Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Penjelasan


__ADS_3

"Aditya jangan pergi dari aku, aku mohon"


Aditya begitu terkejut dengan sikap Nia, lebih terkejut lagi saat pintu ruangannya dibuka, dan terpampang nyata di depan mata, Nandini menatapnya dengan berapi-api karena melihat kekasihnya di peluk wanita lain.


Nandini langsung berlari setelah melihat pemandangan yang menyebalkan di depan matanya sendiri. Sambil berlari Nandini malah berprasangka buruk pada Aditya, apakah sedari tadi Adityanya tidak menghubunginya karena sedang bersama wanita itu.


Aditya yang melihat Nandini berlari langsung mengejar Nandini secepat mungkin. Untung saja suasana kantor lumayan lengah karena semua pegawai sedang makan siang.


Saat Nandini akan memasuki lift, Aditya langsung mengejar dan masuk lift bersama Nandini. Nadini begitu terkejut melihat Aditya yang ikut bersamanya di dalam lift. Nandini memasang mode ngambek bin cuek.


"Din, Mas bisa jelaskan." Ucap Aditya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Din, kamu boleh marah dengan Mas, tapi jangan diamkan Mas seperti ini." ( Yupz, diamnya wanita ngambek memang lebih seram dari kuburan Belanda 😁😆)


Nandini masih terdiam, pintu lift terbuka, Nandini hendak keluar tapi tangannya dipegang Aditya. Aditya lalu menekan lagi tombol liftnya, mereka bergegas menuju parkiran. Nandini begitu geram dengan sikap Aditya. Ingin marah, tapi Aditya juga atasannya, ah rasanya serba salah. Kali ini Nandini merasakan nggak enak punya pacaran atasan.


Pintu lift terbuka, Aditya langsung menggandengan tangan Nandini, Nandini sempat berusaha melepaskannya, namun Aditya malah semakin erat menggenggamnya. Sialan emang nih bos pacar.


"Ih, Mas, nanti ketahuan karyawan lain."


Aditya menghentikan langkahnya, "Makannya nurut, nanti Mas nggak bakal gandeng kamu."


Nandini mencebikan bibirnya, lalu masuk kedalam mobil Aditya. Aditya kali ini merasa menang karena Nandini sudah menurutinya masuk mobil.


"Sayang mau makan apa?"


Nandini melirik Aditya, "Mas, boleh nggak sih aku marah, hari ini aja, aku mau marah ih, jangan coba-coba ngelarang deh"

__ADS_1


Aditya tergelak,"Marah aja izin segala, emang calon istri Solehah nih pacar mas." Aditya hendak menggenggam jemari Nandini tapi Nandini langsung menepisnya.


"Kamu beneran marah Din?"


Nandini mengangguk,"Mana ada marah bohongan, memangnya sinetron."


Saat sedang marah, wajah wanita memang berubah menjadi horor, Aditya menelan salivanya ketika lirikan matanya bertemu dengan lirikan Nandini yang begitu menyeramkan.


"Din, Mas bisa jelaskan"


Nandini masih saja terdiam, kali ini Aditya yakin Nandini benar-benar cemburu. Senang sih melihat Nandini cemburu, tapi tidak senang saat di cueki Nandini seperti ini. Mendadak suasana mencekam.


Aditya akhirnya menceritakan panjang lebar walaupun Nandini tidak merespon, bagi Aditya, yang terpenting Nandini mendengarkan, pastilah mendengar, kan Nandini punya telinga.


Setelah mendengar cerita Aditya, Nandini jadi dilema, ingin melanjutkan niatnya cemberut, atau menyudahinya karena Aditya memang tidak bersalah. Tapi kan tadi sudah izin mau marah seharian. Ih Nandini, jangan kaya emak-emak deh, kalau marah suka ngulur-ngulur waktu😆. Emak-emak kalau Marah ujung-ujungnya minta jalan-jalan😆.


Nandini cemberut, "Mas curang, giliran Nandini aja nggak boleh cemburu."


"Jangan sayang, kata Bang Dilan 1999, kakak tingkat Mas, katanya cemburu itu berat, nanti kamu nggak kuat, biar Mas aja."


"Emang cemburu yah, itu mah rindu kali"


"Ya kalau versinya Mas ya cemburu aja lah, kan cuma beda 1 tahun, dia 1999, Mas 2000😆"


"Sak karepmu ae lah Mas"


Aditya tersenyum, karena sekarang Nandini sudah banyak membalas percakapannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai juga di tempat makan. Nandini dan Aditya turun dari mobil, mereka lalu memilih bangku lesehan, setelah itu barulah memesan makanan.


"Sayang jangan marah lagi yah, marah sekali, cium 3kali lhoo"


Nandini mengernyitkan dahinya, "Nggak usah nyosor, nanti aku tambah marah nih"


"Iya iya Maaf, habis kamu gemesin kalau lagi cemburu,"


Nandini lalu menatap Aditya, "Mas, apa jangan-jangan yang menulis surat palsu itu dia yah?"


"Mas juga menyangka begitu, tapi kita tidak punya bukti, nanti akan Mas selidiki lebih lanjut, sudah ya itu urusan Mas, kamu jangan ikut mikirin, kamu cukup mikirin Mas aja." Aditya merengkuh pinggang Nandini.


"Sini deketan sama Mas, kan udah nggak marahan"


"Ih, tangannya nggak boleh nakal"


"Maaf, tadi tuh cuma biar kamu nggak jauhan kaya orang lagi berantem."


"Ya kan emang lagi berantem."


Aditya menatap Nandini dalam-dalam,"Din, tunangan yuk, tunangan dulu aja, biar Mas tenang, kamu juga tenang"


Nandini membisu karena lagi-lagi Aditya memintanya untuk bertunangan terlebih dahulu, bukannya apa, siapa sih yang tidak mau terikat hubungan yang serius dengan orang yang kita cintai. Tapi Nandini masih piyik, alias masih belum terfikirkan kesana. Susah ya kalau pacaran sama orang dewasa itu, pasti menjurus kesana terus.


"Din"


"Eh, emm, makan dulu yuk Mas."

__ADS_1


Nandini terselamatkan dengan datangnya pelayan yang membawakan pesanan makanan mereka.


__ADS_2