
Seperginya Aditya dari rumah Dini, Dini langsung menuju kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang lumayan empuk.
Ia meraba sakunya, di ambilnya sepucuk surat yang tadi Aditya berikan, masih atas nama Rendi.
Dini membuka surat itu perlahan, Ia tersenyum ketika membaca pantun salam pembukanya.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Satu Titik dua koma, Kamu cantik, aku yang punya.
Assalamualaikum, Pacarku sayang
Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia yah.
Bagaimana hari ini? apakah menyebalkan, menyenangkan, Maafkan Aku tidak bisa selalu di sampingmu, tapi cintaku akan selalu di sampingmu.
Dini, aku menyukai mu dari sejak pertama kali aku melihatmu, percaya atau tidak itulah kenyataannya.
Sebait dua bait puisi inilah gambaran perasaanku padamu.
Hari ini bulan bersinar terang sayang..
Dan aku mencoba menitipkan tabah pada sinarnya
Tabah pada setiap jeda di antara kita
Tentang sua, asa dan harapan harapan cinta
Duhai kau, yang kusebut kekasih ...
Akankah kekuatan rindu bergetar hingga dinding kalbu?
Sajakku merintih ...
Bertinta usang bait penantian kugoreskan
Biru, mengisi lembaran waktu
Aku merindumu setiap hari Dini, rasanya ingin selalu dekat , tunggu aku dewasa Dini.
Salam sayang,
Aku yang mencintaimu.
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Nandini tersenyum, Ia berbicara pada dirinya sendiri.
" Pertama kali aku bertemu dengan Kak Adit kan waktu aku kelas 4 SD, waktu belajar kelompok di rumah Amel, dan Kak Adit juga masih SMP waktu itu, Ah tidak mungkin Kak Adit menyukaiku seawal itu, itu hanya ungkapan hati yang di buat-buat seolah-olah itu Kak Rendi, tapi puisinya bagus, pantas saja banyak gadis yang menyukai kak Adit, ternyata pandai membuat puisi"
Nandini terus saja berbicara sendiri, menerka-nerka dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya, ingin sekali Dini mengungkapkan semuanya pada Kak Adit, tapi Nandini mengurungkan niatnya karena malu, di samping itu Nandini tidak mau ada kecanggungan di antara mereka karena sekarang mereka terlibat kontrak kerja.
__ADS_1
"Biarlah...sampai kapan semuanya akan terus seperti ini akan aku ikuti, mulai sekarang akan menganggapnya itu benar-benar dari mu Kak Adit" Gumam Dini.
Nandini bangun dari tempat tidurnya, berjalan menuju meja belajarnya, tangan nya mulai menulis balasan untuk Kak Aditya.
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Waalaikumsalam Kak
Terimakasih untuk puisinya, Maaf aku tidak bisa membalasnya karena aku tidak bisa berpuisi, isi hatiku cukup aku saja yang tahu, aku malu mengungkapkannya.
Hari ini aku senang dan bahagia, aku akan lebih giat lagi membuat gambar-gambar desain baju untuk remaja, untuk cita-cita ku juga.
Kak, sebentar lagi juga Kakak akan ujian, belajar yang rajin, aku tidak mau punya pacar yang tidak lulus, malu dong, hehe.
Sudah dulu ya kak, aku mengantuk.
Salam manis,
Nandini
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Setelah selesai menulis surat, Dini melaksanakan sholat isya lalu belajar terlebih dahulu, setelah belajar Nandini tidak makan malam hari ini karena sudah kenyang.
Nandini memilih untuk tidur karena besok akan ada kegiatan OSIS.
***
Sambil menunggu sarapan, Mas Adam menyetel Radio kesayangan nya, banyak lagu-lagu hits yang di putar oleh penyiar radio di pagi hari. Banyak juga request lagu dari sahabat Radio.
Penyiar radio mulai bercuap-cuap menyapa seluruh pendengar setia dan mulai membacakan request lagu dari sahabat radio.
Nandini dan ibu menata makanannya, pagi ini mereka sarapan dengan telur dadar dan oseng buncis, tak lupa peyek tempe menemani kenikmatan sarapan di pagi hari.
Selamat pagi sobat FM, saya si ganteng dari SMA Nusantara, ingin berbagi salam untuk kekasih kertasku, Saraswati di sana, yang mungkin saat ini sedang bersiap-siap berangkat sekolah, hati-hati di jalan yah, aku menunggumu di sekolah, request lagunya kangen dewa 19, aku selalu kangen kamu.
Nandini berhenti menuang teh panasnya waktu mendengar penyiar radio membacakan request lagu dari sobat FM.
Apa itu Kak Adit, Saraswati itu nama belakangku, Batin Dini.
Nandini tersenyum, namun Ia tersadar, ia hanyalah kekasih Kertas seperti yang di sebutkan tadi.
"Dek kenapa senyum-senyum" Tanya Mas adam yang sedang memakan peyek.
"Agar teh panas ini manis tanpa gula kak, jadi aku senyumin saja teh nya" Jawab Nandini dengan candaan.
"Ih PD sekali kamu"
"Kalau tidak PD, tidak akan jadi anggota OSIS Mas"
Mas Adam tersenyum "Ya Mas percaya dengan adik Mas yang senyumannya semanis gula ini, Ayo cepat makan, nanti kakak yang antar, bapak sedang banyak pesanan katanya"
__ADS_1
"Oke siap"
Mereka sarapan bersama, selesai sarapan Nandini yang memang sudah mandi segera mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Nandini dan Mas Adam berangkat bersama ke sekolah karena kebetulan juga Mas Adam ada jadwal kuliah pagi hari ini.
Sesampainya di sekolah Nandini langsung masuk ke dalam kelasnya, di dalam kelas sedang heboh tentang salam sayang lewat radio yang ternyata banyak sekali yang mendengar.
"Eh...Tuh Dini, coba kita tanya" Ucap Cantika.
Amel, Aura dan Cantika langsung mengerumuni Nandini.
"Cie yang dapat salam dari kekasih Kertasnya, Neng Saraswati, hehehe" Ledek Aura.
"Eh apaan sih kalian ih, Udah udah ih" Nandini meletakan tasnya sambil menahan malu.
Huh kak Adit ini, Batin Nandini.
"Cie...cie Saraswati" Amel kembali meledek.
Bel masuk berbunyi, Nandini merasa lega karena terselamatkan oleh bel sekolah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[ Jangan lupa like komen dan Vote yah, makasih ya udah mau baca novel ku]
Salam sayang,
@Santypuji
__ADS_1