
Hana merebahkan tubuhnya, gadis itu kembali membuka mata setelah sempat memejamkan mata sesaat di pembaringan sederhananya.
Apa perkataan Tuan Seokjin itu benar, tapi kenapa diriku sama sekali tak mengingat apapun tentang dia?
Memori bersamanya? apa maksud nya?
Hana menghela nafas dalam, rasa lelah yang mendera tubuhnya tak juga membuat gadis itu terlelap. Ia justru kembali beranjak keluar kamarnya.
Adik bungsu Yoongi itu kembali bergulat dengan beberapa jas dan kemeja berwarna putih milik kakak lelakinya, Hana memang tak pernah mempergunakan mesin saat menangani pakaian kantor Yoongi.
"Kenapa tak juga istirahat Hana? ini sudah larut malam, apa kau tak lelah?" Yoongi berujar tanya saat mendapati Hana menenteng baju miliknya.
"Kakak belum tidur? apa kakak ingin saya kupas kan jeruk atau mungkin secangkir kopi?"
"Kau ini, kenapa selalu balik tanya setiap diriku memberikan pertanyaan padamu? hmmm ...," Yoongi menyipitkan matanya sebelum akhirnya melempar senyum.
"Maaf kak!" gadis itu terlihat kembali tersenyum canggung, sebelum akhirnya membersihkan tangan nya yang penuh busa.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu kak? itu jika kakak tak keberatan."
"Katakan lah Hana! aku akan menjawab dengan senang hati jika diriku memang memiliki jawabannya."
Kedua kakak beradik itu kembali nampak berbincang di meja makan meskipun telah larut malam.
***
"Bagaimana keadaan istri saya dok? apa dia baik-baik saja? kenapa istri saya sama sekali tak bisa mengkonsumsi makanan?" raut wajah Namjoon tampak begitu panik.
Namjoon yang mendapati Jihyo tergeletak tak sadarkan diri membuat pria itu seketika membawanya ke rumah sakit.
"Tuan tenang saja, seorang ibu hamil sangat wajar dalam mengalami hal ini! tapi kalau bisa usahakan Nyonya bisa mengkonsumsi buah-buahan, itu akan membantu mengembalikan energi nya."
Raut wajah Namjoon berubah seketika, senyum cerah kini terlihat menghiasi bibirnya.
"Oppa mual ini sungguh menyiksaku! kapan kita bisa pulang Oppa? diriku sungguh tak tahan dengan bau karbol lantai rumah sakit!"
Jihyo merengek bahkan meneteskan air mata saat merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya yang membuat ia tak nyaman.
__ADS_1
"Tenang lah sayang! kau tahu seorang bayi mungil akan hadir didalam sini." Namjoon mengusap perlahan perut rata istrinya dan berucap dengan antusias.
"Apa? benarkah begitu Oppa? jadi aku benar-benar hamil?" gadis itu kembali menangis dengan memeluk erat tubuh suaminya.
Kebahagiaan yang tak terbendung dari Namjoon juga Jihyo membuat pasangan itu memutuskan untuk mengunjungi rumah saudaranya.
"Hana pasti akan jadi orang pertama yang berteriak dengan bahagia saat mendengar kehadiran calon bayi kita Oppa! aku yakin itu, dia bahkan sempat mengatakan hal ini sebelumnya, tapi diriku justru membantah perkataan nya."
Kekecewaan nampak terlihat pada raut wajah Jihyo juga Namjoon setelah hampir setengah jam menunggu di mobil untuk menanti kepulangan Hana.
Namun nihil,
Hana tak kunjung terlihat dihadapan mereka.
"Kita pulang saja Oppa, diriku ingin segera merebahkan diri! Hana mungkin baru berangkat ke pasar." Jihyo berucap lesu dengan menggenggam tangan Namjoon.
"Siap laksanakan Tuan Putri!" Namjoon menanggapi kalimat Jihyo dengan senyum dimple di wajahnya.
Oppa dirimu benar-benar kembali membuat diriku jatuh hati,
Tolong tetaplah seperti ini,
Jihyo tersenyum dengan pandangan mata yang tak teralihkan dari wajah Namjoon.
Langkah Hana kembali melambat saat ia mendapati Taehyung tersenyum dengan melambaikan tangan pada dirinya.
"Kenapa tak pernah membawa ponsel milik mu sayang? akan lebih mudah bagiku untuk menghubungi dirimu."
"Maaf Tuan saya tidak terbiasa untuk membawa ponsel saat belanja, saya takut justru melupakannya."
Sepasang kekasih itu kembali melangkah bersama dan bercanda tawa menyusuri jalanan di area taman, tempat biasa dimana Taehyung dan Hana bertengkar itu akhirnya menjadi tempat ternyaman untuk melepas penat bagi keduanya.
Ternyata disini mereka, gadis itu memang cukup sederhana,
Aku bisa dengan mudah mendapatkan dirinya di tempat ini.
Rasanya tak akan sulit,
__ADS_1
Kita lihat saja Tae! senyum kotak mu itu tak akan bertahan lama.
Jungkook tersenyum sinis dari kejauhan dengan memperhatikan sahabat lamanya.
Satu Minggu berlalu, Seokjin kembali terlihat datang bersama Yoongi. Taehyung yang tengah menikmati makanan buat Hana semakin tak bisa menyembunyikan rasa curiga nya pada pria itu.
"Apa sebenarnya tujuan mu datang kemari Hyeong? ku lihat kau semakin sering mengunjungi rumah ini!" sorot mata tajam Taehyung tampak begitu mengintimidasi.
"Apa yang kau katakan Tae? diriku sengaja mengundang nya untuk masuk, Seokjin Hyeong memberikan tumpangan karena ada sedikit masalah dengan mobilku tadi, dia juga membawakan beberapa hidangan makan malam untuk kita, tak mungkin aku langsung menyuruh nya pergi bukan?"
Yoongi berucap dengan menyunggingkan senyum, pria pucat itu nampaknya tak begitu menyadari kecemburuan Taehyung karena kehadiran Seokjin.
"Maaf jika aku mengganggu kalian Tae! aku hanya ingin memenuhi permintaan Yoongi."
Hana nampak kembali canggung saat mendapati kehadiran Seokjin, gadis itu lebih memilih untuk banyak diam.
"Kenapa kau tak duduk Hana? kau tak ingin bergabung bersama kami? aku sengaja membawa dan memisahkan cah ayam brokoli kesukaan mu dikantong putih itu, dirimu tak bisa mengkonsumsi capcay karena adanya campuran udang bukan?"
Seokjin kembali menahan tangan Hana saat gadis itu hendak berlalu setelah menyiapkan piring saji.
Apa? kenapa dia mengetahui semua tentang ku?
Siapa sebenarnya pria ini?
Semua orang kembali tertegun karena ucapan yang keluar dari mulut Seokjin, tak terkecuali Yoongi juga Taehyung.
"Aaaaaghh, apa aku salah bicara?" pria tampan berbahu lebar itu kembali tersenyum serta gugup karena semua tatapan tertuju pada dirinya.
Taehyung akhirnya berdiri dan menarik perlahan tangan Hana untuk duduk bersamanya, pria itu tak tahan setiap kali melihat tatapan Seokjin pada kekasihnya.
"Duduklah di samping ku sayang! jangan dekat-dekat dengan orang asing. Kau mengerti?" Taehyung membelai pipi Hana supaya gadis itu menatapnya.
"I-iya Tuan! saya ...," ucapan Hana terpotong karena Seokjin kembali membuka suara.
"Diriku bukanlah orang asing bagi Hana, Taehyung a! hanya saja, mungkin dia memang sedikit kehilangan ingatannya karena tragedi kecelakaan itu! jangan memikirkan nya Dundi, diriku janji akan membuat mu mengetahui semuanya. Jangan pikirkan apapun untuk saat ini! suara dengan bariton rendah membuat kalimat Seokjin terdengar tegas di telinga.
"Hana pasti mengalami banyak trauma, diriku memaklumi jika banyak kejadian yang tak bisa ia ingat, bukankah begitu Yoon?" meskipun pertanyaan itu ia tujukan pada Yoongi tapi tatapan Seokjin kembali tertuju pada Hana.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat Hana tak nyaman, gadis itu kembali tertunduk dengan meremas jemari tangannya.
Keheningan kembali terjadi, Yoongi tak mampu berbicara apapun dihadapan sahabat lamanya, Taehyung juga nampak mengeraskan rahangnya, sementara Hana gadis itu benar-benar tak mengerti dengan semua perkataan pria asing dihadapan nya.