
Taehyung hanya terdiam menatap langkah kaki Hana yang semakin menjauh darinya.
Pertanyaan Taehyung membuat Hana tak mampu berpikir dengan jernih.
"Aku akan bersabar Hana !"
"Untuk mendapatkan sebuah berlian bukanlah hal yang mudah," Taehyung berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.
Pria itu juga nampak tersenyum getir karena Hana belum juga memberikan kepastian pada perasaannya.
Taehyung keluar dan kembali membuka mobilnya, ia mengambil sweater abu-abu milik Hana dan mengenakan nya seketika.
"Lihatlah, sweater ini dengan mudah datang kepada ku dengan sendirinya."
"Diriku berharap sang pemilik juga akan menerima perasaan ku suatu saat," Taehyung tersenyum dan kembali melangkah masuk sembari memeluk sweater yang dikenakan nya.
"Cepat lah Hana !"
"Apa kau tidak tahu perutku ini sudah keroncongan ?" Taehyung mengetuk-ngetuk perlahan pintu kamar Hana dengan jemarinya.
"Kenapa Tuan ribut sekali ?" Hana seketika membuka pintu dan merapikan rambutnya.
Taehyung hanya tersenyum menanggapi kalimat Hana seraya mengelus perlahan area perutnya.
"Kau sungguh nampak menawan jika berpenampilan seperti ini Hana," pria itu kembali berucap dalam hati sembari mengikuti langkah Hana menuju dapur.
"Kau akan memasak lagi ?" Taehyung tampak mengekor dibelakang tubuh gadis pujaan hatinya.
"Kita tidak bisa makan makanan tadi malam Tuan,"
"Akan tidak baik jika saya menghangatkan makanan berjenis sayuran dan menghidangkan nya untuk Tuan," gadis itu menanggapi kalimat Taehyung dengan tetap sibuk memainkan pisau ditangan.
"Benarkah seperti itu ?"
"Lalu kita akan makan apa pagi ini ?" Taehyung kembali memperhatikan keterampilan tangan Hana dalam mengolah makanan.
"Tuan duduk lah terlebih dulu," Hana mendorong mundur tubuh Taehyung yang hampir selalu saja menempel padanya pagi itu selama di dapur.
Dengan langkah lesu Taehyung menuruti perkataan gadis itu.
Taehyung, pria itu hanya terduduk dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya saat memandangi gerak-gerik Hana.
"Maaf, jika saya hanya bisa menghidangkan ini untuk Tuan."
Nasi goreng dengan tampilan kuning keemasan bertoping telur juga wortel nampak tersaji di hadapan Taehyung.
"Tak apa ini cukup bagiku, Hana," Taehyung tersenyum dan segera menyodorkan piring nya.
"Asal itu masakan mu, apapun pasti akan ku makan !" pria itu kembali bergumam perlahan.
Hana masih terdiam dihadapan Taehyung dan hanya memperhatikan pria itu menikmati makanannya.
"Kenapa Tuan mengenakan kembali sweater ini ?" Hana akhirnya membuka suara dan melontarkan pertanyaan pada pria tampan dihadapan nya.
"Akan saya ambilkan baju ganti milik kak Yoongi untuk Tuan."
"Tidak Hana," Taehyung menahan tangan Hana supaya tidak meninggalkan nya.
"Aku menyukai sweater ini !" pria itu nampak kembali tersenyum menatap sweater yang ia kenakan.
"Apa kau tak makan ?" Taehyung kembali melontarkan pertanyaan pada Hana dengan mulut penuhnya.
__ADS_1
Hana menghela nafasnya, gadis itu nampak memikirkan sesuatu dalam hatinya.
"Ada apa ?" Taehyung menatap raut wajah Hana yang berubah seketika.
"Jangan buru-buru dalam mengunyah makanan Tuan," bukan menjawab Hana justru memperingati Taehyung dalam hal mengunyah makanannya.
"Jangan pula terlalu banyak bicara saat Tuan sedang makan,"
"Atau Tuan akan tersedak !" Hana nampak mengusap perlahan bibir Taehyung yang nampak belepotan.
Untuk sesaat dua insan manusia itu nampak saling bertatapan, ada sesuatu yang nampaknya tak bisa Hana ungkapkan dalam dirinya pada Taehyung.
"Hana,"
"Menikah lah dengan ku !" kalimat itu kembali terlontar dari bibir Taehyung.
"Tuan,"
"Saya tahu Tuan suka sekali menggoda saya !"
"Jadi berhentilah bercanda," senyuman yang begitu lembut nampak terukir di bibir Hana.
"Bagaimana jika aku serius ?" pria itu kembali menatap tajam manik mata gadis dihadapannya.
"Tuan pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari saya !" Hana tersenyum tertunduk.
"Tuan ingat, Tuan itu pewaris tahta perusahaan !" gadis itu kembali tersenyum dan menirukan nada suara Taehyung saat kalimat itu terlontar padanya pada masa sebelumnya.
"Lalu apa masalahnya Hana ?" Taehyung kembali mengintimidasi Hana.
"Masalahnya ada pada diri saya Tuan," Hana nampak terkekeh.
"Segeralah habiskan makanan Tuan,"
Hana kembali beranjak menuju kamarnya, beberapa kain waslap nampak ia masukkan ke dalam tas kecilnya.
Irene, kondisi gadis itu perlahan telah membaik.
Meskipun demikian sepupu laki-laki Irene yang bernama Jimin itu dibuat bingung karena perubahan sikap adik sepupunya.
"Aku hanya akan makan jika Taehyung mau menemui ku Kak !"
"Jika tidak, biar aku mati saja !" raut wajah gadis itu nampak begitu linglung.
Jimin akhirnya meminta bantuan Jihyo untuk mendapatkan nomor ponsel Taehyung.
Berkali pria itu mencoba menghubungi Taehyung namun percuma, Taehyung tetap tak menjawab panggilan darinya.
"Bibi, saya harus keluar sebentar."
Pria bermarga Park itu akhirnya keluar dari ruang rawat Irene.
Jimin berjalan lesu di lorong rumah sakit.
Atensinya teralihkan saat ia mendapati wajah pria yang mirip dengan gambar foto seseorang pada pesan di ponsel nya.
"Tunggu !"
"Kau yang bernama Taehyung bukan ?" Jimin nampak menghentikan langkah kaki seseorang yang berhasil ia dahului langkah nya.
"Siapa kau ?" Taehyung menampilkan wajah datarnya.
__ADS_1
"Aku mohon tolong lah adikku !"
"Aku sungguh memohon padamu Taehyung !" tanpa ragu Jimin nampak berlutut dihadapan Taehyung.
Tapi Taehyung justru bersikap acuh dan melewati pria itu begitu saja.
Hana yang menyaksikan kejadian itu seketika mendekati Jimin.
"Tuan berdirilah sekarang,"
"Saya akan mencoba berbicara padanya !"
"Benarkah Nona ?" Jimin menerima uluran tangan Hana dan akhirnya berdiri dengan tegak sempurna.
Hana tersenyum mengangguk dan mencoba untuk mengejar pria tampan yang tampak mempercepat langkahnya.
"Tuan,"
"Tuan saya mohon tunggu !"
"Aaaawgh" Hana nampak kesulitan dalam mengimbangi langkah kakinya dan berujung jatuh tersungkur dilantai rumah sakit yang licin.
Taehyung seketika menoleh karena mendengar teriakan tertahan dari suara Hana.
"Apa kau baik-baik saja ?" pria itu panik saat mendapati Hana memegangi kakinya.
"Apa kaki mu terkilir ?" Taehyung, pria itu sungguh dibuat cemas saat melihat ekspresi kesakitan dari wajah Hana.
"Tuan saya baik-baik saja !" Hana kembali tersenyum menatap wajah tampan pria yang begitu mengkhawatirkan nya.
Taehyung menghela nafasnya dengan lega.
"Tuan tolong lah pria itu !"
"Dia telah memohon setulus hati pada Tuan bukan ?"
"Dia bahkan masih menunggu Tuan sekarang," ucapan lembut dari bibir Hana akhirnya membuat Taehyung menuruti perkataan gadisnya.
"Apa mau mu ?" Taehyung kembali menghampiri Jimin dengan raut wajah datarnya.
"Tolong temui adikku,"
"Aku mohon Tae !" Jimin kembali meminta pertolongan Taehyung dengan suara yang begitu lembut.
"Adikmu ?" Taehyung nampak mengangkat satu alisnya.
"Irene."
"Dia di rujuk dan di rawat di rumah sakit ini sejak beberapa hari lalu," Jimin tertunduk serta frustasi menghadapi kelakuan Irene.
Hana juga Taehyung nampak terdiam dan juga terkejut mendengar pernyataan dari Jimin, pria yang baru mereka kenal hari itu di lorong rumah sakit.
Taehyung, pria itu seketika berbalik badan dan hendak kembali melangkah pergi, tapi Hana menahannya.
"Tuan, semua orang bisa berubah bukan ?"
"Tuan lihat bagaimana Kak Jihyo sekarang ?" Hana kembali mencoba membuka hati Taehyung untuk membantu Jimin.
"Tidak Hana, aku tak ingin lagi menemuinya !" pria itu akhirnya melangkah pergi meninggalkan Jimin dan juga Hana yang terpaku melihat kepergian nya.
"Maafkan saya Tuan !" Hana tampak lesu menatap pria lembut yang turut menghela nafasnya di sampingnya.
__ADS_1
"Tak apa Nona, ini bukan salah Nona !" Jimin tersenyum menanggapi kalimat Hana.
"Saya permisi Tuan !" Hana berlalu dan melangkah untuk menuju kamar rawat Yoongi kakak lelakinya.