
Apa cinta monyet mu itu Nandini Saraswati? Yang setiap hari berbalas surat dengan mu?" Teriak Nandini.
Deg...
Aditya yang baru berjalan beberapa langkah langsung menghentikan langkahnya, ia langsung berbalik, lalu menatap Nandini.
Aditya mulai melihat mata Nandini yang berkaca-kaca.
Aditya berjalan menghampiri menghampiri Nandini.
"Din...apa maksud mu?" Aditya ingin memastikan kembali apakah apa yang di dengarnya tadi benar atau salah dengar.
"Sudahlah jangan pura-pura lagi Kak, mau sampai kapan semua ini disembunyikan? sampai surat itu bertumpuk-tumpuk?" Nandini menampakan wajah kecewanya.
Aditya semakin bingung, apa yang harus ia lakukan, "Din..."
"Apa?" Nandini menatap tajam Aditya.
"Malang sekali nasibku, semua hanya palsu" Nandini melanjutkan ucapannya.
"Tapi sayang ku tidak palsu Din, Rendi tidak mau membalasnya, dan kakak tidak mau jika kamu kecewa Din" Aditya berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
" Tapi kenapa harus dengan berbohong kak"
"Tapi sayang ku tidak pernah bohong Din"
Deg...
"Sungguh?"
Aditya mengangguk, "maafkan aku Din, aku banyak berbohong, tapi percayalah sayang yang ada di hati ini tidak bohong"
Nandini bungkam, ia masih belum bisa mengucapkan sepatah kata lagi.
"Din...apakah kamu mau jadi kekasih sungguhan kakak?" Aditya memberanikan diri untuk menyatakan cintanya langsung.
"Din..."
"Ah... iya, emmm aku tidak tahu kak" Nandini masih belum berani mengatakan perasaanya.
__ADS_1
"Din...kakak tahu yang kamu sukai adalah rendi, maafkan aku sekali lagi" Aditya melangkah pergi.
"Kak..."
Aditya mengehentikan langkahnya, "Kak maafkan aku"
"Iya aku mengerti"
"Kak tapi aku tidak ingin putus denganmu" Nandini memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi yang menjadi kekasihmu kan Rendi, kamu menganggapnya Rendi kan Din"
"Tidak..aku nyaman dengan mu kak, kakak selalu baik denganku"
Aditya menghampiri Nandini lagi " Benarkah Din"
Nandini mengangguk lalu tersenyum.
"Jadi...kamu menerima kakak?"
Nandini kembali mengangguk " Tapi jangan sampai Amel tahu yah, aku masih ingin melanjutkan surat lewat surat" Nandini tersenyum malu.
"Baiklah..tapi jangan menganggap itu Rendi lagi yah"
"Kakak bahagia sekali, andai disini tidak ada mas Adam ingin sekali aku menggendongmu dan berputar-putar di pohon beringin ini" Aditya memancarkan rona bahagia nya.
"Hay pohon beringin, kamu jadi saksi kita yah," Celetuk Nandini.
Aditya dan Nandini menghampiri mas Adam yang masih asyik mengobrol dengan temannya.
"Hey kalian ini, lama sekali, apa sudah melewati pohon beringin itu"Tanya Mas Adam.
"Sudah...kak Adit pemenangnya" jawab Nandini.
"Eh Din kita kesana, ada penjual gelang dari tali itu" Aditya menggandeng tangan Nandini. Nandini begitu gugup ini pertama kali Nandini menggandeng tangannya.
Nandini mengikuti langkah Aditya yang membawanya. Disana ada penjual gelang dengan benang, kita bisa membuatnya sendiri di ajari oleh penjualnya.
Sebelum di ajari mamang penjual, Aditya terlebih dahulu memesan gelang benang itu dengan inisial A♥️N.
__ADS_1
Setelah itu mereka mulai belajar membuat gelang benangnya. Nandini dan Aditya begitu terlihat senang, mereka juga saling mengejek karena bentuk yang mereka buat tidak sebagus yang di buat mamang penjual.
"Din...besok jam istirahat kakak tunggu di perpustakaan yah" Aditya mengerlingkan matanya.
"kalau di sekolah itu belajar yang rajin kak, jangan pacaran" Ledek Nandini.
"Tega sekali dengan pacar sendiri, tenang tidak akan ada yang tahu, nanti kita duduknya berjauhan kok, kakak hanya ingin melihatmu" Ucap Aditya.
"Iya..iya"
"Makasih..."
"Ayo kita kembali, mas Adam pasti menunggu, aku sudah mulai mengantuk kak"
Aditya menggandeng tangan Nandini, mereka kembali ke tempat mas Adam.
"Mas... aku mau pulang" Rengek Nandini.
"Kamu dengan Aditya yah, Mas bonceng teman Mas sampai sebrang sana, tidak apa-apa kan" ucap Mas Adam.
Nandini mengangguk, ia langsung naik ke atas motor Aditya.
"Peluk dong pacarnya" Bisik Aditya.
Nandini mencubit pinggang Aditya.
"Aw...ini cubit Din, bukan peluk, masa tidak bisa membedakan" Aditya mengusap pinggangnya.
"Makanya tidak boleh gatal"
"Kok malah gatal sih, kan kakak minta peluk bukan garuk" Ledek Aditya.
"Ih sudah kakak, cepat jalan"
"Iya iya"
Mereka sampai ke rumah tepat jam 8 malam, Sebelumnya Aditya terlebih dahulu berpamitan pada Nandini.
"Din..kakak pulang yah..jangan lupa besok, jangan lupa juga sekarang kamu kekasih sungguhan mas, ingat lhoo"
__ADS_1
Nandini mengangguk, wajahnya langsung bersemu merah.
Nandini langsung berlari menuju kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di ranjang, ia tersenyum membayangkan kembali apa yang terjadi padanya dan kak Adit.