
Hari-hari berlalu, Taehyung semakin sering mengunjungi bahkan menginap di rumah Hana karena permintaan Yoongi.
"Aku berangkat lebih dulu! Tae apa kau akan bermalas-malasan hari ini? ingat kau itu punya tanggung jawab di perusahaan Ayahmu!" kakak lelaki Hana nampak mengingatkan calon adik iparnya.
"Hyeong kapan kita akan mengunjungi makam ayah juga ibu kalian?" Taehyung menahan langkah Yoongi dengan pertanyaannya.
"Itu? masih ku pikirkan Tae, sepertinya aku harus kembali mengambil cuti. Jadwal pekerjaanku sungguh masih padat akhir-akhir ini."
Taehyung hanya mengangguk menatap Yoongi dengan menikmati makanan di mulutnya.
"Hana jangan lupa membeli pesanan ku jika kau pergi ke pasar. Stok di lemari pendingin nampak menipis!" pria pucat itu kembali melempar pandangan pada Hana, adiknya.
"Baiklah kak! hati-hati dalam berkendara."
Hana kembali muncul dihadapan Taehyung setelah selesai membawakan tas kerja milik Yoongi menuju mobilnya.
"Apa kau akan ke pasar sayang? bisakah aku ikut?"
"Tuan harus pergi sekarang! ingat Tuan harus semangat untuk mengumpulkan uang demi masa depan kita."
"Aaaaaghh, apa kau tak mengingat bahwa diriku ini pewaris tahta perusahaan Hana? tak perlu mengkhawatirkan masalah uang belanja mu nanti." Taehyung kembali terkekeh dengan memeluk tubuh kekasihnya.
"Bersihkan diri Tuan, dan segera lah berangkat!" gadis itu menangkup pipi pria tampan yang tak henti mencium keningnya.
Suasana keramaian pasar tradisional yang biasa Hana kunjungi nampak membuat gadis itu tersenyum, setelah sekian lama akhirnya Hana kembali menjejakkan kaki ke tempat itu.
"Hana! lama tak berkunjung kemari, kemana saja kau Nak? kami semua merindukan uang darimu!"
Hana kembali tersenyum menanggapi ucapan beberapa penjual sayur juga buah langganan nya.
"Maaf karena lama tak berkunjung kemari Bi. Ada beberapa acara juga pekerjaan di rumah yang kebetulan harus saya tangani."
"Tolong pilihkan saya jeruk segar seperti biasa untuk kakak saya Bi. Saya harus membeli keperluan lain terlebih dahulu!"
"Apa kau tak ingin memilih sendiri Hana? ayolah, bibi juga rindu untuk bisa berbincang denganmu. Bagaimana kabar Kakakmu yang tampan itu?" bibi penjual buah nampak bertanya antusias tentang Yoongi.
"Waah, ini berarti bibi merindukan kakak saya! bukan merindukan saya!" Hana nampak tersenyum dan melontarkan candaan kembali pada sang penjual.
Begitulah Hana, ia selalu bisa membaur dengan siapa saja. Senyum ramah dan perkataan lembutnya membuat Hana nampak disegani di manapun ia berada.
__ADS_1
***
"Apa kau selalu ke tempat ini Hana?" suara Seokjin terdengar begitu lembut ditelinga.
"Tuan? saya turut berdukacita atas kepergian saudara Tuan. Maaf karena saya tidak bisa ikut memberi penghormatan terakhir pada mendiang Celine."
Seokjin hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya dalam menanggapi kalimat Hana sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di samping tubuh Hana.
"Darimana Tuan tahu saya berada disini? atau Tuan ada kepentingan disekitar tempat ini?"
"Apa kau tak mengingat semuanya Hana? bukankah kita sering kemari bertiga bersama Yoongi di masa lalu?"
Ucapan Seokjin seketika membuat senyum Hana memudar, gadis itu sama sekali tak mengingat apapun tentang Seokjin dalam masa lalunya.
"Maaf Tuan, saya benar-benar tak bisa mengingatnya!" Hana akhirnya tertunduk, gadis itu kembali meremas kasar jemari tangannya.
"Kenapa kau gugup seperti ini Hana? aku bukanlah orang asing bagimu, jadi jangan takut. Diriku juga sungguh paham dengan semua kebiasaan mu! bahkan tentang alergi debu yang kau alami."
"Darimana Tuan tahu tentang hal itu?" Hana sontak terkejut dan memandang wajah pria dihadapannya.
Jadi kau benar-benar tak mengingat sedikitpun tentang diriku Hana?
Seokjin hanya kembali terdiam menunduk, ia juga menghela nafas dalam sebelum akhirnya tersenyum menatap Hana.
"Lupakan lah, itu bukan hal yang sulit untuk ku ketahui! Mau melihat sesuatu tentang masa kecil kita?"
"Maaf Tuan, tapi saya harus pulang sekarang. Saya belum mengerjakan beberapa pekerjaan di rumah."
"Baiklah, mungkin bisa lain kali. Mau ku antar pulang Hana?" pria tampan dengan bibir seksi itu kembali menawarkan pada Hana untuk pulang bersamanya.
"Tidak Tuan, terima kasih! sudah lama saya tidak melangkahkan kaki ke tempat ini jadi saya menikmati perjalanan dengan berjalan kaki."
Hana kembali menolak dengan lembut ajakan Seokjin, gadis itu juga terlihat tersenyum dan berpamitan sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Seokjin.
***
"Hana kau darimana saja? lihat lah, kulit ku sampe gelap karena harus menunggu mu disini!" Jihyo menggerutu karena rasa panas begitu terasa menusuk siang itu.
"Maaf kak, saya memang mampir di taman terlebih dahulu tadi! jadi saya sedikit terlambat."
__ADS_1
"Kau ini sama sekali tak berubah Hana. Apa sih istimewanya taman kuno disekitar pasar itu? diriku sungguh heran padamu! apa kau tahu?"
"Apa kakak lapar? akan segera ku hidangkan makanan kesukaan kakak. Masuk lah Nyonya Kim Namjoo!" gadis itu membuka pintu rumahnya dan membuat Jihyo kembali tersenyum menatap tingkah Hana.
"Bisa kau buatkan jus jeruk dengan susu untuk ku Hana? sepertinya akan terasa nikmat jika diminum sekarang."
"Apa kakak yakin? bukankah kakak tak menyukai buah jeruk? tunggu, apa kakak hamil?"
Raut wajah Hana seketika membuat Jihyo gemas, kakak perempuan Hana itu kembali mendorong perlahan badan adiknya untuk melangkah menuju dapur mereka.
"Apa salahnya dengan buah jeruk? apa kau memiliki nya?" Jihyo kembali mengacak tas belanja milik Hana yang terletak di atas meja.
"Kak, boleh kah saya bertanya sesuatu?"
"Tentu! apa yang ingin kau ketahui?" Jihyo kembali menanggapi kalimat Hana dengan mengupas buah jeruk ditangannya.
"Siapa sebenarnya Tuan Seokjin? apa benar dia Sahab kak Yoongi dari kecil?"
Jihyo setengahnya terdiam, gadis itu nampak ragu untuk kembali berbicara.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku Hana?" kenapa tak bertanya langsung pada kak Yoongi saja?"
"Kak Yoongi, dia selalu menghindar jika diriku bertanya tentang hal-hal masa kecil kita. Ada sesuatu yang sedikit mengganggu pikiran ku kak!"
Hana tersenyum getir saat mengingat ekspresi kecewa Seokjin dihadapan nya.
"Kau tahu Hana, diriku di adopsi oleh ayah serta Ibumu jauh sesudah ayah dan ibu mengambil kak Yoongi dari panti asuhan."
"Diriku mendapati ibu dengan paras cantik saat menggendong dirimu dalam dekapannya. Ayah juga merupakan sosok lelaki karismatik nan bijaksana, sikap hangatnya pada anak-anak membuat ku selalu menangis setiap mengingat kepergian ayah."
Hana termenung melihat Jihyo yang menceritakan masa lalu kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca.
"Diriku lebih sering berada dikamar, karena kecemburuan ku padamu waktu itu. Semua orang sangat memanjakan dirimu, aku jadi merasa asing semenjak kau tumbuh di keluarga kita. Itulah alasan kenapa diriku tak begitu mengenal sosok kak Seokjin."
Hana menatap dalam mata kakak perempuannya, gadis itu kembali menggenggam dan mengusap lembut tangan Jihyo begitu Jihyo menumpahkan air matanya.
"Maaf Hana, aku ingin mencoba tidur siang di kamar sekarang. Tolong bangunkan diriku jika hidangan yang kau janjikan telah siap!" Jihyo menyeka air matanya dan beranjak pergi menuju kamar lamanya.
Bagaimana Tuan Seokjin bisa mengetahui hal-hal kecil tentang diriku?
__ADS_1
Siapa sebenarnya pria itu?