
Nandini memberikan surat yang sudah lusuh pada Aditya. Aditya nampak menerima dengan ragu-ragu.
Aditya lalu membukanya secara perlahan dan membacanya dengan teliti. Aditya menggelengkan kepalanya.
"Ini bukan aku" Teriak Aditya.
"Ini juga bukan aku" Ucap Nandini, Nandini lalu memberikan surat itu pada Aditya.
"Tapi itu tulisanmu Din."Aditya menerima surat yang Nandini berikan.
"Itu juga tulisanmu Mas"
"Tapi"
"Stop deh, dari pada saling tuduh yang bukan-bukan, kalian sadar gak sih kalian itu sedang di fitnah seseorang?" Amel mencoba menengahi kakaknya juga sahabatnya.
Nandini dan Aditya tampak terdiam. Aditya lalu memgangguk.
" Iya bener banget, tapi siapa ya kira-kira?" Aditya nampak mencoba berfikir.
"Ya sepertinya yang menyukai Kak Adit, atau yang menyukai Nandini." Amel membantu kakaknya memecahkan masalah ini.
"Tapi siapa, apa laki-laki yang boncengin kamu waktu itu?" Aditya melirik Nandini.
"Gak mungkin, dia baru saja aku kenal saat masuk SMK, sepertinya dari wanita yang menyukai Mas"
"Siapa coba?"Aditya semakin bingung.
"Ya Kak Adit ada Gak yang suka waktu di Singapura?"tanya Amel.
"Aku tidak terlalu memperhatikan Mel"
"Dih dasar, oh ya siapa saja yang tau Kak Adit surat menyurat dengan Nandini?"
"Ada sih, ya cuma Nia, teman Kakak, sekaligus tetangga apartemen juga"
Nandini mengernyitkan dahiny, " Nia yang waktu berangkat bareng Mas itu?"
Aditya mengangguk.
"Ih iya, aku tuh udah curiga dia suka Mas Adit"
Aditya memijat pelipisnya, " Tapi kita tidak boleh asal tuduh Din"
__ADS_1
" Terserah Mas Adit saja, yang jelas dan yang pasti itu bukan tulisanku"
"Lalu, jadi,?"
Nandini nampak bingung, "Jadi apa?"
"Jadi hubungan kita?"
Amel langsung keluar dari kamar Aditya, "Kalian selesaikan saja dulu, mau di bawa kemana hubungan kalian, mau bagaimana kedepannya, silahkan diskusikan, jangan pake emosi Lhoo"
Amel cukup pengertian dalam hal ini.
Nandini dan Aditya nampak canggung. Nandini lalu duduk di kursi meja belajar Aditya. Sementara Aditya masih berdiri di depan meja belajarnya.
" Jadi, hubungan kita Din? apa jadi putus?" tanya Aditya.
Nandini menghembuskan nafasnya perlahan, "Aku tidak tau Mas, aku padahal sudah berusaha melupakan luka ini, sudah berusaha melupakan Mas juga, aku terluka Mas"
" Din, Mas juga terluka,"ucap Aditya.
"Din, kita berdua hanya salah faham, itu bukan salah kita" Sambung Aditya mencoba meyakinkan Nandini lagi.
" Maaf Mas, aku butuh waktu untuk mencerna ini semua dalam fikiranku" Nandini hendak berdiri meninggalkan kamar Aditya tapi Aditya langsung menghalanginya.
"Mas, beri aku waktu"
Aditya lalu memeluk Aditya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Mas kangen banget sama kamu, setelah tau semua ini adalah salah faham, Mas seneng banget"
Nandini mencoba melepaskan pelukan Aditya, " Mas Nanti ada Mama kamu lhoo, kita lagi di kamar soalnya"
"Biarin aja, biar kita sekalian di kawinin Din, biar kamu gak pergi dari kehidupan ku lagi"
Hadeh, kawinin gundulmu, Batin Nandini.
"Ih, Mas gak boleh gitu"
"Peluk Mas dulu Din"
Nandini akhirnya mengabulkan permintaan Aditya untuk memeluknya. Aditya tersenyum senang karena Aditya yakin jika Nandini masih mencintainya. Aditya berjanji akan mencari dalang dari semua ini. Gara-gara surat itu, Nandini dan Aditya di landa kesalahfahaman yang begitu lama.
"Udah Mas"
__ADS_1
Aditya akhirnya melepaskan pelukannya. Aditya menatap Nandini sambil tersenyum.
"I love you"
Aditya mencium kening Nandini. Nandini begitu terkejut dengan sikap Aditya. Nandini takut jika Mama Aditya muncul. Takut jika berfikiran macam-macam tentang dirinya.
"Mas kita keluar yuk, jangan disini"
"Tapi kamu belum jawab"
"Beri aku waktu Mas"
Aditya menghembuskan nafasnya dengan kasar,
" Baiklah, tapi jangan lama-lama meragukan cinta Mas ke kamu Din"
Nandini mengangguk. Sejujurnya Nandini juga masih sangat mencintai Aditya. Tapi Nandini sudah terlanjur kecewa sebelumnya. Nandini akan mencoba menata hatinya kembali untuk Aditya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
(Maaf yah, hanya up 1 episode, q mau pulang kampung nih malam ini, kangen banget sama mama, doain yah readers q smw. Jangan lupa, like komen dan Vote)