Surat Cinta 2000

Surat Cinta 2000
Makan siang


__ADS_3

" Kenapa Din?"


" Gak apa-apa cuma sesak aja"


Nandini benar-benar merasa sesak. Perlakuan Aditya memang diluar dugaan. Nandini berfikir apa ada yang salah dengan dirinya. Kenapa Aditya bersikap seperti itu. Padahal yang disakiti dirinya, apa memang seperti ini Aditya yang sebenarnya.


Ah, Nandini mencoba untuk melupakan kejadian tadi pagi. Nandini fokus lagi mendisain baju bersama Nana sambil sesekali menyesap kopi.


" Na, emang kopi itu pahit ya?"


Nana menggeleng, " Enggak kok, enak kok"


Nandini menggeram pelan, " Dasar jablud"


" Apa Din"


" Emm, enggak"


Nandini dan Nana begitu bersemangat, hingga tak terasa sudah waktunya jam makan siang. Salah satu staf di bagian desain memberi kartu makan gratis untuk di gunakan makan di kantin.


Nana dan Nandini bergegas menuju kantin, sesampainya di kantin mereka berdua mengambil makanan. Kantinnya seperti prasmanan gitu, bebas memilih lauk apa saja. Kantinnya begitu bersih dan terdapat beberapa sound, sehingga bisa mendengarkan lagu sambil makan.


Nandini duduk disalah satu meja yang lumayan panjang, bisa di isi sekitar 10 orang saling berhadap-hadapan.


Saat Nandini sudah duduk, ponselnya berdering, tanda ada pesan masuk. Nandini mengernyitkan dahinya karena melihat nama si pengirim pesan.


Kak Adit


Din, makan siang dimana?


Nandini memutar bola matanya, tadi saja belaga jahat, sekarang segala sms, maksudnya apa coba, apa jangan-jangan punya kepribadian ganda itu Kak Adit.


Nandini membalas pesan Kak Adit.


^^^Nandini^^^


^^^Maaf ini siapa? q gak kenal^^^


Balasan dari Nandini cukup menohok, Nandini sudah kepalang sebal dengan Aditya. Kadang baik kadang jahat, kan aneh.


Nandini dan Nana makan dengan lahap, mereka tidak menyadari jika sekarang disebelah mereka sudah ramai beberapa orang yang duduk, dan di antara itu ada Aditya dan beberapa staf lainnya.


" Eh, Pak Adit makan disini?" tanya salah satu seorang staf. Dan itu membuat Nandini terkejut hingga menengok ke samping.


Benar saja ternyata Aditya sudah duduk disampingnya. Nandini melanjutkan makannya kembali agar orang-orang disekitarnya tidak curiga.


Aditya dan beberapa staf lainnya makan sambil mengobrol. Karena Aditya masih baru menggantikan sementara posisi ayahnya yang sedang sakit. Nandini mendengar pembicaraan mereka, bukan menguping lhoo yah😆.

__ADS_1


" Pak Adit masih muda sekali tapi sudah berani mengemban amanah seberat ini?" tanya Bapak-bapak di sebrang Aditya.


" Iya, demi ayah, jadi saya terpaksa harus pulang dan melanjutkan kuliah disini"


What, Kak Adit tidak akan kembali lagi ke Singapura? Batin Nandini.


Di kantin tiba-tiba memutar lagu Kangen dari dewa 19.


Kuterima suratmu


Telah kubaca dan aku mengerti


Betapa merindunya dirimu


Akan hadirnya diriku


Di dalam hari-harimu


Bersama lagi


Kau bertanya padaku


Kapan aku akan kembali lagi


Katamu kau tak kuasa


Melawan gejolak di dalam dada


Pertemuan kita nanti


Saat kau ada di sisiku


Semua kata rindumu


Semakin membuatku tak berdaya


Menahan rasa ingin jumpa


Percayalah padaku aku pun rindu kamu


'Ku akan pulang


Melepas semua kerinduan


Yang terpendam


Kau tuliskan padaku kata cinta

__ADS_1


Yang manis dalam suratmu


Kau katakan padaku


Saat ini kuingin hangat pelukmu


Dan belai lembut kasihmu


Takkan kulupa selamanya


Saat bersama dirimu


Aditya yang sedang sibuk makan malah jadi terdiam dan mendengarkan lagu yang terputar.


" Pak Adit kenapa? kok ngelamun, lagunya enak yah?" tanya staf wanita sexy yang ada di sebelah kanan Aditya.


"Lagunya lumayan mengingatkan saya pada seseorang, dulu sempat menjalani hubungan jarak jauh waktu saya di Singapura, tapi sayangnya mantan pacar saya itu malah menghianati saya, padahal entahlah katanya rindu, tapi mendua" Ucap Aditya sambil terkekeh.


"Masa sih, ada wanita yang menyianyiakan pak Adit?"


Aditya hanya tersenyum lalu melanjutkan makan lagi. Sementara Nandini memutar bola matanya, jengah dengan apa yang di ucapkan Aditya.


"Selingkuh? kamu kali yang selingkuh, ngaca dong" Batin Nandini.


" Na, kamu bawa kaca?"


" Buat apa?"


"Ya buat ngaca lah, masa buat di makan?"


Nana terkekeh, " Malu, di samping ada pak bos, gak ada jaim-jaimnya ih Dini"


Nana memberikan kacanya pada Nandini, Nandini tersenyum simpul.


" Gak apa-apa yah Pak Aditya, apa Pak Aditya mau ngaca juga," Ujar Nandini sedikit penuh penekanan.


Aditya melirik Nandini dan Nandini langsung mengarahkan kacanya ke wajah Aditya. Aditya tersenyum manis. Nandini menghembuskan nafasnya dengan kasar. Senyuman yang Nandini rindukan.


Nandini lalu mengarahkan kacanya pada wajahnya, berpura-pura merapikan jilbabnya. Setelah selesai Nandini mengembalikan kacanya lagi pada Nana.


Nandini menunggu Nana yang masih belum selesai makan. Nandini bermain ponsel, karena di sampingnya ada Aditya, Nandini mengetik balasan sms untuk Kak Ilham sambil menunduk dan memegang ponselnya di atas pahanya.


Nadini terkejut ketika tangan Aditya meraba jemarinya yang sedang memegang ponsel. Nandini ingin menepis tapi Aditya semakin mengeratkan genggamannya.


Nandini mendelik tapi Aditya tidak menghiraukannya. Tangan Kanan Aditya masih sibuk makan sementara tangan Kirinya menggenggam jemari Nandini.


Nandini mulai gusar, takut ada yang melihat. Nandini sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri. Benar-benar ya Aditya ini mendadak gila, menggengam tangan Nandini di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


Nandini mencoba rileks agar tidak ada yang curiga, walaupun jantungnya dibuat salto oleh Aditya.


"Awas saja kamu Kak," Batin Nandini.


__ADS_2