SYSTEM DEWA

SYSTEM DEWA
Chapter 31.1 Mati!


__ADS_3

Langkah instan milik mayor jendral Durandal, yang mestinya membunuh Arseno yang seharusnya duduk di kursi, bahkan tidak bisa menyentuhnya dan hanya menebas udara.


Dan, hal yang mustahil terjadi. Dia yang seharusnya berada dihadapannya, Durandal menyadari sekarang dia ada di belakangnya.


WUSHH!!


"Apa itu tadi?!"


Disebelah Durandal yang berbalik terburu-buru, gumpalan sesuatu yang bulat terbang tepat disampingnya.


SPLATT!!


Dan itu menabrak dinding yang kemudian menjadi noda darah.


Penyihir yang kepalanya terlepas jatuh ke lantai, lalu mengejang-ngejang seoalah dia masih berpikir.


"Tidak ada yang penting disini. Perlu dicari dimana asalnya!"


Dan dengan begitu, dia menarik dengan santai kepala yang lain dan mengulangi tindakan ini setelah beberapa detik.


Tempat itu diwarnai jeritan yang hilang saat tempat itu berubah seperti di neraka.


"Se-semuanya, gunakan magic canceller!! Targetnya adalah iblis didepan kalian!!"


Para penyihir agung yang panik kembali tenang setelah mendengar kata-kata Durandal.


Dengan cepat, mereka menyerang Arseno dengan magic canceller secara bersamaan ke padanya.


"Heh, apa ini? Mainan? Apa yang sedang kalian lakukan? Serangan seperti itu tidak akan berguna. Itu mungkin berbahaya bagi monster, tapi tidak untukku. Jadi, apa gunanya melakukan itu?"


Memiringkan kepalanya dengan manis, Arseno bertanya.


"Haha! Kau telah berakhir jal*ng! Jangan harap kau akan kabur dari sini hidup-hidup!"


Durandal menjawabnya dengan percaya diri dan memberi sinyal pada bawahannya.


Prajurit yang tersisa melihat Arseno dan mengangkat meriam nuklirnya.


"Gunakan meriam sihir untuk membunuh iblis itu! Iblis itu adalah yang terburuk! Jangan lengah!" Seru Durandal pada bawahannya.


Mengikuti perintah Durandal, sementara gerakan musuh terhambat oleh magic canceller, para tentara mulai melakukan pengisian dayanya.


Tapi,

__ADS_1


"Hmm... Aku masih tidak mengerti. Hal ini, itu berdasarkan teori gangguan sihir, kan? Ini akan berpengaruh jika esensi sihir berada dalam tubuh fisik bukan? Bukankah itu hanya akan berpengaruh pada demon yang bertier lebih rendah? Apakah itu bisa melukai kami iblis yang berperingkat lebih tinggi? Sama seperti bagaimana kau secara alami bernafas, sihir secara alami terbentuk dari pikiran kami. Seperti saat kami mengeluarkan sihir tanpa perlu ada waktu coldown dan bisa memakainya secara tak terbatas berkat pemberian dari tuan Kiryuu-sama. Jadi, sihir apa itu? Sebuah mainan?"


Arseno terus bergumam pada dirinya sendiri. Dan saat dia selesai,


Dia tiba-tiba menghilang, dan salah satu kepala prajurit itu dikirim terbang.


Dia bergerak dengan cepat dan mengakhiri hidup seorang prajurit.


"Hm? Gerakan sederhana, dan kepala seseorang diterbangkan. Menggunakan kata-katamu, aku bergerak dengan kecepatan supersonik. Tapi itu tidak ada gelombang kejut, bukan? Itu karena gerakan tadi didasarkan oleh sihir. Dan kemudian ini!"


Dengan jentikan pergelangan tangannya, Arsena menciptakan bayangan.


Segera setelah itu,


CRASSH!! SPLURT!!


Bersamaan dengan suara benturan, kepala seorang prajurit telah hancur lagi.


"Jika aku melakukan ini, sesuai hukum fisika seperti yang tuan Kiryuu-sama ajarkan pada kami, aku dapat membuat gelombang kejut juga."


Dari penjelasan Arseno, Durandal akhirnya mengerti.


Dari kisah-kisah berbagai negara asing, penuh dengan perasaan eksotis.


Arch demon? Apakah mereka sebenarnya seperti ini?


Mempertimbangkan kekuatannya sendiri, bahkan jika dia tidak mampu mengalahkan seorang arch demon dia masih bisa mengulur waktu sampai kedatangan tetua mereka tiba.


Jika ada beberapa orang yang sekaliber dirinya sendiri, itu bukan musuh yang mustahil.


Tapi,


Seberapa pun dia berjuang, Durandal tidak melihat ada peluang kemenangan melawan gadis dihadapannya itu.


"H, hiii! Monster!!"


Para penyihir agung dan prajurit telah jatuh kedalam kekacauan total dan berlarian kesana kemari mencoba melarikan diri.


Dihadapan eksistensi perwujudan kematian, itu adalah reaksi yang alami.


"Sekarang, hm... Kemudian, mari kita lanjutkan pertanyaannya."


Suara ceria dari gadis itu, adalah yang terakhir didengar oleh orang-orang yang panik.

__ADS_1


Dengan satu serangan sihir yang tidak terlihat oleh mata, mereka semua mati seketika. Seluruh awak pesawat didalamnya mati termasuk pilotnya kecuali Durandal. Arseno menyisakannya sebagai hidangan penutupnya.


Beberapa menit kemudian~


Arseno yang telah memperoleh informasi yang tersedia, dengan senang hati meninggalkan kapal.


Sebagai perwira sementara dalam militer, tugasnya adalah membawa pulang para pasukan yang telah selesai membantai tentara penyihir agung dan ksatria suci.


Hasil yang memuaskan tidak ditentukan olehnya, tetapi oleh atasannya yaitu Savier, Veneno dan Feron.


Mereka berdua adalah pemimpin sekaligus komandan dari peperangan kali ini.


Sejauh ini, bahkan dengan jumlah pasukan musuh yang berjumlah berkali-kali lipat dari jumlah pasukan yang kota monster miliki, hanya dengan dua regu saja yang beraksi, peperangan telah mereda.


Pasukan orc berhasil dibantai habis seluruhnya hingga arena medan perang dipenuhi mayat-mayat yang bertumpuk-tumpuk dan tergeletak di mana-mana.


Sedangkan, pasukan utama musuh yang terdiri dari bermacam-macam hewan beast juga telah berhasil dipukul mundur. Sementara itu, pasukan wyvern yang tadi terbang melarikan diri kembali ke markas mereka dan melaporkan apa yang terjadi pada atasannya.


Penyihir agung dan ksatria suci sepenuhnya dibantai habis juga tanpa bersisa. Hanya sedikit yang berhasil melarikan diri tapi kemudian, pasukan yang melarikan diri juga pada akhirnya dipergoki dan mati, semua terbunuh oleh para dragonewt yang mengejar mereka.


Para tentara yang saat keberangkatannya penuh percaya diri dengan kekuatan mereka berakhir dengan catatan kekalahan yang memalukan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kemudian, saat Arseno meninggalkan pesawat,


"Ah aku hampir lupa! Aku lupa dengan hidangan penutupku." Ucap Arseno menghentikan kepergiannya sesaat.


Arseno menatap pesawat yang Durandal tunggangi dengan tatapan penuh kesenangan sekaligus menyimpan perasaan sadisnya.


"A-apa yang akan kau lakukan padaku?!"


Durandal melihat Arseno dengan wajah ketakutan.


"Oke! Matilah!!"


Arseno mengayunkan tangannya ke arah kapal itu dan sebuah pisau berbentuk sabit raksasa menghantam pesawat yang Durandal tunggangi hingga terbelah menjadi dua bagian.


SLASH!! JEBUUNG!!


Itu benar-benar terbelah lalu meledak hancur! Durandal pun tewas bersama awak pesawat yang Arseno bunuh tadi.


"Ah, kurasa itu sedikit berlebihan tapi, terserah lah! Lagipula, tuan Kiryuu-sama sama sekali tak melarang kami untuk melawan musuh dengan cara apapun." Ucap Arseno menggaruk-garuk kepalanya tertawa kecil.

__ADS_1


To Be Continued~


__ADS_2