
"Eh, emm, makan dulu yuk Mas."
Nandini terselamatkan dengan datangnya pelayan yang membawakan pesanan makanan mereka.
Mereka berdua akhirnya makan terlebih dahulu sebelum membahas tentang pertunangan yang Aditya impikan.
Selesai makan, tanpa menunggu lama lagi, Aditya langsung menanyakan kembali perihal pertunangan yang akan mengikat dirinya juga Nandini.
"Din, kamu setuju kan?"
Nandini menghela nafasnya,"Aku manut deh Mas, silahkan Mas minta izin sama Ibu kalau boleh."
Aditya langsung tersenyum senang, wajahnya berseri-seri mendengar jawaban kekasihnya. Tidak apa-apa lah yah memaksa sedikit, demi kebaikan berdua.😆 (sa ae lu Dit)
Soal menaklukan kedua orangtua Nandini itu bukan perkara sulit karena mereka sudah saling kenal sejak lama, tinggal merengek saja pada mama bagaimanapun Aditya ingin hubungannya dengan Nandini menuju jenjang yang lebih serius lagi.
Sudah waktunya kembali ke kantor. Aditya membayar makanannya di kasir terlebih dahulu, sedangkan Nandini keluar terlebih dahulu menuju mobil. Saat di depan pintu masuk, Nandini bertemu dengan Kak Ilham dan teman-temannya. Nandini tersenyum pada Kak Ilham begitu pula sebaliknya.
"Eh Din, kok disini?"tanya Kak Ilham.
"Kan ini jam istirahat Kak, aku makan disini."
"Sama siapa Din?"
"Sama Bos aku Kak."
"Sama pacarnya, sekaligus calon tunangannya,"ucap Aditya lantang dengan penuh percaya diri.
Nandini langsung menengok ke belakang, terlihat Aditya sudah menatap tajam ke arah kak Ilham. Nandini lalu mendekati Aditya. Lalu menggengam tangan Aditya dan memperkenalkannya pada Kak Ilham. Kak Ilham nampak terkejut. Tapi Nandini memang benar-benar tidak ingin memberikan harapan palsu pada Kak Ilham.
Setelah berkenalan, Aditya buru-buru mengajak Nandini ke parkiran. Mereka lalu langsung menaiki mobil. Sebelum meninggalkan parkiran, Aditya menatap Nandini.
__ADS_1
"Pokoknya Mas mau tunangan kita dipercepat." Aditya lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Ya yakinkan saja orangtuaku dengan orangtuamu Mas."
"Oke"
Nandini tersenyum, Nandini merasa Aditya yang sekarang begitu posesif, apa karena kejadian surat itu, Aditya jadi takut jauh dari Nandini.
"Din, kan Mas sudah bilang jangan dekat-dekat dengan laki-laki itu"
"Mas, kan tadi ketemu juga nggak sengaja, itu namanya takdir."
Aditya berdecak kesal, "Enak saja takdir, tidak ada takdir-takdiran kamu dengan dia."
Nandini tergelak, lalu mencubit pipi Aditya, "Kamu cemburunya over Mas."
"Biarin"
Aditya melirik ke arah Nandini, Aditya menepikan mobilnya sebentar, setelah mobilnya berhenti, ia buru-buru menarik tangan Nandini, lalu memeluk Nandini dengan erat.
"Biar bekas pelukan wanita itu hilang, diganti sama pelukan kamu Din."
"Ih Modus banget sih Mas, awas ih, udah, ini di jalan, nanti di grebeg, tau rasa deh."
"Biarin, biar dinikahin sekalian,"ucap Aditya sambil terkekeh.
"Ih amit-amit," Nandini melepaskan pelukan Aditya.
"Kamu nggak mau ya Mas peluk"
"Ih Mas inih, kelamaan di luar negri jadi nakal." Nandini bersidakep.
__ADS_1
Aditya nyengir, lalu kembali mengemudikan mobilnya. Sesampainya di kantor mereka kembali ke tempat kerjaan mereka masing-masing.
Aditya langsung masuk ke dalam ruangannya, Aditya terkejut ketika mendapati Nia masih duduk manis didalam ruangannya.
"Loh, kamu belum pulang?" tanya Aditya.
Nia tersenyum manis, "Mau nemenin kamu kerja"
"Nggak perlu."
"Kenapa sih kamu gitu sama aku?" mata Nia mulai berkaca-kaca.
"Nia, aku sudah punya Nandini, aku tidak mau menyakiti hatinya, aku setia."
Nia begitu marah, "Ternyata usahaku sia-sia, aku benci kamu Dit."
"Maaf, aku nggak mau kehilangan Nandini lagi."
"Oke, setidaknya aku sedikit puas sudah membuat kalian berpisah."
Aditya menatap Nia, "Tunggu, aku jadi curiga, jadi sebenarnya..."
"Ya itu aku, karena aku cinta kamu Dit, tapi apa balasan kamu"
Aditya meremas ponsel yang sedang ia pegang, ternyata penyebab putusnya dirinya dan Nandini adalah ulah sahabatnya sendiri. Aditya begitu kecewa dengan Nia.
"Lebih baik sekarang kamu keluar, sebelum aku marah"
"Keluar" Aditya meninggikan suaranya hingga Nia tersentak.
Nia langsung berlari keluar dari ruangan Aditya. Aditya duduk di kursinya. jemarinya memijat pelipisnya. Semuanya terasa mengejutkan baginya.
__ADS_1