Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
April 2002


__ADS_3

(Assalamualaikum semuanya, akhirnya hari ini author memenuhi janji akan melanjutkan cerita Nandini dan Aditya, setelah sekian purnama novel ini mangkrak.


Kirain cuma proyek yang dikorupsi doang yang mangkrak, novel juga bisa mangkrak😁😁)


🍁 Selamat Membaca 🍁


April 2002 ...


Sudah satu tahun lebih Nandini dan Aditya menjalani hubungan jarak jauh. Mereka berdua masih setia dengan terus berkirim surat.


Seperti halnya setia selalu berkomunikasi dengan surat. Cinta mereka juga cukup setia, hati mereka berdua cukup setia menjaga perasaan masing-masing agar tidak keluar dari sarangnya. ( Kaya burung aje, segala pake sarang😁)


Hari ini Nandini melaksanakan UN ( Ujian Nasional). Seminggu sebelumnya Nandini mendapatkan semangat dari Aditya yang tertulis dalam suratnya.


Nandini begitu bersemangat karena setelah lulus itu tandanya ia akan berganti seragam menjadi putih abu-abu. Seragam yang menjadi dambaan remaja.


Abu-abu melambangkan masa peralihan dari hitam menuju putih, atau dari remaja menuju dewasa. Warna ini juga disebut-sebut sebagai lambang dari kedewasaan dan juga ketenangan dan pasti hal itu sangat sesuai bila melihat kondisi umur dan psikologis para siswa SMA di mana pun.


Warna abu-abu ini diharapkan dapat mendorong murid-murid yang berusia menjelang dewasa ini untuk lebih dewasa dalam pemikiran serta perbuatan. Warna yang memiliki kesan tenang ini juga dimaksudkan untuk membuat suasana sekolah terasa lebih tenang supaya siswa-siswinya dapat lebih mudah berkonsentasi belajar.


Nandini tampak senyum-senyum sambil membayangkan dirinya menggunakan seragam putih abu-abu kelak.


" Woy, pagi-pagi sudah melamun." Suara Amel yang cempreng mengagetkan Dini hingga tubuhnya tersentak.


Nandini langsung mencubit pipi Amel.


" Suka rese"


" Ngelamunin apa sih?" Amel memegangi pipinya yang sedikit perih karena cubitan Nandini cukup kuat.

__ADS_1


Nandini menggeleng, " Tidak ada"


"Ih apaan?"


" Iya, iya, aku sedang melamun nanti setelah lulus kita akan menjadi anak SMA, berarti kita sudah semakin dewasa, aku ingin sekali cepat SMA," ucap Nandini sambil tersenyum.


"Oh, kirain melamun apa, apa jangan-jangan mau cari selingan ya nanti, kan Kak Adit jauh," Ledek Amel.


Nandini langsung menimpuk kepala Amel dengan tempat pensilnya.


" Aww"


"Sembarangan," Celetuk Nandini.


" Ya siapa tahu"


" Haduh, adik iparku sayang, kalau mau cari selingan, tidak perlu menunggu SMA, sekarang juga bisa," ucap Nandini dengan bangganya.


Bel berbunyi. Mereka berdua memasuki kelas. Kebetulan hari ini ujian mata pelajaran Matematika.


Matematika, pelajaran yang paling tidak di sukai sebagian besar siswa dari berbagai tingkatan🤭. Andaikan lembar soal itu bisa mendengar, mungkin semua siswa ingin mengatakan, "Matematika tersayang, tolong dewasalah dan selesaikan masalah-masalahmu sendiri, aku capek menyelesaikannya buatmu."


Nandini berusaha mengerjakan soal-soal dengan baik. Nandini ingin sekali mendapat nilai terbaik agar bisa mendaftar di SMK favoritnya nanti dan bisa mendalami bakatnya mendisain dan menjahit.


90 menit sudah berlalu, itu artinya waktu mengerjakan soal telah habis. Bel Istirahat berbunyi.


Nandini dan ketiga sahabatnya langsung berjalan cepat menuju kantin. Ah rasanya kepala ini butuh didinginkan setelah 90 menit seperti dipanggang dalam kelas dengan bahan bakar yang berupa angka-angka yang terus melayang di kepala.


" Nandini," Pak Ragil, guru piket hari ini memanggilnya. Nandini menengok lalu mengampiri Pak guru.

__ADS_1


" Iya Pak"


" Ada titipan surat lagi"


" Terimakasih Pak, permisi"


Nandini mengambil amplop coklat yang dibungkus plastik bening. Nandini mengerutkan dahinya.


"Perasaan belum jadwalnya Kak Adit membalas surat," Gumam Nandini.


Nandini menyusul teman-temannya ke kantin, lalu duduk di sebelah mereka sambil terus memegangi amplop surat coklat.


"Kok tumben Kak Adit cepat balasnya,"ucap Amel sambil menyesap es jeruk.


" Iya ini, mungkin lagi banyak waktu kali."


Nandini sangat senang ketika mendapat balasan surat dari Kak Adit, apalagi jika cepat balasnya.


Sudah satu tahun ini Aditya dan Nandini tidak bertemu. Libur semester lalu Aditya tidak bisa pulang karena alasan baru saja tinggal di negri orang. Aditya ingin banyak belajar bahasa, budaya dan kebiasaan yang ada di lingkungan barunya itu.


Nandini cukup pengertian dalam hal ini. Nandini juga berprinsip yang terpenting hati selalu tetap terjaga. Karena kunci hubungan jarak jauh itu ya komunikasi dan kepercayaan.


Setelah memesan es jeruk dan somay, Nandini ikut makan bersama teman-temannya.


Selesai makan Nandini berpamitan ke toilet. Sebenarnya Nandini sangat penasaran dengan isi surat Aditya. Nandini ingin segera membacanya agar rasa rindunya sedikit terobati.


Nandini berjalan ke toilet. Di depan westafel Nandini segera membuka suratnya. Serasa tidak sabar ingin membacanya dan membayangkan wajah gagah Kak Aditya.


Setelah bungkusnya terbuka, Nandini lalu membuka lipatan suratnya. Nandini terkejut dengan barisan pertama isi surat dari Aditya.

__ADS_1


Nandini, maafkan aku....


__ADS_2