Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Patah Hati


__ADS_3

Setelah bungkusnya terbuka, Nandini lalu membuka lipatan suratnya. Nandini terkejut dengan barisan pertama isi surat dari Aditya.


**Nandini, maafkan aku....


Assalamualaikum Nandini, maafkan aku tidak bisa berkata-kata banyak lagi, maafkan aku yang selama ini menyembunyikan sesuatu darimu. Mungkin sudah saatnya aku mengungkapkan semuanya, aku takut jika kamu nantinua akan semakin sayang dan semakin cinta dengan hubungan ini.


Nandini sudah 6 bulan ini aku menjalin hubungan dengan seorang wanita yang juga bersekolah disini. Maafkan aku selama 6 bulan ini aku membohongi mu.


Nandini, sepertinya kita cukup sampai disini, aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh lagi, ini sangat menyiksaku.


Maafkan aku segali lagi*.


Lutut terasa lemas, bibir terasa kelu, kaki mendadak kaku, fikiran melayang mengingat 1 tahun belakangan. Aditya tidak mungkin seperti ini, berhianat dan mengingkari janji.


Nandini terdiam sambil meremas surat dari Aditya.


Amel, Aura dan Cantika menyusul Nandini ke toilet karena Nandini tak kunjung masuk kelas.


Amel langsung berlari ke arah Nandini yang berjongkok sambil menekuk lututnya. Wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya.


" Din, kamu kenapa?" Amel menggoyang kan tubuh Nandini.


Nandini menggeleng.


Amel, Aura dan Cantika saling pandang. Mereka masih tidak mengerti kenapa Nandini tiba-tiba menangis.


Amel melihat kertas yang sudah diremas-remas Nandini dalam genggamannya.


Apa gara-gara surat itu, Batin Amel.


" Din, sebentar lagi bel pulang, hayo kita ke kelas dulu"


Nandini lalu menyeka air matanya. Ia menuju westafel lalu mencuci berjalanmukanya untuk menyamarkan bekas air matanya.


Mata dan hidung Nandini memerah. Amel lalu menggandeng Nandini masuk ke dalam kelas.


Di kelas Nandini masih terdiam dengan pamdangan kosong.


" Din, kenapa?kamu punya kita, jangan dipendam seperti itu" ucap Amel.


Nandini lalu memberikan surat yang sudah terkoyak itu pada Amel. Amel menerimanya.


"Ini apa boleh aku membacanya?"

__ADS_1


Nandini mengangguk. Amel segera membuka surat bekas remasan itu.


Setelah membaca Amel memeluk Nandini.


" Din, ini seperti bukan Kak Adit." Amel merasa ini bukanlah Kakaknya, karena Amel sangat tahu Kakaknya begitu mencintai Nandini.


" Tapi itu tulisannya," Jawab Nandini singkat.


Amel memperhatikan dengan seksama, memang benar ini tulisan Kak Adit, tapi untuk isi suratnya sepertinya bukan Kak Adit. Kak Adit tidak mungkin melakukannya.


" Din." Amel kembali memeluk Nandini.


" Sudah tidak apa-apa, dalam hubungan putus itu sudah hal yang lumrah terjadi kan? mungkin ini sudah waktunya," Nandini kembali menangis lirik di bahu Amel.


" Pantas saja Kak Adit tidak pulang libur semester kemarin, mungkin karena pacar barunya" Sambung Nandini.


Amel tidak bisa berkata apa-apa lagi, di satu sisi Nandini adalah sahabatnya, disisi lain Kak Adit juga kakak kandungnya. Amel hanya bisa meyakini bahwa itu bukan perbuatan Kakaknya.


" Atas nama Kakak, aku minta maaf yah Din"


Dini melepaskan pelukannya, " Tidak, kamu tidak perlu merasa bersalah, kamu dan Kak Adit berbeda, aku tidak ingin mencampur adukan hubungan persahabatan kita dengan percintaanku Mel"


" Terimakasih Din, kamu harus tetap semangat yah"


Nandini sekilas mengingat kembali kenangan yang ada di sekolah ini.


Bel tanda pulang berbunyi, Nandini dan teman-temannya segera merapikan peralatan yang dibawa saat ujian.


Amel berpamitan pada Nandini karena sudah di jemput.


" Awas saja kamu Kak," Gumam Amel sambil mengepalkan jemarinya.


Nandini juga langsung pulang karena Mas Adam sudah menjemputnya.


" Hey, kenapa matanya merah dan bengkak." Mas Adam curiga kalau adiknya ini habis menangis.


"Sedih Mas, besok kan ujian terakhir, berarti sebentar lagi kita semua akan berpisah." Nandini berusaha mencari alasan yang tepat.


Mas Adam mengusap pucuk kepala Nandini.


"Perpisahan masih lama, belum juga pengumuman kelulusan, sudah mellow seperti itu"


" Ya kan setelah ini kita libur panjang Mas"

__ADS_1


" Bantu Mas yah nanti di tempat fotocopi Mas depan kampus"


" Boleh memang?"


" Boleh lah"


" Asyik, lumayan bisa cuci mata lihat kakak-kakak mahasiswa"


" Hidih, nanti Mas laporkan ke Aditya Lhoo"


" Silahkan." Nandini acuh tak acuh.


Adam mengerutkan Dahinya.


" Ayo Mas ih, panas"


" Iya iya"


Mas Adam segera menjalankan motornya pulang ke rumah.


***


🍁Singapura🍁


" Adit"


Aditya yang hendak membuka pintu apartemennya tiba-tiba dipanggil oleh Nia.


"Iya kenapa Ni?"


" Ini ada surat dari Indonesia, tadi kamu tidak ada dan kebetulan aku lewat, jadi dititipkan padaku"


" Surat?"


Nia mengangguk, Aditya lalu menerima surat dari Nia. Tertulis disana nama Nandini.


Bukankah selama ujian nasional ini kita sepakat ya tidak bertukar surat terlebih dahulu, Batin Aditya.


" Terimakasih Ya Nia"


Nia mengangguk lalu tersenyum.


Aditya memegang surat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aditya merasa senang jika memang Nandini yang mengirim suratnya. Mungkin Nandini merindukannya.

__ADS_1


__ADS_2