
"A-anu... Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanyaku heran.
"Pffft.... GAHAHAHAHAHAHA!!!" Seluruh murid dikelas tertawa.
"Haha... Apa itu? Burung pipit? Hahahaha!!!" Salah satu siswa yang duduk didepan Kiryuu yang bernama Leo.
"Eeh... Memang lucu ya?" Tanyaku.
"Tentu saja! Ketika yang lainnya mampu memanggil spirit beast yang kuat tapi kau malah memanggil burung yang tidak berguna. Tapi jangan kawatir... Teman baikmu ini akan mendukungmu!" Kata Leo bersemangat.
Dalam pikiran Kiryuu~
"CHOTTO MATTE!! Memangnya sejak kapan kita berteman? Otakmu ini tidak waras ya?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lalu, Kiryuu pun terpaksa mendengarkan bacotan Leo yang banyak omong itu.
"Baiklah anak-anak, cukup sampai disini pelajaran hari ini. Sering-sering lah berlatih agar menjadi kuat terutama kamu, Kiryuu..." Ucapnya menoleh ke arah Kiryuu.
"Ba-baik!"
"Satu lagi, bagi kalian yang murid baru, bukankah kemarin ada pengumuman bahwa akan ada sesi latihan? Jika iya, maka pergilah... Latihannya sudah dimulai!" Katanya.
"Siap! Bu guru!!" Seru semuanya.
Guru itu pun pergi meninggalkan kelasnya. Murid yang mengikuti sesi latihan duel juga segera pergi ke arena termasuk Kiryuu.
Author note: Arena yang akan dipakai itu arena turnamen yang bakal dipakai 2 hari lagi. Jadi, murid-murid tahun ajaran baru harus dilatih biar semakin kuat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kiryuu berjalan menuju lapangan arena sesi latihan tersebut sambil menggumamkan sesuatu.
"Yare-yare..."
Aku tak mengira akan ditertawakan seperti itu. Aku ini payah dalam mensummon sesuatu yang bukan tingkatanku. Lagipula, Ciela-san tidak memberiku list yang benar. Sama sekali tak ada summon list yang berada di tingkatan manusia. Semuanya monster berbahaya.
Tentu saja aku kesulitan dan akhirnya hanya bisa mengubah wujud dan ukurannya.
"Memalukan!"
Dengan perasaan yang masih badmood, Kiryuu tetap mengikuti permainan konyol yang sekolah berikan. Apalagi dia nanti harus berhadapan dengan murid lainnya. Berpura-pura lemah dihadapan yang lainnya adalah hal yang sulit baginya. Semuanya akan terbongkar setelah dia menunjukkan kekuatannya di depan umum. Itulah yang membuatnya tambah stres.
Arena latihan~
"Baiklah! Terima kasih atas kedatangannya! Namaku Gildart! Aku yang akan menjadi pelatih kalian. Mohon bantuannya." Ucap Gildart.
"Mo-mohon bantuannya..." Jawab semuanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[Analisa selesai! Anda ingin melihat ability orang itu? YES/NO?]
"YES! Tunjukkan padaku!"
[Menampilkan stats!]
Name: Gildart
Species: Human
Title: "Warrior."
Magic: «Weapon enchant»
Mana: 12.500
Str: 800
Agility: 200
Vit: 650
INT: 120
Main skill:
Fiery axe
Target attack blocked
__ADS_1
Niflheim axe
Secondary skill:
Auto healt recovery
Normal skill:
Upper body transformation.
Combat skill:
Invisibility attack
"Woah..!"
Orang itu ternyata lumayan juga ya? Semua stats jauh lebih baik diantara manusia-manusia yang kutemui. Tapii, teman-teman lainnya yang disebelahku terlihat tidak meyakinkan... Semua jendela status mereka menyedihkan sekali.
Apa para manusia di dunia ini seperti ini?
[Master, apakah anda ingin tetap bertarung tanpa skill atau hanya dengan kemampuan berpedang sendiri?]
Emm... Yah, bertarung tanpa skill memang sedikit merepotkan! Lagipula, pamer kekuatan itu bukanlah hal yang baik. Pikir dulu bodoh! Aku menyembunyikan kekuatan karena memang aku ingin. Aku cuma ingin bersenang-senang sebentar disini. Setelah itu aku akan pergi ke benua yang lainnya.
Kalian pikir aku mirip seperti mc overpower yang menyembunyikan kekuatan lalu memamerkannya ketika dia terdesak?
Hohoho!! Pikiran kalian semua terlalu sempit! Siapa bilang aku menyembunyikannnya? Aku hanya menutupinya saja agar orang lain tidak bisa melihatnya.
Lagipula, setelah turnamen selesai, aku akan meninggalkan tempat ini sesegera mungkin untuk mencapai tujuanku.
Aku juga datang kesini cuma untuk mengisi daftar keinginanku saja. Persetan dengan hujatan kalian!
Selesaikan turnamen,
Pergi ke benua elf,
Selesaikan misi!
Hanya itu tujuanku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ronde pertama dimulai dari, Mark melawan Weston! Murid yang dipanggil harap maju kedepan!" Seru Gildart
"Beri hormat!"
Keduanya membungkuk.
"Peraturannya sangat sederhana, siapun yang menyerah duluan, otomatis pertandingan selesai. Pemenangnya adalah yang bertahan." Katanya.
"Siaap?!" Gildart memberi aba-aba.
Mark dan Weston menyiapkan kuda-kudanya.
"Mulai!!"
WUUSH!!!
Mark dan Weston saling bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Kedua orang ini adalah penyihir pedang yang cukup kuat.
Mark menggunakan teknik seribu pedangnya lalu menyatukannya hingga menjadi sebuah pedang raksasa.
Weston menggunakan teknik tebasan vertikalnya dan melancarkannya ke arah Mark.
"Ingin menyerangku dengan trik murahan seperti itu? Rasakan ini! Heyaa..!!"
Mark pun meluncurkan tekniknya ke arah serangan yang Weston berikan.
JEDUASS!!!
Suara kedua serangan sihir yang saling beradu menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat. Itu menyebabkan tarikan dan tolakan seperti magnet yang kemudian saling melahap. Tapi... Sepertinya ada yang aneh...
"Hahaha!! Seranganmu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Denganku! Matilah!!" Serunya kegirangan.
"Oh ya? Buka matamu lebar-lebar!"
"Apa?!" Mark terkejut.
Sepertinya benar! Serangan vertikal Weston mulai berputar-putar seperti gasing dan perlahan mengikis ujung mata pedangnya. Putaran itu menghilangkan daya tarik magnetnya dan sihir pedang raksasa Mark mulai hilang bagaikan terhisap oleh sihir Weston.
"Ti-tidak mungkin!! Tidaaak!!"
__ADS_1
Piuu.... JEDUARR!!!
Mark terpental kebelakang lalu tubuhnya terbentur barrier pelindung arena lalu pingsan.
"Itulah akibatnya jika terlalu sombong!" Ledeknya.
"Pertandingan selesai! Pemenangnya adalah, Weston!" Ucap Gildart.
Pertandingan pun akhirnya selesai dengan Weston sebagai pemenangnya. Tim medis pun membawa Mark yang terluka untuk disembuhkan.
"Pertandingan selanjutnya, Grey melawan Uno!"
Kedua orang yang dipanggil maju kedepan dan bersiap-siap.
"Beri hormat!"
Mereka membungkukkan badannya seperti yang murid sebelumnya lakukan.
"Bersediaa..."
Kuda-kuda...
"Mulai!"
Grey memulai serangan pertama dengan api-api sebesar bola sepak dengan jumlah yang sangat banyak.
Piu, piu piu!! Jeduar jeduar, duarr duarr!!
"Cih!"
Uno berusaha menghindarinya. Tiba-tiba...
"Gawat!"
Ngiuuung.... JEDUAAR!!!
Sebuah bola api raksasa membombardir Uno dengan kecepatan yang luar biasa.
"AAARRGG!!" Uno berteriak dengan tubuhnya yang terlontar kebelakang.
"Bodoh! Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu menyerang? Rasakan lagi ini!!" Ucap Grey sambil membuat bola api besar seperti sebelumnya.
"Sialan! Jika aku terkena serangan itu sekali lagi, habislah aku! Tak ada pilihan lain! Aku harus menggunakan teknik terkuatku!" Katanya.
"Heyaaaa!!!"
Grey melemparkan apinya ke arah Uno sekali lagi. Dengan ekspresi wajah yang cukup kesulitan, Uno berusaha menghindarinya sambil menunggu waktu coldown skillnya.
BLEDUMM!!!
"Ayolaaah... Sedikit lagi!" Pikir Uno.
"Mau sampai kapan kamu menghindar ha? Sudah menyerah ya? Hahahahaha!!" Grey tertawa dengan bangga dan berpikir kemenangan berpihak padanya.
Uno tidak mempedulikan ocehannya karena akan mengganggu konsentrasinya.
"Ini serangan terakhirku!! Dengan ini, berakhir sudah!" Ucap Grey mengangkat kedua tangannya ke atas lalu energi yang sangat banyak berkumpul.
"A-apa itu?! Besarnya!!" Kata salah satu murid yang menonton.
Rupanya, Grey sedang membuat sebuah bola api yang sangat besar! Ukurannya bahkan setara dengan sebuah rumah modern satu tingkat. Suhu yang sangat panas dari bola api itu menyebabkan suhu yang ada diarena menjadi panas juga.
"Sial! Ini panas sekali! Sangat menggangu konsentrasiku! Ayo! Tersisa 10 detik lagi!" Pikir Uno.
"Berakhir sudah! HEYAAAA!!!"
Grey melemparkan apinya ke bawah menuju ke arah Uno dengan cepat.
"Haha! Akhirnya!!" Ucap Uno tertawa berseri.
Saat bola api itu mengenai tanah, itu meledak menjadi seperti bom rudal yang membakar area sekitarnya. Untungnya, para murid yang menonton telah diberi barrier pelindung khusus sejak awal yang melindungi mereka jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Lu-luar biasa... Apa dia menang?" Ujar para murid yang menonton.
"Hosh, hosh, hosh... Aku menang! Aku menang!" Grey kegirangan.
"Tunggu! Lihat itu!" Ucap murid yang lain menunjuk arah lokasi ledakan.
"Sepertinya, kau ini sangat bodoh ya?" Ucap seseorang dari balik asap dan debu tempat ledakan tadi.
"Apa?! Tidak mungkin!!"
__ADS_1
To Be Continued~
Mo lanjut? Votenya dulu ea mamank:v