
Aditya benar-benar membawa Nandini ke rumahnya. Di ruang tamu sudah ada Mama Aditya dan juga Amel. Mereka nampak terkejut melihat Aditya membawa Nandini. Tidak biasanya saja.
"Assalamualaikum" ucap Nandini dan Aditya.
"Waalaikumsallam" Jawab Amel dan Mamanya.
Nandini menghampiri Amel lalu memeluknya, " Kangen banget"
"Ih tumben kalian berdua" Goda Amel.
"Nandini kan PKL di tempat Kakak, lagi kangen kamu katanya, kangen Mama juga." Aditya mencium tangan mamanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Nandini di ruang tamu bersama Amel dan Mama nya.
Dih, situ yang bawa-bawa aku kesini, malah aku yang dijadikan alasan,ucap Nandini dalam hatinya.
Nandini lalu mencium tangan mama Aditya dan memeluknya juga.
"Sehat Din?"
"Sehat Tante, tante bagaimana, sehat juga kan?"
" Alhamdulillah, kamu ini sudah jarang banget main kesini, sudah beda sekolah malah jadi gak pernah main"
"Iya maaf tante, kadang habis pulang sekolah kan mesti ngerjain desain Tan"
" Iya tante ngerti, sekarang sudah main saja tante seneng banget, Tante siapin makan dulu yah buat kamu sama Adit, pasti laper habis pulang kantor"
" Gak usah repot-repot Tan." Nandini merasa tidak enak hati karena merepotkan Mama Aditya.
" Tidak repot, hanya menyiapkan, masaknya mah sudah dari tadi, kamu ngobrol dulu sama Amel, pasti udah kangen juga kan"
Nandini mengangguk, Mama Aditya langsung bergegas ke dapur sedangkan Amel langsung mendekat duduknya disamping Nandini.
" Cie... udah akur yah? eh gimana-gimana cerita dong" Goda Amel.
Nandini mendengus kesal, " Gak ada tuh akur"
__ADS_1
Amel mengerutkan dahinya, "Lhoo, kok bisa gak akur tapi sampai ke rumah bareng-bareng"
Nandini lalu menceritakan perlakuan Aditya selama di kantor dan sepulang kerja tadi.
"Aku bingung deh Mel, Mas Adit itu ngotot gitu kalau aku tuh menduakannya, pengen banget aku getok deh kepalanya." Nandini terlihat begitu sebal.
"Aku sih sebenarnya sudah curiga dari awal, kayanya ada yang gak suka deh dengan hubungan kalian"
Nandini menatap Amel, " Masa sih Mel? siapa coba?"
Amel mengangkat kedua bahunya. Nandini menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Tau gak Mel, aku sama Mas Adit malah jadi saling tuduh gitu, mana surat itu udah aku buang lagi, gimana coba aku buktiinnya"
Amel tersenyum, " Tenang suratnya masih ada di aku, tadinya aku mau tanya ke Kak Adit kemarin-kemarin tapi orangnya sibuk terus"
Nandini tersenyum senang, " Yang bener? jadi kamu simpen?"
Amel mengangguk, "Iya, waktu di toilet kemarin itu aku langsung ambil waktu kamu lari nangis, aku kan juga kesel sama kakak ku"
"Kamu aja heran, apalagi aku yang ngejalanin, kakakmu itu lhoo Mel, maksa banget maunya di panggil Mas"
Amel terkekeh geli. Amel ingin sekali masalah Nandini dan kakaknya itu cepat selesai.
Setelah ngobrol lumayan lama, Mama Amel datang menawarkan makan. Aditya sudah menunggu Nandini di meja makan. Aditya tampak fokus dengan makanan yang sedang ia makan.
"Kamu makan yang banyak yah, tante mau ke belakang dulu, mau nyiram bunga"
Nandini mengangguk, "Iya tante".
Nandini lalu mulai menyendok nasi dan lauk pauk kedalam piringnya. Aditya tetap fokus makan tanpa melirik Nandini.
Aneh dasar, mantan jablud,Batin Nandini.
Aditya sudah selesai makan terlebih dahulu, Aditya menunggu Nandini selesai makan juga. Setelah Nandini selesai makan, Aditya menggandeng tangan Nandini lalu mengajaknya menaiki tangga.
__ADS_1
" Kita mau kemana Mas?"
" Ke kamarku"
Nandini mengentikan langkahnya, Aditya menatap Nandini.
" Kenapa berhenti?"
"Mau apa di kamar?"
"Aku mau menunjukan bukti kalau kamu menduakan aku Din"
"Kenapa mesti di kamar,di bawah kan bisa"
"Aku malas bolak-balik"
" Aku tidak mau jika hanya kita berdua, ajak Amel juga"
"Oke"
Aditya lalu memanggil Amel. Kini Amel sudah menemani Nandini dan tentunya dengan membawa surat yang sudah kusut dari Aditya tempo dulu.
Aditya membuka semacam kotak penyimpanan yang terbuat dari kayu. Lalu menyerahkan selembaran pada Nandini.
" Baca ini"
Nandini menerimanya, Nandini dan Amel membelalakan matanya saat membaca isi surat itu.
Nandini menggeleng.
"Ini bukan aku"
" Cih, ngaku deh" Aditya mulai emosi jika mengenang surat itu lagi.
" Ini benar-benar bukan aku, oh ya, baca ini juga, ini bukti kamu menduakan aku"
__ADS_1
Nandini memberikan surat yang sudah lusuh pada Aditya. Aditya nampak menerima dengan ragu-ragu.