
Nandini masih syok, duduk terdiam menikmati lamunannya, suara pintu di buka membangunkan lamunannya.
Aditya masuk membawa makanan dan minuman untuk Nandini.
"Kan Kakak suruh istirahat, kenapa malah melamun? Maafkan kakak yah membuatmu jadi lelah" Aditya mencurahkan perhatiannya.
"Makanlah" Ucapnya lagi.
Nandini langsung mengambil minumannya dan meneguknya sampai habis. Aditya tersenyum melihat tingkah Nandini.
"Hey...Apa sangat haus" Tanyanya dengan seulas senyuman manis.
Aku sangat haus karena aku sangat syok, Kak perhatian ini apa karena kamu sedang sandiwara apa karena kamu memang menganggap ku kekasih, atau semua ini karena kasihan, sepertinya aku harus mencari jawabannya sendiri, aku akan mengikuti alur mu kak, mau sampai kapan kalian membohongiku, Batin Nandini.
"Hey....Din, melamun lagi, kamu kenapa?"
Nandini menggeleng " Tidak kak, hanya saja lapar, apa aku boleh menghabiskan ini juga?"
Nandini menunjuk pada nampan yang berisi makanan.
"Tentu, ini kakak ambilkan memang untukmu" Aditya mengacak rambut Nandini.
Kak kenapa kamu memperlakukanku dengan begitu baik, apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu, Batin Nandini.
Nandini menyantap makanannya sampai habis, entah karena lelah dengan acara tadi atau lelah karena banyak berfikir.
Pintu kantor di buka, ternyata Rendi yang masuk ke dalam, " Hey Bro ternyata kamu disini, tuh anak-anak pada nanyain"
"Eh iya, aku sedang mengantarkan makan untuk Dini"
Rendi menghampiri Aditya dan Nandini, Rendi duduk di sebelah Nandini.
"Kamu lelah" Tanya Rendi dengan seulas senyum manis nya.
Nandini hanya mengangguk.
"Habiskan desert nya itu, apa mau aku suapi" Ledek Rendi.
"Eh...Ayo cepat keluar, kita temui lagi mereka" Aditya langsung meraih tangan Rendi dan memaksanya keluar bersama.
Pantas saja selama ini kak Rendi cuek, pantas saja selama ini banyak beredar gosip kak Rendi berpacaran dengan Kak ayu, ternyata memang surat itu tidak sampai di tangan kak Rendi, tapi kenapa? apa mereka sengaja tidak memberikan, atau apa, Batin Nandini.
__ADS_1
Nandini terus saja berperang dengan hatinya, sikap Aditya yang begitu baik padanya sudah membuat Nandini nyaman, jika Nandini membongkar semuanya, pasti akan terjadi kecanggungan di antara keduanya.
Apalagi Aditya sudah menjalin kerjasama pekerjaan dengan Nandini.
Nandini akan melihat sejauh mana Aditya menyembunyikan ini semua darinya.
***
Pukul 5 sore Aditya mengantarkan Nandini pulang.
"Maaf ya Din, kakak mengantarmu kesorean" Ucap Aditya sambil menyetir.
"Tidak apa-apa kak, kan acaranya juga baru selesai, tadi aku sudah bilang ke Mas Adam kalau aku ada acara dengan Kak Adit, Ibu juga pasti mengerti, sebelumnya aku sudah pamit juga dengan ibu"
"Syukurlah kalau begitu"
Sampai dekat rumah Nandini pasar malam sudah di buka, sudah banyak penjual dan komedi putar juga sudah di mainkan.
Mata Nandini melihat sekeliling yang ada di pasar malam. Aditya menghentikan mobilnya.
"Ayo turun, kakak tahu kamu ingin naik itu?" Aditya menunjuk ombak banyu kesukaan Nandini.
Nandini tersenyum, "Kakak baik sekali"
Mereka menaiki ombak banyu dengan antusias. Nandini berteriak dan sesekali memejamkan matanya jika ayunan dari atas mulai turun ke bawah, menaiki wahana ombak banyu memang membutuhkan nyali yang besar.
Ombak banyu terus berputar, kepala Nandini sudah mulai pusing, perut nya bergejolak, saat ombak banyu terhenti, Nandini segara berlari menuju area kosong, Ia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Aditya langsung mengikuti Nandini, melihat Nandini yang muntah-muntah membuat Aditya khawatir, Ia langsung memijat tengkuk Nandini.
"Jangan kesini kak, tunggu saja disana"
"Tidak, aku khawatir dengan mu"
Hati Nandini langsung mencelos mendengar kekhawatiran Aditya. Ada rasa senang tapi ada juga rasa ragu.
Setelah memuntahkan semuanya, Aditya langsung menuju stand minuman, Aditya membeli teh manis hangat lalu memberikannya pada Nandini.
Nandini meminumnya perlahan, teh manis hangat membuat badan dan perut nya merasa lebih baik, mereka berdua berkeliling lagi, Aditya membelikan martabak dan telur gulung kesukaan Nandini.
Nandini melihat ada penjual gantungan kunci nama, Nandini dan Aditya menghampirinya.
__ADS_1
"Pak Mau 2 yah"
Aditya terdiam, Aditya tahu gantungan kunci itu pasti Nandini buat untuk dirinya dan Rendi.
Aditya melangkah mundur beberapa langkah, penjual gantungan kunci mulai mengukir sebuah nama, setelah selesai Nandini segera membayarnya, Nandini melangkah menuju kak Adit.
"Kak ini satu untukmu"
Aditya terkejut karena Nandini membuat gantung kunci atas nama dirinya juga Nandini.
"Din...ini..."
"Iya simpan saja kak untuk kenang-kenangan"
Aditya tersenyum, tersenyum bahagia terlihat jelas terpancar di wajah Aditya, kekasih Kertas nya memberikan sesuatu yang walaupun tidak seberapa tapi ini sangat berharga untuk Aditya.
Aditya segera memasang nya di kunci mobilnya.
Setelah puas berkeliling dan hampir magrib, Aditya segera membawa Nandini pulang ke rumahnya.
Tidak lupa pula Aditya memberikan supucuk surat, masih atas nama Rendi, namun Nandini sudah mengerti dan tetap menerimanya.
Seperti yang Nandini rencanakan juga, Nandini akan mengikuti permainan kak Adit, tujuan Nandini juga untuk membuktikan apa yang sebenarnya ada di hati kak Aditya.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Jangan lupa like komen dan Vote yah, Mudah-mudahan karya ini bisa terkontrak juga seperti Aku Janda Tapi Perawan]
__ADS_1
Salam sayang,
@Santypuji