya kamu tidak mau apa punya pacar seperti kakak"
Nandini tersenyum, lalu menepuk lengan Aditya, "Kakak ini bisa saja kalau bercanda"
"Memang kak Adit tidak punya pacar?"
Aditya menggeleng, Nandini tersenyum lagi.
"Kenapa?"
"Karena mereka yang menyukai kakak hanya melihat kepupoleran kakak, apalagi tahu kakak punya distro cafe, mereka seolah-olah hanya ingin uang kakak"
Nandini tertawa, " Masa sih kak, ya sudah sini Nandini minta uang nya" Ledek Nandini.
Aditya langsung mengeluarkan dompetnya, banyak sekali uang 100rb an di dalamnya.
"Kamu mau berapa Din"
"Ya ampun benar, uang kakak banyak sekali"
"Kamu mau berapa?"
"Eh tidak Kak, aku hanya bercanda"
"Eh beneran Din"
"Tidak, aku tidak mau, kata bapak tidak boleh meminta uang dari laki-laki selain bapak dan Mas Adam " Ucap Nandini sambil tersenyum.
Nandini kaget dengan perlakuan Aditya.
Nandini memegangi kepalanya.
"Ayo turun Din" Kincir angin berhenti berputar tepat di kurungan tempat Nandini dan Aditya tempati.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan lagi mengelilingi banyak tempat makanan.
"Kamu mau makan apa Dek"
"Martabak manis Mas"
"Oke"
Mereka menuju tempat stand martabak manis, Nandini memilih rasa coklat dan keju.
Martabak juga salah satu makanan kesukaan Nandini.
"Kak...kamu tidak beli makanan apapun?"
Aditya menggeleng " Aku lebih suka risol solo buatan ibu mu"
"Hemmm itu sih terlezat"
Setelah mendapatkan martabaknya, Nandini melihat ada penjual telur gulung.
"Mas mau itu juga"
__ADS_1
Mereka mendekat ke arah penjual telur "Aku mau 10 bang" Nandini menunjukan jari sepuluh nya.
Setelah di layani Nandini langsung memakan nya, Nandini memberikan 1 tusuk pada Aditya untuk mencobanya.
"Nih kak, cobain kak"
"Tidak Din, itu saus nya banyak sekali"
"Ah ayo" Nandini langsung mendekatkan telor gulungnya pada Aditya, Aditya langsung membuka mulutnya dan menggigitnya.
"Enak kan Kak"
Aditya mengangguk, "Pedas Din"
"Nih minum" Nandini memberikan air minumnya pada Aditya.
Aditya tanpa merasa canggung langsung meminumnya.
Mas Adam sedari tadi melihat keakraban adiknya dan Aditya merasa senang, Mas asam tahu betul aditya adalah laki-laki baik.
"Mas Adam mau?"
"Mas tidak makan saus Din, tahu sendiri kan Mas tidak suka pedas, perutnya langsung kumat"
Nandini menghabis kan 9 tusuk telor gulungnya. Aditya dan Mas Adam menggelengkan kepalanya, Nandini berbadan kecil namun begitu banyak makan.
Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah karena hampir isya.
Di perjalanan pulang Aditya memberikan surat balasan pada Nandini secara diam-diam, Nandini mengerti dan langsung menyusupkan surat balasan nya di saku jaketnya.
Aditya pamit pulang, Aditya mengingatkan Nandini agar rajin-rajin mendesain model selanjutnya tapi jangan sampai mengabaikan belajar pelajaran umum juga.
Setelah isya Nandini langsung mengambil kertas surat di saku jaketnya, Nandini langsung membuka lipatan nya lalu membacanya, Nandini begitu tertegun dengan isi surat itu.
Haduh, aku harus bagaimana ini, apa aku menerima cinta monyetku ini, apa aku membiarkan perasaan ini terkubur, aku kan tidak boleh pacaran dulu, bisa di unyel-unyel Mas Adam kalau ketahuan pacaran, tapi Rendi juga mengajak pacaran hanya lewat surat, apa salahnya kan, Haduh aku jadi dilema, Batin Nandini.
Nandini bingung memikirkan jawaban nya, hingga tak terasa dirinya tertidur.
.
.
.
.
.
.
.[Di terima tidak yah cinta Aditya yang menyamar sebagai Rendi?]
.
[Dukung cerita ini dengan cara like,komen dan Vote, terimakasih]
Salam Manis,
@Santypuji
__ADS_1