Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Bertemu Rendi


__ADS_3

"Aditya" Panggil seorang laki-laki di sebrang kasir sebelah.


Aditya menengok dan melihat siapa yang memanggilnya. Aditya terkejut ternyata Rendi yang memanggilnya. Aditya langsung menggenggam tangan Nandini. Nandini juga terkejut melihat Kak Rendi yang menghampirinya juga Mas Adit.


"Hei, apakabar kalian?" tanya Rendi.


" Alhamdulillah baik Kak"


"Alhamdulillah baik Ren"


"Eh, Dit, bukannya kamu di Singapura?" Rendi sedikit berbasa basi namun pandangannya tertuju pada Nandini, gadis mungil yang pernah ia tolak, tapi sekarang sudah semakin ayu setelah beranjak dewasa.


"Iya, Papah butuh bantuan ku, jadi sekarang aku pindah kuliah disini"


"Oh, nanti aku mampir deh jengukin Om"


"Iya makasih Ren"


"Eh, kalian berdua kok bareng?" Terus..." Rendi melihat genggaman Aditya dan Nandini.


"Nandini sekarang tunangan aku Ren"


Nandini terbatuk, Hais, kayaknya Mas Adit parno nih, segala ngibul lagi🤭


"Oh, selamat yah, oh ya aku masuk ke dalam dulu yah mau beli sesuatu,"ucap Rendi. Rendi lalu menjabat tangan Aditya lagi, Rendi bergegas masuk ke dalam swalayan.


Di kasir sudah semakin longgar, kini sudah giliran Nandini. Nandini mendorong trolinya kedepan Mbak Kasir, lalu mengeluarkan barang-barang yang sudah dibeli. Aditya memberikan dompetnya begitu saja pada Nandini.

__ADS_1


Hah, Mas Adit ini, main ngasih-ngasihin dompet aja.


Nandini awalnya risih membuka dompet Aditya. Karena menurutnya dompet itu bersifat pribadi. Saat pertama membukanya, Nandini menemukan KTP Aditya yang terpampang jelas di bagian depan sebelah kiri. Nandini sedikit terkejut ketika melihat fotonya menggunakan seragam SMP berukuran kecil terpampang di bagian kiri dompet Aditya.


"300 ribu Mbak" ucap Mbak Kasir.


Nandini buru-buru mengambil uang Aditya yang ada di dompetnya.


"Ini Mbak"


Nandini merapikan kantong plastik belanjaanya , lalu meletakkannya kedalam troli. Nadini menghampiri Aditya yang sudah berada di depan pintu swalayan.


"Sudah?"


Nandini mengangguk. Aditya bergegas mengambil kantong-kantong belanjaannya dan meletakannya di bagasi mobilnya.


Mereka berdua lalu masuk kedalam mobil. Nandini mengembalikan dompet Aditya.


Aditya menerimanya, lalu meletakannya di kantong celananya.


"Mas, dompet itu kan barang pribadi, jangan asal ngasih ke orang lain lhoo"


"Kamu bukan orang lain, kamu kan calon istri aku, kamu bebas dengan dompet ini, apalagi nanti kalau sudah jadi istri aku, kamu juga berhak dengan semua isinya" ucap Aditya.


Hati Nandini bagai turun salju, nyessss. Mas Adit selalu bisa membuatnya bahagia dengan caranya sendiri.


"Ih, gombal"

__ADS_1


" Serius sayang" Aditya mengelus kepala Nandini.


Nandini tersenyum,


"Mau yah jadi istri Mas?" sambungnya lagi.


"Ih, ya nanti lah kalau aku sudah lulus kuliah"jawab Nandini.


"Dih, lama banget sih," Aditya protes.


"Ya udah kalau nggak mau"


"Iya iya mau nunggu kok, tapi tunangan dulu yah, aku tuh nggak mau ada yang ganggu hubungan kita lagi Din, kamu lihat tadi, tatapan Rendi, sepertinya menyukaimu juga" Aditya mengerucurkan bibirnya mengingat kembali tatapan Rendi pada Nandini.


"Dih, nggak lah, aku itu bukan type Kak Rendi"


"Itu kan dulu, sekarang kamu cantik banget sayang, Mas aja terkejut lhoo liat penampilan kamu, calon istri idaman pokoknya"ucap Aditya sambil terkekeh.


" Ih gombal mulu ih, pingsan nanti Dini, Mas"


"Coba aja berani pingsan, nanti Mas gendong ke kamar, Mas kunci,hehe"


Nandini memukul lengan Aditya, " Mesum dasar"


Aditya tertawa, "Takut banget"


" Awas kalau macam-macam, nanti pentungan satpam nya di gorok sama Bapak lhoo." Nandini lalu tergelak.

__ADS_1


"Hih serem ih." Wajah Aditya nampak di tekuk, merinding membayangkannya.


Mereka berdua akhirnya sampai juga dirumah Nandini. Nandini dan Aditya segera mengeluarkan oleh-oleh yang dibelinya tadi untuk keluarga Nandini.


__ADS_2