
Malam harinya Nandini datang ke acara syukuran di rumah Amel. Nandini datang bersama Mas Adam, mana boleh jika sendirian, pasti Ibu tidak akan mengizinkan. Tidak seperti acara yang kebanyakan orang-orang lakukan, keluarga Amel hanya berkumpul dan bagi-bagi sembako di depan rumahnya.
Nandini masuk kedalam rumah Amel dan disambut hangat oleh Amel dan juga mamanya. Nandini dan Mas Adam mencium tangan Mama Amel, Nandini juga cium pipi kanan dan kiri Mama Amel.
"Aku kira acara pengajian Tante," ucap Nandini.
" Bukan Din, ini acara syukuran biasa, ya acara sedekah biasa juga"
Nandini mengangguk, syukuran ala Mama Amel ini adalah bagi-bagi sembako pada keluarga yang tidak mampu.
"Yuk masuk kedalam, banyak keluarga tante juga didalam sedang makan, ayo ikut makan." Mama Amel mengajak Nandini dan Mas Adam masuk kedalam.
"Yuk Din, kita ke taman belakang saja, soalnya disini laki-laki semua, biarkan saja Mas Adam disini," Ajak Amel sambil menggandeng Nandini ke taman.
" Rame banget ya Mel, syukuran apa sih ini?"
" Ya syukuran sambil minta doakan juga sama semua orang Din, soalnya Ayah sekarang sedang kurang sehat"
" Ya Allah, tapi Om di perusahaan terlihat sehat bugar"
Amel menunduk, " Iya, tapi sebenar-benarnya ayah itu sakit"
Nandini mengusap punggung Amel, " Sabar, om pasti cepat sembuh"
" Aamiin, Eh Din, aku ambilkan kamu makan sama minum dulu yah, kamu disini aja jangan kemana-mana"
" Ih ayo ambil bareng aja"
"Kamu diem aja disini, nanti aku ambilin, kamu kan tamu dan tamu itu kan raja"
"Halah, tumben"
Amel terkikik lalu bergegas masuk kedalam rumah mengambil makanan.
Nadini merogoh ponselnya. Ada beberapa sms yang masuk, Nandini fokus menatap layar ponsel sambil membalas beberapa sms yang masuk.
" Ehm... Apakabar?"
Nandini mengerutkan dahinya. Fikiran Nandini mulai melayang-layang, seperti suara Kak Adit, tapi kan Kak Adit di Singapura, tapi wanginya. Nandini mengusap lehernya yang tertutup jilbab. Ih merinding.
__ADS_1
" Ehm"
Nandini langsung menengok ke belakang. Nandini terkejut ketika melihat seseorang yang berdiri di belakangnya itu.
" Ka...Kakak?"ucapnya mendayu.
"Kenapa?"
Nandini mengusap wajahnya. Nandini tidak mungkin kan sedang berhalusinasi. Ah ternyata tidak, ini nyata, Kak Aditya sedang berdiri di depannya.
Nandini mulai salah tingkah, jemarinya saling meremas. Perasaannya campur aduk, entahlah apa harus bahagia atau kecewa.
Di sisi lain Nandini bahagia, Kak Adit kini sudah pulang, namun di sisi lain Nandini teringat, kini Nandini dan Aditya hanyalah mantan. Andaikan saat ini hubungan mereka masih baik-baik saja mungkin saat ini Nandini akan langsung berlari dan memeluk Kak Adit. Tapi kenyataannya sekarang Kak Adit hanyalah Mantan. Yah... hanya Mantan.
Nandini menunduk, bingung harus mengucapkan apa, bibirnya saat ini bahkan rasanya kelu.
"Kamu cantik sekali Din"
Nandini menatap Aditya.
^^^"Kamu juga tambah ganteng Kak", ucapnya Nandini dalam hati.^^^
"Apakabar?" Tanya Aditya.
" Baik, Alhamdulillah, kakak bagaimana?"
" Alhamdulillah baik juga"
" Bagaimana, sekolah lancar?" Tanyanya lagi.
Nandini mengangguk, " Alhamdulillah lancar"
" Betah?"
Nandini mengerutkan dahinya. Apa-apain ih Kak Adit, nanya terus sudah seperti wartawan, pertanyaan yang tidak jelas lagi.
" Betah Kak"
" Betah lah, kan pacarnya satu sekolahan, ya kan Din, setiap pulang sekolah di bonceng bareng"
__ADS_1
Nandini menatap tajam Kak Adit. Kak Adit ini semakin tidak jelas saja. Nandini tidak mau kalah.
" Kakak juga pasti betah dong di Singapura, 2 tahun lebih tidak pulang, berat ya Kak ninggalin pacar disana? oh ya bukannya Kakak belum lulus, kok sudah pulang?" Ucap Nandini dengan berani.
" Pacar siapa?" Aditya mulai bingung.
" Pacar kakak lah"
" Kamu kali Din, buktinya Kakak lihat kamu boncengan sama laki-laki lain"
" Itu bukan pacarku" Jawab Nandini dengan tegas.
Mata mereka saling menatap tajam. Amel tiba-tiba datang membawa beberapa makanan yang di bawanya dengan nampan.
"Lhoo, kirain lagi kangen-kangenan, kok ekspresinya kaya lagi perang dingin," Ledek Amel.
Nandini langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, begitu juga dengan Aditya. Amel tersenyum, Amel belum sempat membicarakan perihal surat terakhir 1,5 tahun yang lalu. Niatnya Amel akan membicarakan malam ini dengan Nandini dan Aditya. Tapi Amel merasa Nandini dan Aditya sedang berdebat. Amel akhirnya mengurungkan niatnya dan akan membahas hal itu di waktu yang tepat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
( maaf ya readers q smw, surat cinta 2000 ini tulisannya pendek2, paling cm 500-600 kata, gak tau kenapa, nulis surat cinta 2000 ini rasanya berat aja, ga ngalir lancar gitu nyusun kalimatnya, beda sama yg lain, pokoknya g tau kenapa, yg q rasain gtu, rasanya nulis cm 500 kata ge lama bgt, beda ga kya nulis yg lain, 1000 lebih ge kya cpt bgt, ada apakah dengan surat cinta 2000, mungkn karena lebih banyak mengenangnya, jadi berat😆😆😆, otak q jadi berkelana kemana-mana kalau masalah kenang dan mengenang🤭🤭)