
"Nandini"
Nandini langsung menengok ke belakang. Nandini menepuk dahinya. Ternyata Kak Ilham yang datang bersama adiknya yang masih kecil, sekitar umur 7 tahunan.
"Lho, kak Ilham"
Kak Ilham nampak tersenyum sumringah melihatku ada di pasar malam juga. Kak Ilham menghampiriku, Adiknya terus saja digendongnya.
"Siapa Din?"tanya Mas Adam.
"Teman sekolah Mas" Jawabku.
"Yuk bareng-bareng aja,"ajak Mas Adam pada Kak Ilham. Kak Ilham langsung menyetujuinya.
Mas Adam berjalan didepanku sambil mengobrol dengan Mbak Niken, sementara Nandini berjalan dengan Kak Ilham beserta adik perempuannya juga.
Nandini dan Ilham menggandeng Adik kecilnya bersamaan.
"Din"
"Hem"
"Kita seperti pasangan serasi yah" bisiknya.
Nandini mengerutkan dahinya, Entahlah padahal menurut Nandini Kak Ilham juga tampan, baik seperti nya penyayang anak kecil juga, cerdas dan aktif di kepramukaan, tapi tidak ada desiran saat didekatnya. Fix Nandini sebenarnya belum bisa move on dari Aditya.
"Ngawur, yang serasi, yang didepan kita tuh,"ucapku sambil menunjuk Mas Adam dan Mbak Niken.
Kak Ilham hanya terkekeh geli. Kak Ilham membelikan beberapa jajanan untuk adiknya juga untukku. Nandini dan Kak Ilham banyak mengobrol . Ternyata Kak Ilham tempat tinggalnya bersebalahan dengan desaku. Ayah dan Ibu Kak Ilham dosen di UNY, pantas saja Kak Ilham terkenal cerdas di sekolah, karena memang sudah terlahir dari bibit unggul.
Adzan Magrib berkumandang, Mas Adam akhirnya mengajakku pulang. Ya kami mengunjungi pasar malam di sore hari.
Akhirnya kita berpisah, Mbak Niken pulang sendiri begitu juga dengan Kak Ilham.
Sesampainya di rumah Nandini dan Mas Adam sholat magrib terlebih dahulu, setelah itu mereka bercengkrama di ruang tamu. Nandini terus meledek kakaknya perihal Mbak Niken.
__ADS_1
"Cie, punya gebetan baru,"Ledekku.
" Diem Dek, Mas belum lulus kuliah, masih belum boleh pacaran"
" Tapi Mas kan sudah mandiri"
"Iya tapi Mas sedang memantaskan diri dulu"
"Jadi tadi itu hanya PDKT?"tanya Nandini.
Mas Adam mengangguk. Mas Adam sebenernya menyukai salah satu wanita yang ada didesa ini tapi sayangnya sudah dijodohkan dengan putra Kyai. Jadi Mas Adam otomatis mundur alon-alonπ€.
"Itu tadi siapa? nanti Mas laporkan Aditya lhoo,"ucap Mas Adam dengan nada mengancam.
"Laporkan saja sok,",jawab Nandini ketus.
Mas Adam mengernyitkan dahinya,"Kalian masih pacaran kan?"
"Sudah putus,"jawabku singkat. Aku lalu pergi ke kamar, Mas Adam menatapku nanar.
Nandini duduk didepan meja belajarnya, lalu membuka diarinya. Sudah sebulan ini Nandini tidak menulis apapun disana. Biasanya kisahnya akan tertulis di buku diary kesayangannya itu.
Nandini mulai membukanya, mencurahkan isi hatinya didalam buku diary itu.
ππππππππππππππ
Jogja, Juli 2002
You make me cry, but I still love you
Dear Kamuβ¦
Kenangan terindah dalam hidupku..
Maaf bila cinta ini semakin hari semangkin permanen..
__ADS_1
Maaf bila rasa ini semangkin melekat erat..
Tak ada ungkapan yang bisa menggambarkan betapa sedihnya perasaan putus cinta. Dari yang biasanya ada orang selalu setia berada di sampingku, kini ia telah pergi. Dari yang selalu berdua, kini aku harus berjalan sendirian di tengah keramaian orang. aku harus hidup mandiri dan melakukan apa-apa sendiri. Efek sakit karena putus cinta memang sulit hilang dengan cepat.
Bahkan aku akan merasa hidup tak ada artinya lagi. Semangat dan motivasi aku menjalani aktivitas seakan menghilang. Hari demi hari yang aku lalui terlihat suram, tak seindah seperti biasanya. Meski bibir sulit untuk mengutarakan kata-kata putus cinta, namun tak sedikit orang sudah memahami perasaan ini. Memang seperti itulah kehidupan, pasti akan selalu ada masalah yang datang.
πππππππππππππ
Selesai menulis Nandini menyeka air matanya. Nandini masih belum percaya jika sudah hampir 2 bulan Nandini dan Aditya berpisah. Perpisah meninggalkan luka. Rasanya tidak adil sekali. Tapi Nandini akan tetap berusaha semangat. Nandini akan membuktikan pada Aditya bahwa Nandini pantas dicintai, bukan di hianati sesuka hati. Tapi tidak bisa di pungkiri terkadang Nandini merindukan Aditya.
"Dit...aku rindu" Gumam Nandini sambil memeluk buku diary nya.
Nada ringtone ponsel Nandini berdering, tanda ada panggilan masuk. Nandini beranjak dari meja belajar nya lalu mengambil ponselnya.
Calling...
+658567744
Nandini mulai bingung melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, seperti bukan nomor dari Indonesia.
Nandini mengangkatnya.
"Assalamualaikum, hallo"
Hening tidak ada jawaban.
"Hallo...."
"Ehmm"
Tut...tut...tut sambungan telfon terputus.
Nandini mengernyitkan dahinya.
"Ih, gak ada kerjaan, cuma ehmmm doang"
__ADS_1