Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Senin Pagi


__ADS_3

Pagi ini muka Amel sudah di tekuk, rasa sedih dalam hati nya tergambar jelas di wajahnya, kakaknya akan meninggalkan nya untuk waktu yang lumayan lama, kemana dia akan mencurahkan isi hatinya, tidak ada lagi nanti tempat bercanda tawa, tempat berantem, tempat usil.


Amel masuk kelas lalu duduk di kursinya, ia juga lupa tidak menyapa teman-temannya, sahabatnya di buat heran oleh ekspresi wajah Amel.


"Mel...kamu sakit yah" Nandini menempelkan telapak tangannya pada dahi Amel.


"Tidak" Amel menjawab singkat.


"Kamu kenapa?" Nandini jadi penasaran dengan wajah sedih sahabatnya itu.


Amel tidak menjawab, ia malah memberikan surat pada Nandini.


"Ini titipan"


Nandini menerimanya lalu meletakkannya di sakunya.


"Hey...cerita dong" Ucap Nandini yang terus memaksa Amel bercerita.


"Kak Adit"


Deg....Ada apa dengan Kak Adit,Batin Nandini.


"Kenapa kak Adit?"


"Kak Adit akan pergi ke luar negri, dia akan melanjutkan kuliah di sana, pasti aku akan kesepian di rumah" Amel bercerita tentang Aditya, Amel tidak tahu jika sebenarnya Nandini sudah tahu perihal balasan surat itu yang ternyata dari Aditya.


"Hah...Apa?" Suara keras Nandini menggema di kelas,Nandini cukup terkejut.


Amel langsung melihat ekspresi terkejut Nandini, " Kenapa Din?" Amel malah balik bertanya.


"Emmm...tidak, aku bingung saja, nanti kerja sama ku dengan Kak Adit bagaimana jika dia keluar negri" Nandini memberi alasan yang cukup masuk akal pada Amel walaupun sebenernya alasannya bukan itu.


"Aku sebal dengan ayah, kenapa harus sekolah disana"


"Lalu bagaimana jawaban kak Adit" Nandini penasaran, ia berharap Aditya menolaknya, entahlah, hatinya mengatakan demikian.


"Kak Adit tadinya menolak, ayah mengira kalau kak Adit keberatan karena kekasihnya, tapi ayah memberi pengertian pada Kak Adit, akhirnya kak Adit mau deh menerima keputusan ayah"


"Memang Kak Adit punya kekasih Mel, patah hati kan aku" Ucap Cantika dengan wajah kecewanya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, kak Adit tidak pernah cerita apapun jika masalah wanita"


*Apa benar Amel tidak tahu perihal surat itu, apa Amel hanya pura-pura tidak tahu, Batin Nandini.


Teng...teng...teng*


Bel masuk berbunyi, mereka langsung duduk di tempat duduknya masing-masing.


Nandini tidak sabar membuka surat balasan dari Aditya.


Sebelum pelajaran di mulai, Nandini mengambil surat yang ada sakunya. Nandini membukanya lalu membacanya.


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Assalamualaikum Dini


Semoga sehat selalu dan tetap semangat.


Kakak senang melihat semangatmu yang terus berjuang demi cita-citamu.


Din...Andaikan kakak boleh memilih, kakak tidak ingin lulus cepat, kakak ingin selalu dekat dengan mu, melihatmu dari jendela kelas.


Kakak sayang kamu


•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Mata Nandini berkaca-kaca,


Andaikan boleh memilih, aku juga ingin waktu ini berhenti berputar kak, agar kita memiliki waktu lebih banyak, Batin Nandini.


Bu guru sudah datang, pelajaran segera di mulai, walaupun hatinya sedang gundah tapi Nandini tetap belajar dengan baik.


***


Saat istirahat Amel terlebih dahulu ke kelas kakaknya, ia lupa uang sakunya masih di kakaknya karena tadi ibu tidak memiliki pecahan uang kecil. Nandini ikut bersama Amel.


Sesampainya di depan kelas kakaknya terlihat kak Adit dengan Kak Nia sedang duduk berdua dan mengobrol dengan begitu asyiknya.


Nandini yang melihat merasa begitu cemburu, ia reflek langsung memanggil Aditya.

__ADS_1


"Kak Adit"


Adit langsung menoleh ke sumber suara, ternyata Nandini dan Amel, Aditya juga langsung gugup, ia merasa sedang ketahuan selingkuh, ia tidak ingat jika mereka hanya berpacaran dalam surat.


"Eh... Din" Ucapnya gugup.


Namun yang menghampiri malah Amel, "Kakak mana uang saku ku?"


Nandini menunggu Amel di depan pintu kelas dengan wajah di tekuk.


Nia masih terdiam di tempat duduknya, ia tahu amel adalah adik Aditya, yang di depan pintu sana juga pasti hanya teman adik Aditya.


Aditya memberikan uangnya pada Amel, Amel yang beranjak keluar dari kelas Aditya juga mengikuti Amel keluar, ia ingin berbicara pada Nandini.


"Din" Sapa Adit.


Nandini tersenyum datar.


"Ayo Mel kita ke kantin"


"Din?"


Dini menggandeng Amel menuju kantin dan tidak menghiraukan Aditya, Amel juga di buat bingung dengan tingkah Nandini.


Aditya mengusap wajahnya kasar,


Aku ini kenapa? aku lupa kalau aku bukan siapa-siapa nya, Nandini juga kenapa, kenapa tingkahnya aneh, nanti malam akan ku ajak ke pasar malam saja, Batin Aditya.


Nandini terus menggandeng Amel sampai kantin, Amel merasa Nandini sedang marah, tapi marah kenapa, Amel menghentikan langkahnya lalu bertanya pada Nandini.


"Din kau ini kenapa?"


"Tidak apa-apa?"


"Apa kau cemburu melihat Kak Aditya dengan Kak Nia?"


"Tidak, aku kecewa saja tadi tidak melihat Kak Rendi" Jawabnya bohong.


Aku semakin curiga dengan kalian berdua, Batin Amel.

__ADS_1


Mereka akhirnya memesan makanan, apalagi Nandini entah kenapa ia memesan jajanan begitu banyak, Nandini meluapkan kecemburuan nya dengan makanan.


__ADS_2