Sweater Abu-abu

Sweater Abu-abu
Goresan Pada Luka Yang Sama Kian Terasa~Antara Nafsu Dan Amarah


__ADS_3

Seharian tertidur membuat badan Namjoon terasa begitu berat.


Dengan posisi terbaring pria itu mencoba mengingat semuanya.


Tubuhnya yang hanya berbalutkan selimut membuat matanya terbelalak seketika.


"Hana ?"


"Aaaaaghhh !" pria itu kembali memukul kepalanya perlahan.


"Jihyo ?"


"Apa yang telah ku lakukan padanya ?" raut wajahnya tampak begitu lesu.


"Apa aku mabuk ?" ia masih mencoba mendapatkan ingatan nya kembali.


"Tapi aku sama sekali tak menyentuh alcohol tadi malam !"


Sore itu merupakan hari terakhir Hana berada dikampung bibi asuhnya.


Ia tak tahu alasan kenapa Yoongi sengaja stay begitu lama dikampung bibi asuhnya.


Hana hanya berpikir bahwa Yoongi penat dengan segala pekerjaan kantornya.


"Non Hana tidak ikut ?" ucapan lembut bibi GeumJa seketika menyadarkan lamunannya.


" Tuan Muda menginginkan makanan khas tradisional daerah sini,"


"Tuan Muda bahkan sudah bersiap-siap sekarang !"


"Tak apa Bi, saya dirumah saja."


"Kau yakin tak ingin ikut ?" Yoongi muncul dengan membenahi resleting jaketnya.


"Tidak Kak, saya ingin menikmati langit senja terakhir di rumah ini," Hana tersenyum lembut memperhatikan penampilan Yoongi.


"Baiklah,"


"Bawa ini, telfon aku segera jika ada sesuatu yang membuat mu tak nyaman !" Yoongi meletakkan ponsel dalam genggaman tangan Hana.


"Ingat, jangan pergi terlalu jauh dari rumah bibi."


"Saya bukan anak kecil lagi Kak,"


"Kakak tenang saja."


"Lagipula ada aku disini, kau tak perlu khawatir Hyeong !" Taehyung turut muncul dan berbicara pada semuanya.


"Justru aku tak bisa tenang, meninggalkan Hana bersama lelaki buaya seperti mu," Yoongi menatap sekilas wajah Taehyung dan memalingkan wajah seketika.


"Kak sudahlah," Hana kembali mencoba meredam ketegangan diantara keduanya.


"Kakak harus segera pergi dan kembali untuk istirahat,"


Yoongi akhirnya pergi dan menuruti perkataan Hana untuk pergi bersama bibi GeumJa.


Hana masih saja betah untuk duduk dan menatap langit senja sore itu.


"Apa kau masih memikirkannya ?" Taehyung kembali mencoba membuka percakapan.


"Kak Namjoon,"


Raut wajah Hana terlihat suram.


"Darimana Tuan bisa mengetahui keberadaan saya ?" gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Itu mudah bagiku," Taehyung menjawab dengan menyenderkan kepala serta menoleh pada Hana.


"Apa kau memang selalu setenang ini Hana," pria itu berucap dalam hati dengan pandangan mata yang tak lepas dari gadis yang duduk disebelahnya.


"Terimakasih untuk semuanya," pria itu kembali berucap sembari menggenggam lembut tangan Hana.


Hana yang semula sibuk mengayunkan pandangan kesana-kemari pada cakrawala seketika beralih menatap Taehyung.


"Terimakasih karena telah menyelamatkan nyawa Ayahku," Taehyung menyatukan tatapan matanya pada Hana.


"Kenapa Tuan tidak pernah bercerita bahwa Tuan dan Tuan Namjoon itu adalah saudara ?"


"Tidak ada yang pernah bertanya,"


"Lagipula siapa yang akan mempercayai perkataan berandal seperti ku ?" Taehyung terlihat menghela nafasnya.


Taehyung dan Hana menghabiskan waktu senja mereka di teras rumah bibi.


Langit malam yang berganti menyelimuti bumi tak membuat keduanya bergeming untuk meninggalkan teras.


"Kita harus masuk, disini semakin dingin !" Taehyung beranjak dan mengangkat kedua tangannya keatas sembari melakukan peregangan.


"Lagipula aku juga lapar Hana," pria itu berucap seraya mengusap perutnya.


Hana tersenyum serta mengangguk menanggapi kalimat Taehyung yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya.


"Apa kau mengikuti Kakakmu atas dasar kemauan mu sendiri ?" Taehyung bertanya dengan mulut penuh makanan.


"Apa maksudmu ?" Yoongi datang dan menyentil kepala Taehyung saat itu juga.


"Hyeong !!" Taehyung berteriak sembari memegangi kepalanya.


"Apa ?"


"Jangan membicarakan ku dari belakang, atau ku hajar kau disini !"


"Kak tenanglah, ini sudah malam."


"Tapi dia selalu saja memancing emosi ku Hana !" Yoongi melotot menatap Taehyung.


"Aku ?" Taehyung pun tak ingin kalah untuk membela dirinya sendiri.


"Aku menanyakan pertanyaan pada Hana, kenapa kau yang harus menjawab nya ?"


Hana akhirnya pergi meninggalkan perdebatan keduanya.


Ia lebih memilih merebahkan tubuhnya didalam ruang tidur bibi GeumJa dibandingkan harus melihat perdebatan sengit kedua pria yang sama-sama keras kepala.


Taehyung yang tak ingin kembali terlebih dahulu untuk pulang ke kota membuatnya berakhir tidur dalam satu ruangan bersama Yoongi selama ini.


"Kau itu benar-benar parasit."


"Seharusnya Hana yang berada disini, bukan dirimu !!" Yoongi berucap ketus dengan nada tinggi.


"Diam lah pucat !" Taehyung tak ingin kalah pria itu kembali membentak menanggapi ucapan Yoongi.


"Tak bisakah saya beristirahat dengan tenang ?" Hana berdiri diambang pintu dan mencoba meninggikan suara.


"Kami tidur Hana !" kedua pria itu berucap dengan kompak sembari mendongakkan kepala dan akhirnya bersembunyi dalam selimut mereka.


Pagi itu Hana memeluk erat sang bibi.


Gadis itu tersenyum serta mengucapkan banyak terimakasih pada bibi asuhnya.


"Bibi jaga kesehatan,"


"Saya akan sangat merindukan Bibi."


Wanita paruh baya itu pun kembali membalas pelukan Hana.


"Berhati-hatilah dalam berkendara Tuan Muda,"

__ADS_1


Yoongi tersenyum dan melambaikan tangannya pada bibi GeumJa.


"Kenapa kita harus pulang bersama tamu tak diundang seperti ini ?" gumam Yoongi sembari melirik Taehyung yang duduk disebelahnya.


"Aku akan membayar nanti, setelah kita sampai tujuan !" pria tampan itu menanggapi dengan begitu santai.


"Wah, Apa kau pikir aku ini sopir taksi ?" Yoongi kembali menimpali.


"Bahkan cara jalan mu itu seperti haraboji Hyeong !" Taehyung tak ingin kalah dan kembali meledek Yoongi.


"Apa kau bilang ?" Yoongi yang terpancing emosi akhirnya meninggikan suaranya.


"Tidak bisakah kalian akur untuk kali ini ?"


"Atau saya lebih baik turun sekarang ?" Hana yang tak lagi tahan dengan perseteruan kecil antara Taehyung dan Yoongi membuat ia turut berbicara.


Jihyo yang frustasi menerima perlakuan dari Namjoon membuat gadis itu menghabiskan hampir seharian waktunya dengan menangis dikamar.


Ya, gadis yang semula kasar, jutek, acuh tak acuh itu kini terlihat begitu menyedihkan karena perasaannya.


Ia ingin membenci Namjoon tapi hatinya telah begitu kuat terpikat pada karisma sang pria pujaan.


"Kenapa aku harus mencintainya ?"


"Kenapa dia mempermainkan hatiku seperti ini ?" gadis itu meratapi dirinya sendiri, nampak begitu banyak tissue bertebaran dimana-mana dalam ruangan kamar mewahnya karena derasnya air mata.


Namjoon mencoba menghubungi Jihyo tapi panggilan nya sama sekali tak dihiraukan.


Jihyo justru melempar ponselnya entah kemana.


"Lihat saja, aku akan membencimu !"


"Aku tak akan lagi menemui mu Oppa," gadis itu kembali menangis tersedu.


Dengan berat hati akhirnya Namjoon menyambangi kediaman tunangannya malam itu.


Ia tak ingin mendengar ibunya mengomel setiap kali ia menelantarkan Jihyo.


Melihat ponselnya yang terus saja berbunyi membuat Jihyo beranjak.


Puluhan panggilan dari Namjoon kembali meluluhkan hatinya dan akhirnya ia memutuskan untuk menjawab panggilan.


"Tolong buka pintu sekarang Jihyo," suara Namjoon terdengar lembut mendayu.


"Aku sudah berada didepan."


Isak tangis Jihyo perlahan memudar.


"Untuk apalagi dia kesini ?" gadis itu bergumam dalam hati sebelum akhirnya turun dan membuka pintu.


"Apa Kau baik-baik saja ?"


"Pergi lah Oppa, aku ingin sendiri," Jihyo mendorong pelan tubuh Namjoon dan menyuruhnya pergi.


"Maafkan Aku," pria itu justru memeluk Jihyo, rasa bersalah begitu nampak diwajahnya.


Jihyo membeku, air matanya kembali turun.


"Oppa tak bisakah kau mencoba untuk mencintaiku ?"


"Kau tahu aku sakit karena semua perubahan sikapmu Oppa !"


Namjoon hanya diam dan tetap memeluk Jihyo tunangan nya.


"Apa sebaiknya kita mencari makan dulu Hana ?" Yoongi berucap dan mencoba menahan Hana.


"Tidak Kak, aku sudah lelah."


Yoongi akhirnya terpaksa turun dan menurunkan kopernya.


Pria itu menghela nafasnya perlahan saat melihat Hana menarik dan membawa kopernya menuju ke dalam.


Langkah Hana terhenti, ia tak percaya dengan kejadian yang tengah berlangsung didepan matanya.


Ya, rasa bersalah membuat Namjoon mencoba menenangkan Jihyo dengan memberikan sebuah ciuman.


Tanpa sadar, tangan Hana melepas pegangan koper dalam genggamannya sehingga hal itu menimbulkan suara.


Jihyo serta Namjoon pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh seketika.


"Maaf" Hana kembali meraih koper dan kembali buru-buru menariknya melewati Namjoon serta kakak perempuannya.


Yoongi yang turut menyaksikan hal itu hanya bisa menampilkan sorot mata tajam terhadap Namjoon dan berlalu begitu saja.


"Hana ..." pria itu bergumam lirih hendak mengejar Hana.


"Cukup Joon,"


"Seharusnya kau menikamnya dengan brutal dari awal,"


"Jangan hanya membuat sayatan kecil untuk memperdalam luka Hana," Yoongi berucap tegas dan menghentikan langkah sahabat nya.


Yoongi bahkan dengan sengaja berlalu serta menabrak bahu kiri Namjoon demi meluapkan emosi nya.


Hana terduduk di tepi ranjangnya.


Buliran air mata tak terasa kembali lolos membasahi pipinya.


"Jangan bodoh Hana, ingatlah dia calon suami Kakakmu !"


"Mereka berhak melakukan apa saja sekarang," gadis itu tampak memarahi dirinya sendiri dalam hati.


Yoongi yang kembali melihat Hana sibuk mengusap air matanya membuat pria itu kembali berjalan cepat menghampiri Namjoon.


Ia mencengkeram kerah baju Namjoon dan memukuli nya saat itu juga.


"Apa-apaan ini Kak Suga ?"


"Hentikan," Jihyo panik dan berteriak seketika.


Sementara Namjoon, pria itu hanya terdiam pasrah menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan Yoongi terhadap nya.


"Kau tau Joon," Yoongi berucap dengan nafas memburu karena emosi yang sedari tadi telah ditahannya.


"Aku sengaja membawanya pergi demi melihat kembali senyuman di wajahnya."


"Tapi Kau !!" Yoongi kembali menghantam pipi Namjoon dengan kepalan tangan kanannya, pria itu sama sekali tak peduli dengan teriakan Jihyo.


"Setidaknya lakukan lah hal menjijikkan itu dibelakang Hana,"


"Sialan."


"Pergi dari sini sekarang atau kau bisa mati ditangan ku," Yoongi menunjuk wajah Namjoon yang terkulai lemah dan meninggalkan nya begitu saja.


"Apa-apaan Kakak ini ?" Jihyo menahan lengan Yoongi, gadis itu seakan meminta jawaban kenapa Yoongi menghajar tunangan nya dengan brutal.


"Diam lah !" pria itu melepas kasar genggaman adiknya pada lengannya.


"Setidaknya jawab kenapa kakak memukulinya ?"


"Apa salahnya Kak ?" Jihyo kembali berteriak.


Suara kegaduhan dari teriakan Jihyo seketika membuat Hana kembali beranjak.


"Ada apa ini Kak ?" Hana keluar dengan wajah bingung menatap Yoongi.


"Apa kau yang mempengaruhi nya ?"

__ADS_1


"Kau yang membuat Kak Suga menghajar tunangan ku ?"


Hana terdiam menatap Yoongi.


"Jawab, Hana !"


"Rasa cemburu mu itu benar-benar tak masuk akal," Jihyo kembali berteriak membentak Hana.


"Kakak benar-benar menghajarnya ?" Hana menuntut jawaban kakak lelakinya.


"Dia pantas menerimanya," Yoongi menjawab dengan datar.


Hana seketika melangkah cepat melihat kondisi Namjoon.


Gadis itu semakin terlihat berkaca-kaca, karena Yoongi benar-benar membuat Namjoon babak belur.


"Tuan,"


"Tuan bisa mendengar saya ?" Hana mengguncang perlahan tubuh Namjoon.


"Hana, Kau kah itu ?" pria itu berucap dengan mata yang tetap terpejam.


"Kak tolong bawa Tuan Namjoon ke rumah sakit kak !"


"Saya mohon," Hana mencoba meluluhkan hati Yoongi, sementara Jihyo, gadis itu hanya bisa menangis melihat kondisi Namjoon.


Kedua gadis itu tak mampu menopang tubuh kekar Namjoon untuk membawanya menuju rumah sakit.


Yoongi yang dari tadi hanya diam membeku melihat Hana, akhirnya turun tangan dan memindahkan Namjoon ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.


"Maaf kan Aku Kak," suara Hana memecah keheningan di area ruang tunggu rumah sakit.


"Semua ini memang salahku ," Hana tertunduk meminta maaf, gadis itu merasa bersalah pada kakak perempuannya.


"Aku yang menghajarnya,"


"Kenapa Hana yang harus minta maaf ?" Yoongi turut membuka suara.


"Apa sebenarnya masalah mu Kak Suga ?" Jihyo kembali menangis mengingat Namjoon yang hanya pasrah dihajar oleh Yoongi.


"Dia, aku membencinya !" Yoongi kembali berucap tanpa ekspresi dihadapan kedua adiknya.


"Aku bisa saja membunuh nya !"


"Kak kita pulang sekarang," Hana tak ingin melihat Yoongi kembali nekad.


Yoongi yang masih saja duduk tanpa menghiraukan Hana, membuat Hana menarik perlahan lengan kakak lelakinya.


"Kak Jihyo jagalah Tuan Namjoon dengan baik,"


"Saya permisi," Hana tak melepaskan genggaman tangannya dari lengan Yoongi dan kembali menarik nya untuk melangkah.


Tak ada sedikitpun percakapan antara keduanya.


Hana hanya diam menatap jalanan sunyi didepan hingga mereka tiba di rumahnya.


"Kau marah padaku Hana ?"


"Kau marah karena aku memukulinya ?" Yoongi mengejar Hana yang turun terlebih dahulu dan hendak kembali menuju kamarnya.


"Aku mohon jangan marah padaku !"


"Jangan mengacuhkan diriku ?" Yoongi tertekuk lutut dibelakang Hana.


"Kakak tau kenapa saya marah ?"


"Ya saya mencemaskan nya,"


"Tapi saya juga mencemaskan mu Kak !"


"Jika orang tua Tuan Namjoon tidak terima, mereka bisa menuntut Kakak untuk masuk penjara."


"Saya hanya ingin Kakak bisa mengontrol sedikit emosi,"


"Kakak jangan terlalu memikirkan perasaan saya,"


"Saya sudah terbiasa diperlakukan seperti ini,"


"Bahkan saya pernah merasakan yang lebih sakit daripada ini !"


"Cuma Kakak dan Kak Jihyo yang saya miliki saat ini,"


"Saya juga tak pernah mempermasalahkan saat kalian membuat hati saya sakit bukan,"


"Bisa berada disini, itu sudah lebih dari cukup bagi saya."


"Jangan membela saya lagi,"


"Jangan membahayakan kehidupan kakak demi diri saya."


"Ayah dan Ibu bahkan meninggalkan kita karena mengorbankan dirinya untuk saya."


"Jadi saya mohon," Hana berucap lesu dengan derai air mata dihadapan Yoongi.


Lidah Yoongi tercekat, pria pucat itu semakin tak mampu berkata-kata.


"Maaf kan diriku Hana,"


"Maaf jika selama ini Aku bersikap keterlaluan padamu," lagi-lagi ia hanya mampu berucap dalam hatinya.


Melihat Hana yang masih sesenggukan karena isak tangisnya membuat Yoongi semakin tak kuasa untuk menahan diri dari Hana.


Pria itu beranjak, dan membawa tubuh Hana berdiri dihadapannya.


"Aku sakit setiap kali melihat dirimu sedih Hana."


"Aku tidak bisa mengendalikan diri karena perasaan ini," Yoongi perlahan mendekati Hana sorot mata tajamnya begitu lekat memandang paras manis adiknya, hal itu sontak membuat Hana melangkah mundur.


"Apa maksud Kakak ?" langkah gadis itu terhenti, tubuh nya terhimpit antara tembok dan badan Yoongi.


Tatapan Yoongi yang tak beralih dari mata serta bibir nya membuat gadis itu takut.


"Kak, tolong minggir," Hana mencoba menjauhkan jarak Yoongi dari tubuhnya, namun sia-sia tenaga nya tak sekuat Yoongi.


Yoongi sama sekali tak goyah sedikit pun dan tetap berdiri tegak dihadapannya.


"Kau tahu berapa lama aku harus menyembunyikan perasaan ini Hana ?" gadis itu hanya menggeleng perlahan.


"Aku bahkan mungkin tak bisa menahannya lagi sekarang,"


Yoongi kehilangan kesadaran nya, pria itu kembali ******* bibir Hana semaunya.


Kecemburuan serta amarah membuat ia meluapkan semuanya pada Hana.


Ya, Yoongi cemburu melihat perhatian Hana yang masih begitu besar terhadap Namjoon.


"Saya mohon hentikan Kak," tangan Hana yang hendak mendorong kakaknya justru tertangkap oleh pria itu dan turut terhimpit keatas kepalanya.


"Jangan mengacuhkan ku lagi,"


"Atau aku akan melakukan lebih dari ini," pria itu tersenyum sembari menciumi mata sembab adik bungsunya.


Yoongi mengecup lembut pipi Hana dan mengakhiri aktivitas bibirnya.


Hana perlahan membuka mata.


Nafasnya memburu, perasaan nya dibuat campur aduk karena ulah saudara lelakinya.

__ADS_1


"Kenapa kakak melakukan ini padaku ?" gadis itu terdiam bertanya dalam hatinya serta menatap dalam manik mata kakak lelakinya.


__ADS_2