
Setiap Minggu Nandini dan teman-temannya pergi ke sungai untuk mencuci sepatunya, ibu memperbolehkan Nandini hanya mencuci sepatunya saja di sungai.
Jalan menuju sungai harus melewati sawah-sawah dahulu, sungai di desa Nandini sangat jernih sehingga warga menggunakannya untuk mencuci baju dan gerabah, Nandini dan teman-teman nya juga suka mandi di sana setelah mencuci sepatu.
Nandini pamitan pada ibu, membawa beberapa sepatu dan juga sandalnya, tak lupa juga sepatu Mas Adam juga ia bawa untuk di cuci.
"Hati-hati ya Din, licin jalannya, kan kemarin habis hujan" Ucap Ibu menasehati Nandini.
"Nggih bu, Nandini berangkat dulu yah, sudah di tunggu teman-teman di persimpangan sana"
Ibu mengangguk, Nandini segera berjalan membawa keranjangnya.
Mereka bertemu di persimpangan, lalu mereka mulai menyusuri jalan sawah yang sedikit licin. Sesampainya di sungai mereka mulai bersiap-siap untuk mencuci.
Selesai mencuci mereka mulai bermain air, Nandini membawa selendang kain untuk melilit tubuhnya, bajunya ia tinggalkan di bebatuan yang kering.
Mereka semua mulai mandi bersama sambil bercanda tawa, hal ini yang Nandini sukai jika hari Minggu tiba.
Selesai mencuci dan mandi mereka semua segera pulang, mereka menjemur baju dahulu, mereka berencana untuk makan di gubug sawah juga.
Setelah selesai menjemur nandini menuju dapur, ia mengambil rantang lalu menyendok nasi ke dalam rantangnya.
"Ibu masak lauk apa bu?"
"Itu ada sayur krecek, ada telur bacem dan peyek teri Din, kamu mau makan di sawah?"
"Iya bu, teman-teman sudah menunggu Dini"
"Tunggu sebentar, sini ibu sendokan, sendok yang banyak, bagi juga untuk teman-temanmu yah" Ibu menyendok sayur krecek begitu banyak, dan membawakan beberapa telor bacem ke dalam rantang, serta peyek yang ibu bungkus dengan plastik .
"Bawalah ini" Ibu memberikan susunan rantang pada Nandini.
"Terimakasih bu"
Ibu tersenyum, Nandini langsung berlari menghampiri teman-teman nya yang sedang menunggunya.
Mereka jalan bersama menuju gubug yang tidak berpenghuni, mereka membuka makanan mereka, mereka juga begitu senang ketika Nandini membawa makanan begitu banyak, apalagi ibu Nandini terkenal masakannya enak.
Mereka makan bersama di temani udara yang begitu sejuk, matahari yang menghangatkan dan kicauan burung yang begitu khas di telinga. Nandini begitu menikmati masa remajanya.
***
__ADS_1
Di rumah Aditya semua anggota keluarga sedang sarapan bersama, mama pagi ini masak nasi goreng seafood, mereka menyantap dengan semangat.
"Adit..." Papa melirik Aditya.
" Ya kenapa pah?"
"Kapan ujian?"
"Bulan depan?"
"Sudah siap?"
"Siap dong pah"
"Baguslah"
Aditya tersenyum, "Memangnya kenapa?"
"Papa ingin setelah lulus kamu lanjutkan kuliahmu di Singapura"
"Uhuk....uhuk..."
Mama langsung memberikan minum pada anak sulungnya itu, lalu menepuk-nepuk punggung Aditya.
"Pah...aku tidak mau sekolah di sana" Aditya menundukan pandangannya.
"Adit...kamu harus sekolah bisnis disana, nanti kalau papah tiada, siapa yang akan meneruskan perusahaan kita, bagaimana nasib ribuan karyawan disana" Papah memberikan pengertian pada Aditya.
"Tapi kenapa harus kesana, Adit disini juga punya karyawan pah" Adit memberikan alasannya lagi.
"Itu nanti biar papah yang urus, cafe mu akan tetap aman, kan hanya di Singapura Dit, setiap libur semester kamu bisa pulang" Papah berusaha meyakinkan Aditya.
"Tapi pah...."
"Apa kamu punya kekasih dan tidak ingin meninggalkan nya"
"Bu...bukan seperti itu"
"Adit, kalau cinta pasti kekasihmu akan mengerti, apalagi demi masa depan kalian"
Amel menatap tajam ke arah Aditya.
__ADS_1
Apa alasan kakak karena Nandini, apa cinta kakak begitu dalam sampai-sampai membantah papah dengan berbagai alasan, Batin Amel.
" Kelak kalian dewasa, kamu bisa meneruskan lagi jalinan cinta kalian" Ucap Papah.
Aditya masih terdiam.
"Siapa memang kekasihmu Dit" Mama mulai penasaran.
Aditya masih juga terdiam, ia sedang memikirkan bagaimana nanti dirinya akan berbalas surat, Jogja Singapura kan sangat jauh, lewat pos pasti akan sangat lama.
Rendi pasti kuliah disini, bagaimana kalau Dini melihat Rendi kuliah disini.
"Amel, siapa kekasih kakakmu" Mama menanyakan nya pada Amel.
"Mama juga kenal" Ceplos Amel.
Aditya langsung menatap Amel.
"Tidak mah, Aditya tidak mempunyai kekasih, Aditya hanya tidak ingin jauh dari Mama" Ucap Aditya.
Bohong sekali kakak, mama di jadikan alasan segala, Batin Amel.
"Hey...nanti Mama akan sering mengunjungimu,"
"Bagaimana Adit?"
"Jika itu untuk kebaikan orang banyak nantinya, aku tidak masalah pah"
Hah, kak Adit benar-benar akan ke Singapura, bagaimana nanti kelanjutan surat-suratan mereka, Batin Amel.
Aditya pamit ke papahnya untuk kembali ke kamarnya, ia akan bersiap-siap ke cafe distronya.
Di dalam kamar Aditya meremas rambutnya.
" Bagaimana ini, aku tidak mau jujur sekarang, aku tidak mau kehilangan dini sekarang" Gumam Aditya.
"Dini aku harus bagaimana, kita aman terpisah selama 4 tahun lamanya, apakah aku akan menghilang dan tidak memberimu kepastian, apakah kelak dewasa kita akan bertemu kembali dan merajut kasih, bukan sekedar kekasih Kertas"
Aditya terus berbicara dengan dirinya sendiri, ia lalu membuka tas nya dan membaca surat dari Nandini. Aditya duduk di meja belajarnya membacanya lalu membalasnya.
[ Jangan lupa like komen dan Vote yah sayang ku semua]
__ADS_1
[Ada yang pernah nyuci di sungai? Author pernah banget, pernah juga jatuh dari sawah pas bawa keranjang cucian, hadeh hehe]