Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Hujan


__ADS_3

 "Selamat pagi hari Senin, jadikan dirimu pribadi yang berarti dan memberi warna di setiap perjalanan kehidupan." Nandini memasuki gerbang, menghirup udara segar dalam-dalam. Dasi sudah bertengger di lehernya dan topi terpakai di kepalanya.


Seperti biasa hari senin akan di adakan upacara bendera. Nandini langsung berjalan masuk kedalam kelas. Di kelas ternyata sudah ramai sekali anak-anak yang sedang membicarakan weekend mereka.


"Din, kita punya ringtone baru nih, mau di kirim?" Nana menghampiri Nandini dan menempelkan ponselnya pada telinga Nandini agar Nandini mendengarkan ringtone terbaru milik Nana.


"Din, misscall aku dong, aku pasang NSP lhoo." Nana terus mengekori Nandini.


"Iya nanti aku misscall, mana ringtone terbarunya, kirimi juga yah Na,"jawab Nandini sambil meletakan tasnya.


Nandini melihat Bayu yang sedang bersender dipintu kelas. Nandini lalu menghampiri Bayu.


"Bay, kamu yang ngasih nomor aku yah ke Kak Ilham"tanya Nandini langsung.


Bayu tersenyum,"Hehe, maaf Din, Kak Ilham maksa soalnya"


Nandini menepuk lengan Bayu dan memasang wajah kesal.


"Kamu beruntung Din, biasanya cewe-cewe yang minta nomor Ilham Lhoo"


"Bodo amat ah, aku gak gitu"

__ADS_1


Nandini lalu berlalu keluar dari kelas, tepat saat akan menuju lapangan upacara Nandini berpapasan dengan Kak Ilham.


"Pagi Din,"Sapa Kak Ilham dengan senyum Khasnya.


Mimpi apa Nandini, sepagi ini sudah mendapat senyum manis Kak Ilham. Siswi-siswi yang ada di dekat Nandini serentak bersorak melihat senyuman Kak Ilham. Nandini menunduk malu.


"Pagi,juga Kak." Nandini langsung bergegas menuju lapangan. Nandini tahu jika Kak Ilham ingin mengobrol sebentar tapi Nandini tidak mau menjadi pusat perhatian siswa siswi disini.


5 menit kemudian bel berbunyi, siswa siswi berdatangan ke lapangan. Semua mengikuti upacara dengan hikmat.


Setelah selesai upacara seluruh siswa siswi kembali ke kelasnya masing-masing untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya.


...***...


Nandini duduk didepan warung yang ada disebrang sekolahnya. Hujan semakin deras, hawa dingin semakin menusuk tulang. Suara motor berderu menghampirinya. Nandini tersenyum, yaps itu Kak Ilham.


Ilham yang saat itu ingin pulang melihat Nandini duduk di warung sebrang sekolah. Ilham turun dari motornya lalu menghampiri Nandini.


"Nunggu angkot?" tanya Ilham sambil duduk didekat Nandini.


Nandini mengangguk, " Telfon Mas Adam tidak di angkat, Sms juga tidak dibalas"ucap Nandini sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Yuk aku antar."Kak Ilham menawarkan pulang bersama.


"Masih hujan Kak"


" Ya kita hujan-hujanan, hujan kaya gini tuh awet Din"


Nandini menimbang-nimbang lagi, ia juga tidak mau jika sampai sore berada di sekolah. Mana dingin juga lagi.


"Tapi nanti Dini merepotkan Kakak"


Kak Ilham menggeleng," Kan rumah kita cuma tetangga desa Din, gak jauh, yok"


Nandini akhirnya mengekori Kak Ilham. Kak Ilham dengan baik hatinya memberikan jaketnya pada Nandini.


" Jangan Kak, kakak juga perlu"


" Tidak apa-apa, pakai yah." Kak Ilham memakaikan jaketnya di tubuh Nandini.


Nandini menatap Kak Ilham sepersekian detik. Wajah Kak Ilham yang basah, kulit nya yang kuning langsat, Alis tebalnya. Nandini buru-buru menunduk saat Kak Ilham selesai memakaikan jaketnya.


Nandini dan Kak Ilham pulang dalam keadaan masih hujan. Mereka hujan-hujanan. Nandini sepertinya sudah lama sekali tidak merasakan hujan-hujanan seperti ini. Di motor Kak Ilham mengajak ngobrol Nandini agar Nandini tidak canggung.

__ADS_1


Nandini teringat Kak Aditya yang juga pernah memperlakukannya dengan manis, walaupun berakhir pahit.


Sudah ada Kak Ilham yang begitu baik, namun hati tidak bisa berbohong, hatinya masih untuk Kak Adit dan belum bisa tergantikan. Yah belum, bukan tak bisa.


__ADS_2