Sweater Abu-abu

Sweater Abu-abu
Kesabaran Hati Seorang Berandal~Kehangatan Seorang Ayah


__ADS_3

Taehyung kembali beranjak dari kamarnya saat sang Ayah memintanya untuk menemani ke rumah sakit.


Meskipun lelah mendera tubuhnya rasanya tak tega jika ia harus membiarkan sang Ayah menyetir sendiri malam-malam.


"Ada apa Ayah ?"


"Siapa yang sakit ?" pria itu tampak terkejut mendengar pernyataan ayahnya.


"Namjoon,"


"Seseorang telah memukuli kakakmu hingga tak sadarkan diri Tae," Tuan Kim dan istrinya tampak begitu panik selama perjalanan menuju rumah sakit.


"Kenapa bisa seperti ini Nak ?" Nyonya Kim datang dengan raut wajah cemas dan segera menghampiri Jihyo yang menangis sendu seorang diri.


"Kak Yoongi,"


"Entah apa yang merasuki jiwanya Ibu,"


"Dia memukul Oppa dengan sekuat tenaganya."


"Tapi Oppa sama sekali tak melakukan perlawanan,"


"Jihyo takut Bu," gadis itu kembali menangis tersedu-sedu di pelukan calon Ibu mertua nya.


"Tenanglah, Nak !"


"Semoga semuanya baik-baik saja."


"Ada apa sebenarnya dengan Yoongi ?" Nyonya Kim berbicara dalam hati, wanita itu juga tampak mencoba menenangkan Jihyo dalam pelukannya.


Taehyung hanya terdiam menyaksikan drama tangisan antara mantan kekasih bersama ibu tirinya.


Meskipun dalam hati ia juga mencemaskan keadaan Namjoon.


Semenjak kejadian malam itu, Hana selalu mencoba menghindari kakak lelakinya.


Ia merasa ada yang salah dengan perlakuan kakaknya.


Jihyo yang tak kunjung pulang karena kondisi Namjoon membuat Hana dan Yoongi semakin terlihat canggung di rumah.


"Saya sudah menyiapkan semuanya, Kakak bisa makan sekarang," gadis itu buru-buru melangkah pergi dari ruang makan.


Yoongi yang melihat Hana selalu menghindar darinya membuat pria itu berkali-kali menghela nafas kasar.


"Apa Kau akan seperti ini terus padaku ?" Yoongi terdengar meninggikan suara untuk menghentikan Hana.


"Jawab," dengan langkah cepat pria itu berhasil mendahului dan menghentikan Hana.


"Banyak yang harus saya kerjakan kak !"


"Rumah ini terlihat begitu berantakan, karena kita terlalu lama pergi," Hana menunduk tak berani menatap Yoongi.


"Begitu kah ?"


"Haruskah aku mencari asisten rumah tangga untuk membantu mu ?"


"Kenapa harus mencari asisten baru jika saya bisa mengerjakan ini semua."


"Kau tak lelah ?" Yoongi merapikan rambut Hana dan menyelipkannya ke belakang telinga.


Hana hanya menggeleng dan mencoba tersenyum dihadapan kakaknya.


"Saya juga harus ke pasar, begitu banyak bahan makanan yang telah basi di lemari pendingin."


"Pakai lah kartu ini," pria itu memberikan kartu kreditnya pada Hana.


"Bolehkah saya minta uangnya saja Kak ?"


"Bagaimana bisa bertransaksi memakai kartu ini jika saya belanja di pasar ?" gadis itu bergumam perlahan.


Yoongi terkekeh melihat Hana yang terlihat dengan malu-malu meminta uang belanja padanya.


"Aku akan memberikan nya, dengan satu syarat !" lelaki itu diam tak melanjutkan kalimatnya.


"Apa itu Kak ?" Hana mendongakkan kepalanya menatap wajah Yoongi.


"Ini ..." tangan Yoongi menyentuh dan mengusap lembut bibir Hana.


"Jangan pernah memberikan ini pada siapapun kecuali aku !" pria itu kian terobsesi pada Hana.


Hana yang mendengar hal itu seolah tak percaya, ia takut namun tak berani menyatakannya.


"Kak !"


"Aku tak ingin mendengar alasan apapun sayang," pria itu memberikan sejumlah uang pada Hana dan berlalu pergi menuju kantornya.


Hampir satu Minggu tak mengunjungi pasar membuat Hana harus benar-benar teliti untuk memberi segala macam kebutuhan dapurnya.


Gadis itu akhirnya duduk melepas lelah seraya kembali menikmati sejuknya udara taman yang lama ia rindukan.


"Kau tak ingin menjenguk nya ?" Taehyung menyapa dengan sebuah pertanyaan.


Hana menoleh seketika saat mendapati seseorang duduk disampingnya.


"Kondisinya sudah membaik, aku bisa mengantarmu jika kau ingin menemui nya !"


"Tidak Tuan, terimakasih !"


"Saya lebih baik tak menampakkan diri,"


"Bolehkah saya tanya sesuatu Tuan ?"


Taehyung menatap Hana dengan serius.


"Apa Tuan pernah mencium saudara Tuan sendiri ?"


"Maksud saya,"


"Jika Tuan memiliki saudara perempuan, apa Tuan akan begitu protektif terhadapnya ?"


"Aku tidak memiliki saudara perempuan, jadi aku tidak tahu !" Taehyung menatap teduh wajah Hana yang malu tertunduk.


"Apa Yoongi melakukan itu padamu ?" pria itu menatap Hana dengan raut wajah curiga.


"Entahlah Kakak begitu berubah akhir-akhir ini," gadis itu ingin mengungkapkan isi hatinya pada Taehyung tapi ia juga tak enak hati.


"Emosi nya kian tak terkendali."


"Jadi apa benar Yoongi yang menghajar kak Namjoon ?" pria itu berucap seolah tak percaya mengingat Ayah nya yang pernah bercerita bahwa Yoongi merupakan salah satu sahabat dekat dari Namjoon.


Hana hanya menghela nafas dan menganggukkan kepala dengan wajah cemasnya.


"Apa sebenarnya alasan Yoongi melakukan semua itu ?"


"Dia memang bertemperamen tinggi, tapi pasti ada pemicunya bukan ?" Taehyung mengalihkan pandangannya, pria itu bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.


"Oppa harus minum obatnya sekarang," Jihyo berucap lembut seraya membenarkan selimut Namjoon.

__ADS_1


Pria itu terduduk dengan wajah muram di tempat tidur rumah sakit.


"Aku ingin segera pulang Jihyo,"


"Disini membuat ku bosan."


"Kita masih harus menunggu hasil pemeriksaan dokter sekali lagi Oppa,"


"Semoga semuanya baik, jadi Oppa bisa segera kembali ke rumah."


"Maafkan kelakuan Kak Suga."


"Aku benar-benar minta maaf atas namanya Oppa," gadis itu tertunduk lesu dihadapan Namjoon.


"Ini semua salahku Jihyo,"


"Semua keraguan ku dalam mengambil keputusan membuat Hana juga dirimu menjadi korban,"


"Maaf" bukan menanggapi Jihyo, Namjoon justru berbicara sendiri dalam hatinya.


"Apa Kau sama sekali tak pulang ke rumah ?" Namjoon tampak memperhatikan Jihyo dengan penampilan nya yang nampak kusut dan tak terawat karena berhari-hari menjaga dirinya.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan Oppa sendirian disini ?"


"Aku juga tak mungkin membiarkan Ibu menginap disini seorang diri, terlebih lagi Ibu harus mengurus Ayah bukan ?" gadis itu kian berubah, nada suaranya kian lembut setiap kali berada di samping Namjoon.


"Aku antar kau pulang sekarang," Taehyung beranjak dan membawa barang belanjaan milik Hana.


"Ini sudah semakin panas,"


"Saya bisa pulang sendiri Tuan,"


"Ayolah, aku hanya ingin berguna sebagai sesama teman !"


Hana tersenyum, ia akhirnya turut beranjak mengikuti langkah Taehyung.


"Kenapa Tuan tidak marah ?"


"Kenapa justru menyusul saya ke rumah bibi GeumJa ?" Hana kembali melempar tanya ketika langkah nya perlahan mengiringi tubuh Taehyung.


"Marah ?" Taehyung menghentikan langkahnya dan berdiri diam menatap Hana.


"Saya dengan tidak sopan menampar Tuan di acara pertunangan Kak Jihyo dengan Tuan Namjoon malam itu."


"Tuan melupakannya ?" Hana nampak tak percaya.


"Aaaaaaggghhhh, malam itu ?"


"Aku sedikit mabuk,"


"Jadi untuk apa marah ?" Taehyung sengaja membohongi Hana dengan kalimat nya.


"Bagaimana aku bisa membencimu, jika kau selalu membuat ku mencemaskan mu ?" pria itu lagi-lagi berucap seorang diri dalam hati.


"Jadi, Apa kau benar-benar mau menikah denganku ?" Taehyung terkekeh seraya melanjutkan langkahnya.


"Semua wanita yang tergila-gila pada Tuan pasti akan menyumpahi saya, jika saya melakukan hal itu !" Hana turut tertawa pelan.


"Jangan melepaskan gelang ini Hana," Taehyung mengusap perlahan dan menggenggam tangan Hana untuk melangkah bersamanya.


"Aku benar-benar merasa berharga semenjak kita menjadi teman," Taehyung bergumam perlahan.


"Saya mengerti Tuan," gadis itu kembali tersenyum dan melepaskan genggaman Taehyung untuk mendahului nya.


"Bersabarlah Tae,"


Satu Minggu berlalu, keadaan Namjoon kian pulih dan membaik.


"Maaf jika Oppa tak begitu nyaman selama aku disini," Jihyo berucap seraya menyuapkan makanan pada tunangannya.


"Tak apa, lagipula kau tunangan ku bukan ?" Namjoon menjawab pasrah.


Tak berselang lama Nyonya Kim datang dengan membawa begitu banyak buah-buahan.


"Ibu bawa semua buah kesukaan mu Nak !"


"Jihyo, bisakah kau mengupas nya untuk kami ?" Nyonya Kim berucap dengan lembut pada Jihyo sang calon menantu.


Gadis itu tersenyum dan beranjak pergi dengan membawa segala macam buah ditangannya.


"Joon,"


"Ibu sudah melayangkan surat tuntutan untuk Yoongi ke kantor polisi," wanita itu berbicara dengan setengah berbisik.


"Apa yang Ibu lakukan ?" raut wajah pria itu berubah seketika.


"Dia memang sahabat mu, tapi sahabat macam apa yang dengan tega membuat mu babak belur hingga tak sadarkan diri seperti kemarin ?"


"Ibu tidak terima Joon," Nyonya Kim membuang nafas kasar dan mengeratkan rahangnya.


"Dan Ibu bisa saja membuat perusahaan nya kalah tender tahun ini !" Nyonya Kim kembali tersenyum dengan licik.


"Itu semua bukan salah Yoongi Hyeong Bu,"


"Itu semua terjadi karena kesalahan ku sendiri !"


"Jangan lakukan apapun pada Yoongi ataupun Hana,"


"Atau Ibu akan menyesali nya !"


"Aku sudah berusaha untuk menuruti apa yang Ibu mau bukan ?"


"Jadi tolong, jangan lakukan apapun pada mereka," Namjoon kembali memelas lesu dihadapan ibunya.


Siang itu Hana sengaja mengunjungi toserba untuk mencari beberapa kebutuhan yang tak ia temukan di pasar.


"Hana, bagaimana kabarmu Nak ?" Tuan Kim dengan sengaja menyambangi Hana yang sibuk memilih bahan makanan.


"Tuan ?" Hana membungkuk dan tersenyum sekilas pada Ayah Taehyung


"Saya baik."


"Bagaimana dengan Tuan ?"


Lelaki paruh baya itu tersenyum serta mengangguk kan kepala mengisyaratkan bahwa dirinya juga baik-baik saja.


Tuan Kim bahkan juga mengajak Hana untuk mampir dan menikmati makanan di cafe yang tak jauh dari toserba.


"Kau tak ingin menemui Namjoon Nak ?" Tuan Kim kembali membuka suara.


"Tidak Tuan," Hana tersenyum dan menghentikan aktivitasnya dalam menuang teh untuk dirinya.


"Tuan Namjoon pasti sudah baik-baik saja sekarang,"


"Kak Jihyo, dia begitu pandai dalam merawat seseorang !" Hana berucap dan terlihat memaksakan senyum di wajahnya.


"Maafkan lelaki tua ini Hana,"

__ADS_1


"Maafkan kesalahan ku waktu itu Nak !" Tuan Kim kembali mengingat saat Hana pertama kali berkunjung ke rumahnya.


"Tidak Tuan,"


"Jangan berbicara seperti ini."


"Saya sudah melupakan itu semua,"


"Dan saya akan turut bahagia jika kakak saya juga bahagia."


Tuan Kim terdiam mendapati gadis seperti Hana.


"Sekali lagi terimakasih atas kebaikan hatimu Hana."


"Saya hanya mencoba untuk menjalani hidup saya dengan sebaik mungkin Tuan."


Tuan Kim dan Hana lumayan lama bercakap, lelaki paruh baya itu pun banyak tertawa karena Hana juga pandai dalam membalas kalimat candaan nya.


Seperti seorang Ayah dan anak perempuan yang sedang menghabiskan waktu bersama.


"Bukankah mereka terlihat begitu dekat ?" Taehyung menanyakan hal itu pada dirinya sendiri dengan seutas senyum diwajahnya.


"Akan ku jadikan dia menantu kebanggaan mu Ayah !"


"Meskipun sepertinya tak akan mudah," pria itu kembali melanjutkan kalimatnya.


Seseorang tampak memperhatikan kehangatan canda tawa antara Tuan Kim dan juga Hana dari kejauhan.


Pria itu tersenyum sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Waaah, Apa Ayah telah melupakan kalau ayah ini punya anak laki-laki ?" Taehyung muncul menarik kursi dan turut duduk di samping Hana.


"Maafkan Ayah Tae," Tuan Kim berucap dengan suara yang masih setengah tertawa karena topik percakapannya bersama Hana sebelumnya.


"Kau terlalu lama memarkir kan mobil mu,"


"Dan kebetulan Ayah melihat Hana."


"Jadi Ayah mengajak nya kemari," Tuan Kim tampak menjelaskan panjang lebar alasan ia meninggalkan Taehyung dan berakhir duduk di cafe bersama Hana.


"Ayah kenapa terlihat begitu bahagia bicara dengannya ?" Taehyung kembali melontarkan pertanyaan anehnya.


"Sepertinya Ayah tidak sebahagia ini ketika bercerita dan duduk bersama ku !"


"Kau itu tak begitu nyambung kalau diajak bercanda Tae, pikiran mu terlalu kaku !?" Tuan Kim menimpali perkataan Taehyung dengan tertawa.


"Benarkah seperti itu ?" Taehyung melotot tak percaya Ayah nya berucap seperti itu.


"Aku melihat mu juga terlalu kaku Ayah," ia kembali menyanggah perkataan Ayahnya.


"Kenapa menyamakan ku dengan nya ?" tangan pria itu akhirnya menunjuk wajah Hana.


"Lihatlah Hana, dia sangat keras kepala bukan ?" Tuan Kim kembali tertawa.


Hana masih terdiam menyaksikan perdebatan antara ayah dan juga anak yang berada dihadapan serta disampingnya.


Gadis itu sesekali turut tersenyum melihat tingkah keduanya.


"Apa Ayah bahagia bisa mengenal nya ?" Taehyung memancing pertanyaan pada Ayahnya.


Ayahnya mengangguk dan memperhatikan Hana.


"Apa Ayah akan merestui jika aku ingin menikah dengannya ?" Taehyung melontarkan pertanyaan dengan sengaja yang ia tujukan pada Hana.


Hana terdiam bingung serta terkejut mendengar pernyataan pria disampingnya.


"Asal kau bahagia Tae, Ayah tak akan melarangnya !" Tuan Kim menatap Hana dengan tersenyum.


"Apa yang Tuan katakan ?" Hana dibuat salah tingkah oleh ayah dan anak yang sama-sama memperhatikan wajahnya.


Gadis itu akhirnya tertunduk malu karena ulah Taehyung.


"Lihatlah Ayah, dia hanya menerima ku sebagai sahabatnya," Taehyung berucap dengan merengek dan kembali mencairkan suasana.


Hana mencubit pelan lengan Taehyung dan turut tertawa tertahan karenanya.


"Saya permisi Tuan,"


"Terimakasih atas tumpangan nya."


Hana menunduk dan melambaikan tangannya mengiringi kepergian mobil Taehyung serta Tuan Kim dari hadapan rumahnya.


"Darimana saja ?" suara Yoongi terdengar begitu dalam.


"Kakak dirumah ?" Hana terkejut seketika saat ia memasuki rumahnya.


"Siapa yang mengantarmu pulang ?" pria itu kembali berucap datar.


"Itu, Tuan Kim Kak !"


"Tuan Kim ?" raut wajah Yoongi terlihat curiga dan menatap Hana.


"Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan Tuan Kim di toserba."


"Jawab dengan jujur,"


"Siapa yang kau temui Hana ?" Yoongi menatap dalam manik mata Hana.


"Apa Kau menemui Namjoon ke rumahnya ?"


"Tidak Kak, sungguh !" Hana mencoba menjelaskan dengan tenang meskipun ia juga merasa takut melihat ekspresi kakak lelakinya.


"Saya hanya bertemu Tuan Kim saat sedang berbelanja,"


"Dan Tuan Kim mengajak saya untuk mengobrol di cafe yang tak jauh dari sana," gadis itu akhirnya menunduk.


"Benarkah ?" Yoongi berjalan mendekati Hana, memiringkan kepala serta menatap lekat mata adiknya.


"Kau tidak sedang berbohong ?" sorot mata Yoongi kian tajam menatap Hana.


Hana mengangguk serta menelan saliva nya, gadis itu bingung serta takut karena wajah Yoongi yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Baiklah,"


"Siapkan makanan untuk ku sekarang !" Yoongi kembali berdiri menegakkan tubuhnya, dan membiarkan Hana berlalu dari hadapannya.


"Kenapa Kakak berubah jadi seperti ini ?" Hana berbicara dalam hati, gadis itu juga akhirnya bernafas lega karena ia hampir tak berani menghembuskan nafasnya ketika Yoongi mengajukan beberapa pertanyaan sebelumnya.


Perubahan sikap Yoongi yang kian posesif benar-benar membuat Hana semakin bingung harus bagaimana untuk menghadapi kakak lelakinya.


"Oppa, aku akan kembali pulang ke rumah sore ini !" Jihyo tampak membereskan dan memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas.


"Tinggal lah disini untuk beberapa hari lagi,"


"Aku masih belum terlalu kuat untuk bisa mengurus diri sendiri Jihyo !" entah mengapa kalimat itu keluar dari mulut Namjoon.


"Apa Oppa tak keberatan ?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin membuat Oppa tak nyaman di apartemen sendiri,"


__ADS_2