Sweater Abu-abu

Sweater Abu-abu
Permohonan Seorang Park Jimin


__ADS_3

Taehyung dan Hana kembali dengan membawa beberapa hidangan sore itu.


"Kalian ini sungguh lama sekali !"


"Darimana saja ?" Jihyo nampak kesal pada keduanya karena gadis itu benar-benar telah merasa lapar serta bosan karena harus menunggui Yoongi sendirian.


"Maaf Kak !"


"Seharusnya kau memaklumi Jihyo, kita sedang dalam masa pendekatan !"


"Jadi rasanya hanya ingin berdua serta tak ingin berjauhan,"


"Benar begitu kan sayang ?" Taehyung kembali menatap nakal saat mata Hana bertemu pandang dengan matanya.


"Apa maksudmu ?" Yoongi yang mendengar kalimat Taehyung akhirnya turut membuka suara dengan nada lemah.


"Apa Hana benar-benar telah menerima perasaan mu ?" kalimat Yoongi berhasil membuat Taehyung nampak gugup.


"Memang belum ...,"


"Tapi adikmu itu telah menumpahkan air matanya karena mengkhawatirkan ku !" Taehyung kembali berucap dengan semangat.


Kehadiran Wendy semakin membuat ramai suasana kamar rawat Yoongi senja itu.


"Hana, aku juga membawakan sesuatu untuk mu !"


Wendy, gadis cantik sekretaris Yoongi itu nampak memberikan beberapa vitamin dari ramuan herbal untuk Hana.


"Terimakasih Kak !" Hana tersenyum lebar saat menerima barang dari Wendy, wanita yang nampak tulus serta mengingat hal kecil dari pribadi Hana.


Suasana malam terakhir Yoongi dirumah sakit itu nampak begitu hangat.


Hana yang telah lebih banyak tersenyum karena kehadiran Wendy, membuat Yoongi turut merasa bahagia.


"Ingat kakak belum diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan pedas dan berminyak !" Hana kembali mengingatkan Yoongi saat lelaki itu nampak menatap Hana dengan raut wajah penuh pertanyaan.


Pria itu akhirnya tertunduk lesu karena harus mendapati menu makanan yang tak sama dengan Jihyo.


"Kak, tolong dewasa lah !"


"Jangan membuat Hana selalu pusing karena mengurus kakak !" Jihyo berucap ketus meskipun ia tengah mengunyah makanan.


"Aku ?"


"Tidak dewasa ?" Yoongi menatap serius wajah Jihyo.


"Bukankah kau sama saja denganku ?" pria itu tak ingin kalah dalam menanggapi kalimat yang dilontarkan Jihyo terhadap dirinya.


"Sudahlah Kak,"


"Ini sudah hampir terlambat !"


"Astaga Hana, aku hampir melupakan nya !"


"Masakan mu selalu membuat ku ingin berlama-lama di meja makan Hana !"


Seketika Jihyo beranjak, gadis itu semangat untuk menuju kampusnya karena ia harus tepat waktu untuk menemui dosen pembimbing bagi tugas skripsi nya.


"Semangat Kak !" Hana melambaikan tangannya pada Kakak perempuannya.


Jihyo hanya tersenyum dan menggenggam serta mengangkat tangannya untuk menanggapi kalimat Hana.


"Hana, apa kau ingin melanjutkan pendidikan mu kembali ?" Yoongi berucap lembut pada adik bungsunya.


"Aku bisa mengurusnya untuk mu jika dirimu bersedia," pria itu nampak mempertegas ucapan nya.


Hana terdiam mendengar tawaran kakak lelakinya.

__ADS_1


"Tidak Kak, terimakasih !"


"Rasanya tidak akan ada waktu untuk itu," Hana menghela nafasnya perlahan serta tersenyum sebelum akhirnya membereskan meja makan.


"Kakak harus segera makan,"


"Ini sudah waktunya minum obat bukan ?" Hana kembali mengingatkan Yoongi yang tampak tak berselera untuk menyentuh bubur lembek dihadapan nya.


"Tolong lah Hana, diriku mual melihat ini !" Yoongi kembali memalingkan pandangan serta memejamkan matanya.


Hana tersenyum melihat tingkah Kakak lelaki tertua nya.


"Ini yang kakak inginkan ?" Hana akhirnya menyajikan nasi goreng dihadapan Yoongi.


Pria itu tersenyum cerah seketika.


"Apa aku benar-benar boleh memakannya Hana ?" pria itu bertanya dengan antusias.


"Tak apa selama tidak berlebihan,"


"Tapi ingat, Kakak jangan menceritakan ini pada kak Jihyo !"


Hana kembali memperingatkan Yoongi atas aturan yang telah dilanggarnya, gadis itu nampaknya tak tega setiap kali menatap Yoongi yang lesu karena harus mengkonsumsi makanan hambar sejak di rumah sakit.


"Tapi mungkin rasanya tidak akan seperti biasanya Kak,"


"Saya sedikit mengurangi mentega serta bubuk cabai didalamnya."


"Ini cukup nikmat bagiku Hana !" Yoongi nampak berucap dengan mulut penuhnya.


"Pelan-pelan saja Kak !" Hana membelai perlahan kepala Yoongi.


Yoongi kembali terdiam merasakan usapan lembut dari tangan adiknya.


"Tuan ?" siang itu Hana dikejutkan oleh kehadiran Jimin dirumah nya, pria itu benar-benar mencari keberadaan rumah Hana.


"Jihyo yang memberikan alamat rumah ini padaku Nona," Jimin lelaki itu tersenyum lembut menanggapi pertanyaan-pertanyaan Hana.


"Apa yang membuat Tuan kemari ?" Hana berucap ramah dengan menyajikan minuman dihadapan Jimin.


"Nona, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi !" raut wajah lelah serta kurang tidur dari Jimin membuat pria itu nampak frustasi.


"Tolong bujuk Taehyung untuk menemui Irene sekali saja Nona !"


"Hanya Nona yang bisa saya harapkan saat ini," Jimin nampak tertunduk lesu dihadapan Hana.


"Saya mohon," ucapan lemah lembut dari bibir Jimin semakin membuatnya terlihat memelas.


Hana terdiam, gadis itu akhirnya meyakinkan Jimin bahwa Taehyung pasti akan menemui Irene.


"Tuan,"


"Bisakah Tuan datang kemari sekarang ?" Hana akhirnya menghubungi Taehyung dengan ponselnya.


"Aku ..., ?" Taehyung nampak menghentikan kalimatnya serta memperhatikan arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya.


"Sebentar Hana, jangan kau tutup dulu !"


'Maaf , kita tunda dulu meeting untuk hari ini.'


'Perbaiki dan siapkan kembali untuk kita bahas nanti.'


Taehyung nampak menginstruksikan karyawan nya untuk mengatur ulang schedule meeting di perusahaan.


"Bagaimana sayang ?"


"Apa kau menginginkan sesuatu ?" Taehyung nampak tersenyum dan kembali fokus untuk berbicara pada gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


"Tolong segeralah datang kemari Tuan !" suara Hana kembali terdengar ditelinga Taehyung.


"Waah, apa kau mulai merindukan wajah tampan suamimu ini Hana ?" pria itu terkekeh dan kembali menggoda gadisnya.


"Tuan tolong jangan bercanda !"


"Apa aku pernah bercanda padamu ?"


"Aku selalu serius saat mengatakan ingin menikah dengan mu !"


"Tuan hentikan !" Hana akhirnya meninggikan suaranya.


"Baiklah aku datang lima belas menit lagi," Taehyung memutuskan panggilan dan merapikan meja kerjanya seketika.


Tuan Kim yang hari itu berkunjung ke kantor nampak begitu bangga melihat Taehyung dengan jas hitam serta kursi kebesarannya.


"Hidup Namjoon berantakan karena Hana,"


"Nyawaku selamat berkat pertolongan Hana,"


"Dan sekarang, putra kesayangan ku tengah menata kehidupan masa depannya demi bisa meluluhkan hati Hana,"


"Semoga kalian benar-benar berjodoh dimasa depan Nak !" lelaki tua itu kembali berbicara seorang diri dalam hatinya.


"Ayah maaf, aku sengaja menunda meeting hari ini !" Taehyung berjalan menghampiri sang Ayah yang terduduk di sofa ruang kerjanya.


"Sepertinya semua nya masih belum dipersiapkan secara matang," pria itu nampak menghela nafas serta mengalihkan pandangannya.


"Terlebih lagi ...,"


"Hana ?" Tuan Kim nampak menyela kalimat sang putra.


Taehyung hanya tersenyum mengangguk menanggapi kalimat sang Ayah.


"Tak apa Nak,"


"Semangat !"


"Buat gadis itu luluh supaya ia benar-benar menjadi menantu ku !" Tuan Kim yang dari awal telah menyukai kepribadian Hana membuat lelaki itu semakin mendukung keputusan Taehyung.


Raut wajah Taehyung nampak berubah seketika saat melihat Jimin yang terduduk pada kursi ruang tamu rumah Hana.


"Hana ?" Taehyung menerobos masuk dan mencari keberadaan Hana.


"Sayang kau tak apa-apa ?" pria itu nampak memeriksa tubuh Hana dengan wajah paniknya.


"Apa yang Tuan lakukan ?" Hana menyilang kan tangan untuk menutup area dadanya saat Taehyung tak sengaja menyentuhnya.


"Maaf," Taehyung tertunduk saat mendapati sorot mata tajam gadis pujaannya.


"Pria itu, apa dia menyakitimu ?" jari telunjuk Taehyung tampak mengarah pada Jimin yang terduduk tenang.


"Dia orang suruhan Irene bukan ?" pria itu kembali berucap dengan serius saat menatap Hana.


"Tuan Jimin datang kemari karena ingin meminta pertolongan dari Tuan !" Hana akhirnya menghadapkan tubuhnya dengan sejajar untuk menjawab kalimat Taehyung.


"Jadi kau menghubungi ku untuk datang kemari karena dia ?" Taehyung terbelalak karena tingkah Hana.


"Aku bahkan rela membatalkan dan mengatur ulang jadwal meeting di perusahaan demi dirimu Hana !"


"Bukan untuk pria itu apalagi Irene ?" raut wajah Taehyung nampak begitu kecewa.


"Sayang, tidak ada yang sia-sia dalam membantu sesama bukan ?" kalimat itu akhirnya terlontar dari mulut Hana.


Taehyung seketika terdiam,


"Apa aku bisa mendengar nya sekali lagi ?" pria itu nampak berucap terbata sembari menatap dalam mata Hana.

__ADS_1


__ADS_2