Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Perpustakaan Sebagai Saksi


__ADS_3

Teng...teng...teng


Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Nandini berencana akan ke perpustakaan tapi Amel dan Chantika mencegahnya.


"Din...ayo ke kantin, aku lapar " Ucap Amel memegangi perutnya.


"Aku mau ke perpustakaan Mel, aku mau


mengembalikan novel ini " Nandini menunjukan novel nya pada Amel.


"Besok saja" Amel berusaha menarik lengan Nandini agar mau ikut dengannya ke kantin.


"Tidak bisa, nanti bisa di denda lhoo" Nandini berusaha mencari Alasan agar bisa ke perpustakaan, Aditya pasti sudah menunggunya disana.


"Ih kau ini, ya sudah sana" Amel mengerucutkan bibirnya sambil berlalu menuju kantin.


"Huftt...Amel...Amel" Gumam Nandini.


Nandini segera menuju perpustakaan umum di sebelah laboratorium SMP.


Nandini membuka pintu perpustakaan, begitu hening, hanya ada segelintir siswa SMP ada juga beberapa siswa SMA.


Nandini masuk ke dalam, memilah milih novel terlebih dahulu, saat ia mengambil novel yang ia suka, terlihat di sana wajah Aditya di antara celah celah buku dan rak.


Aditya memajukan kepalanya, lalu berbisik.


"Din...kamu cantik"


Gendang telinga yang menerima suara khas dari gombalan Aditya mampu membuat hatinya berdesir hebat, hanya dengan sebuah pujian yang biasa, tapi saat keluar dari mulut Aditya semua terasa begitu indah.


Wajah Nandini langsung bersemu merah, ia menutup wajahnya dengan novel yang tadi di ambilnya. Ia menyembunyikan malunya di balik sampul novel itu.


Nandini duduk di tempat duduk paling pojok dekat dengan rak, Aditya duduk di depannya, mereka diam tidak bersuara, Aditya mengambil secarik kertas dan pulpen di sakunya. Aditya mulai menulis di kertas itu.


Din hari ini sehat kan.


Aditya lalu memberikan kertas dan pulpen nya pada Nandini, Nandini langsung mengambilnya dengan cepat, ia membacanya, lalu tersenyum dan membalasnya.


Aku sehat, Kakak bagaimana?


Nandini kembali memberikan secarik kertas itu dengan gerakan cepat agar tidak ada yang melihatnya. Aditya juga mengambilnya dengan cepat lalu membalasnya, sesekali juga mengawasi keadaan, takut ada yang melihat.


Kakak sedang sakit nih Din.


Membaca balasan dari Aditya membuat nandini mengerutkan alisnya, ia sekilas memandang seseorang yang ada di depan nya, terlihat sehat dan segar.


Kakak sakit apa?

__ADS_1


Aditya tersenyum membaca balasan dari Nandini.


Malarindu,


Nandini langsung meremas kertasnya kala membaca balasan dari Nandini, ia menutupi setengah wajahnya sambil menatap Aditya.


"Gombal"


Aditya tersenyum geli. Aditya mengambil kertas di atas meja yang tadi Nandini remas.


Aditya merapikan kertasnya lalu menulis lagi dan memberikannya pada Nandini.


Malam Minggu ke bukit bintang yuk...!!!


Nandini memicingkan matanya membaca ajakan Aditya. Nandini membalasnya.


Coba saja kalau berani meminta izin ibu.


Aditya tersenyum,


Oke siapa takut.


Mereka terus saja berbalas pesan singkat menggunakan kertas, hingga bel selesai istirahat berbunyi.


Mereka berdua segera keluar dari perpustakaan, tapi sebelum menuju kelas Aditya terlebih dahulu berlari ke kantin, dan menyuruh Nandini menunggu di depan pintu laboratorium.


Tidak sampai menunggu lama, Aditya datang membawa bungkusan, ia langsung memberikannya pada Nandini.


Nandini juga seketika terdiam mendengar Aditya memanggilnya dengan sebutan sayang, namun ia segera tersadar dan berlari menuju kelasnya.


Di dalam kelas nandini membuka bungkusan plastik yang Aditya berikan, ternyata berisi air mineral dan beberapa roti.


"Din...menginap ya di perpustakaan, kenapa tidak ke kantin" Ucap Amel.


Ucapan Amel membuat Nandini kaget.


"Eh...iya tadi tuh ada novel bagus Mel, jadi aku membacanya disana, tidak terasa, sudah bel ternyata" Jawab Nandini, ya padahal lebih bagus dari sekedar novel sebenarnya.


"Ayo cepat dimakan Din, sebelum bu Ety datang" Ucap Amel menunjuk bungkus plastik yang di genggam Nandini.


Nandini langsung membuka air mineral dan rotinya, lalu memakannya.


Kak, kamu sangat baik dan perhatian, terimakasih, Batin Nandini.


"Lihat tuh Nandini, makan roti saja sambil senyum-senyum, apa dia kesambet tadi di perpustakaan" Ucap Aura pada Amel.


"Dia tadi di perpustakaan membaca novel romantis mungkin jadi terbawa suasana" Jawab Amel.

__ADS_1


Bu Ety masuk ke dalam kelas, Nandini berhenti memakan rotinya, ia menyimpannya di lorong laci mejanya.


☘️☘️☘️


Sementara di kelas Aditya juga senyum-senyum sendiri, Rendi yang melihatnya tertawa geli.


"Kamu tadi istirahat kemana? kok mendadak gila senyum-senyum sendiri, kesambet ya" Celetuk Rendi.


"Kesambet bidadari cantik bro" Jawab Aditya asal.


Rendi memegang kening Aditya.


"Normal...tidak ada pelangi, mana ada bidadari" Ucap Rendi.


"Pelanginya ada di matanya bro"


"Jiah...sok puitis" Ledek Rendi.


Aditya lalu mengambil buku yang ada di laci mejanya, ia menulis beberapa bait puisi untuk Nandini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[Hayo...hayo baper ga?? aku yang nulis aja ikut baper,hihi haduh...berasa muda lagi.


Jangan lupa like nya yah, syukur-syukur sih votenya juga mau,.pasti bungah bet author😆]

__ADS_1


Salam sayang,


Santypuji


__ADS_2