
Pagi ini Nandini sudah bersiap-siap menggunakan seragam hitam putih. Rok hitam yang dipadukan dengan kemeja putih dan jilbab hitam, tak lupa juga name tag yang ia kalungkan di lehernya.
Nandini mendapat tempat PKL sendiri atas rekomendasi Mbak Monica, untung saja gurunya mengizinkan. Nandini juga menggandeng Nana juga Bayu, atas permintaan Nandini, Mbak Monica pun mengizinkan Nana dan Bayu satu kelompok dengan Nandini.
Nandini dan kedua temennya sudah sampai di perusahaan milik Ayah Aditya. Mereka di dampingi guru pembimbing. Hari pertama guru pembimbing menyerahkan siswa siswi nya yang PKL pada pihak perusahaan.
Selesai acara penyerahan siswa siswi PKL, guru pembimbing langsung pergi meninggalkan perusahaan, selanjutnya perusahaan akan memberi tugas pada masing-masing siswa.
Nandini diberi tugas membantu bagian desain bersama Nana, sedangkan bayu membantu dibagian produksi. Nandini dan Nana berkenalan dengan para karyawan yang ada di staf desain.
Setelah berkenalan Nandini duduk dan mulai membantu senior-seniornya. Nandini cukup senang bersama staf desain karena mereka sangat ramah dengan Nandini juga Nana.
"Na, aku ngantuk, aku mau bikin kopi dulu yah ke pantri." Nandini izin pada Nana agar Nana tidak mencarinya. Nandini juga izin pada salah satu staf yang ada disana.
Nandini menuju pantri di antar salah satu OG ( Office Girl). Sesampainya di pantri, Nandini langsung meracik kopinya. Nandini berharap bisa segar kembali setelah meminum kopi.
Nandini mendengar ada suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya. Nandini langsung menoleh ke belakang. Nandini begitu terkejut melihat siapa yang datang. Sumpah Nandini benar-benar terkejut.
" Tolong buatkan saya kopi juga, terus antar ke ruangan saya,"ucapnya tanpa rasa canggung sama sekali.
" Ba..baik Pak" Nandini mengangguk perlahan.
__ADS_1
Aditya langsung pergi meninggalkan Nandini yang masih mematung.
"Aduh, kok bisa sih Kak Adit ada disini, ya walaupun ini memang perusahaan Ayahnya, tapi kan Kak Adit masih sekolah, kenapa malah jadi bekerja disini" Gumam Nandini dalam hati.
Nandini berfikir sekarang Kak Adit mulai berubah, bahkan sikapnya yang tadi itu lain dari sebelumnya, terkesan dingin dan acuh. Main suruh lagi. Apa Kak Adit sakit hati karena putus. Lah harusnya kan Nandini yang sakit hati, yang memutuskan juga Kak Adit. Harusnya yang marah Nandini, bukan Kak Adit.
Nandini tersadar lamunannya ketika tangannya menyentuh gelas kopi yang baru saja ia seduh.
" Ingat Nandini, dia hanyalah mantan, MANTAN, jangan berfikir macam-macam"ucap Nandini dalam hati, Nandini berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Selesai membuat kopi Nandini memberanikan diri untuk mengantarkan kopinya di ruangan Aditya, tentunya dengan bantuan OG, karena Nandini belum terlalu faham dengan letak ruangan uang yang ada di kantor ini.
Sebelum masuk Nandini mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah ada jawaban menyuruhnya untuk masuk, Nandini perlahan membuka pintu ruangan Aditya.
Jadi, apakah Aditya ini akan menggantikan posisi ayahnya. Nandini mulai merinding, tau seperti ini Nandini memilih untuk PKL di tempat lain saja yang di rekomendasikan gurunya. Punya atasan mantan itu horor.
"Permisi Pak, ini kopinya"
Nandini meletakan kopinya diatas meja Aditya. Tiba-tiba ada karyawan lain juga mengetuk pintu ruangan Aditya. Aditya menyuruhnya masuk.
Wow, mbak-mbak cantik nan sexy menyerahkan beberapa berkas pada Aditya. Nandini melihat ada senyum yang dibuat-buat oleh Mbak di sebelahnya itu.
__ADS_1
"Permisi pak, saya keluar dulu,"ucap Nandini.
" Eh, ini bawa lagi kopinya, saya tidak suka, pahit"
Deg, Nandini bingung, dari mana Aditya tahu kalau kopinya sangat pahit, sedangkan kopi itu belum di cicip sama sekali.
"Kamu tidak dengar ya, ambil kopinya"
Nandini langsung mengambil kopinya kembali dan meletakannya diatas nampan. Nandini ingin keluar dari ruangan Aditya, tapi baru saja akan memegang hendel pintu, Aditya menyinggungnya lagi.
" Gimana sih, perempuan kok tidak bisa buat kopi, bagaimana nanti kalau suaminya minta di buatkan kopi"
Perempuan sexy yang ada didepan Aditya terkekeh dan menatap Nandini dengan pandangan tidak enak.
" Insyaallah, saya akan mencari suami yang bisa menjadikan saya Ibu dari anak-anaknya, bukan menjadikan saya pembantu, kalau kopi saya tidak enak, saya akan mengajak suami ke cafe, laki-laki baik tidak akan menuntut banyak ke pasangannya, permisi"
Nandini langsung keluar dari ruangan Aditya dengan perasaan yang terluka. Nandini merasa Aditya benar-benar menghinanya, menegurnya didepan orang lain itu sama saja menghina.
Nandini membawa kopinya ke ruangannya, siapa tahu ada yang mau nantinya, dari pada mubadzir.
Nandini duduk kembali, ia menatap kertas yang ada didepannya. Matanya mulai berkaca-kaca, tiba-tiba fikirannya terlintas lagi kejadian tadi. Rasanya sakit sekali. Nandini mengelus dadanya lalu menepuknya perlahan.
__ADS_1
" Kenapa Din?" tanya Nana.
" Gak apa-apa Na, cuma sesek aja"