
Nandini tidak jadi melihat surat-surat yang begitu banyak itu, waktu istirahat tidak akan cukup hanya untuk membaca, Nandini juga merasa lapar karena sebelumnya mereka baru saja selesai melaksanakan ulangan Matematika.
Nandini memilih makan, ia bisa membaca surat-suratnya nanti ketika di rumah.
Amel yang penasaran mendengus kesal.
"Pokoknya besok harus cerita" Ucap Amel.
"Iya...iya Adikku bawel sekali"
Amel tersenyum " Terimakasih kakakku"
"Eh Mel, enak kalau punya kakak ipar Nandini, mudah-mudahan aku juga dapat kakak ipar baik hati, jangan sampai dapat yang galak" Ucap Aura.
Mereka malah menertawakan Aura.
Mereka bersenda gurau bersama, jika di sekolah Nandini bisa sejenak melupakan Aditya dari kesepian hatinya dengan bermain dengan teman-temannya.
Jika di rumah Nandini akan menghabiskan waktunya untuk belajar dan mendesain baju-baju.
☘️☘️☘️
Pulang sekolah Nandini di jemput Mas Adam, namun mas Adam langsung kembali lagi ke kampus.
Nandini menemui ibu, memberi salam lalu Salim, setelah itu masuk ke dalam kamar. Nandini merebahkan tubuhnya di kasur, memandang langit-langit kamar, Nandini teringat surat dari Aditya.
Nandini bangun lalu meraih tas nya yang ia letakkan di meja belajar.
Nandini membuka tas nya lalu mengambil kotak surat yang Aditya Aditya kirimkan untuknya.
__ADS_1
Nandini memilih-milih tanggal paling awal, lalu menyusunnya. Surat pertama Nandini baca. Aditya memberi kabar jika dirinya sudah sampai di Singapura, Nandini menyewa semacam kos-kosan di dekat kampus.
Aditya menuliskan kerinduan nya di surat itu, padahal mereka baru dua hari tak bertemu waktu itu.
Surat kedua Aditya bercerita jika ia sudah melihat kampus yang akan di jadikan tempat belajar nanti, Aditya menuliskan disana tempat kuliahnya sangat besar dan juga bagus, disana juga mengatakan banyak juga mahasiswa Indonesia yang belajar disana.
Nandini membaca surat-surat berikutnya, disetiap suratnya Aditya selalu menuliskan kata cinta dan kata rindu untuk Nandini.
Walaupun hanya lewat surat tapi Nandini sudah sangat bahagia.
Walaupun Aditya tidak ada di depan mata, namun Aditya selalu ada di hati Nandini. Begitu juga dengan yang di rasakan Aditya, Nandini tidak akan tergantikan walaupun banyak wanita cantik disana.
"Din..." Panggil Ibu sambil mengetuk pintu kamar Nandini.
"Iya Bu"
"Iya Bu"
Nandini segera merapikan surat-suratnya, ia masukan kembali kedalam kota surat setelah itu keluar kamar menuju meja makan.
Nandini segera makan siang terlebih dahulu, setelah itu ia ingin menggambar kembali.
Setelah selesai makan nandini mengambil pensil dan beberapa lembar kertas HVS untuk menggambar.
Tok...tok...tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
__ADS_1
Nandini segera membuka pintunya.
"Eh Mbak Monica" Nandini mempersilahkan Monica masuk.
Monica masuk dan duduk di ruang tamu, Nandini pergi ke belakang membuat minuman juga mengambil cemilan.
"Kamu sendiri Din di rumah?"
"Tidak Mbak, ada ibu, ibu dan tetangga sedang di belakang, membuat kue atau catering gitu mbak, Bapak itu di ruko depan menjual material bangunan, Mas Adam sedang kuliah"
Monica mengangguk "Syukurlah kalau tidak sendirian, soalnya selain mengurus pekerjaanmu, mbak juga di beri amanah untuk menjagamu juga oleh Aditya"
"Ah Kak Adit berlebihan sekali mbak"
"Eh kok berlebihan itu bentuk cinta aditya padamu, kamu beruntung lhoo Din, mbak saja yang sudah dewasa susah menemukan laki-laki yang perhatian"
Nandini tersenyum bahagia, benar sekali apa yang di katakan Mbak Monica, dirinya sangat beruntung karena mendapatkan seseorang yang mencintainya begitu tulus.
"Mbak jangan keras-keras, takut ibu dengar" ucap Nandini sambil tersenyum.
Monica tertawa " Jadi kalian backstreet"
"Apa itu mbak"
"Ya pacaran diam-diam"
Nandini mengangguk, Nandini bercerita bahwa dirinya harus fokus sekolah terlebih dahulu karena orang tua Nandini takut jika asamara akan membuyarkan otak saat belajar.
Monica dan Nandini melanjutkan mengobrol tentang desain dan tentunya tentang kehidupan mereka berdua juga, Monica sangat senang bisa berteman dengan Nandini yang mudah bergaul.
__ADS_1