SYSTEM DEWA

SYSTEM DEWA
Chapter 39 Bonus!


__ADS_3

Skill mereka juga sangat asing di ingatanku. Walaupun terdapat ratusan jenis ultimate skill,


Skill mereka masuk dalam kategori destruktif dan di bawah satu tingkat barisan seven deadly sins.


Itulah yang Ciela-san katakan.


Lalu...


SWUUSH....


Ratusan orang muncul secara bersamaan dari berbagai arah kemudian berbaris dengan cepat mengikuti Hakurou dan yang lainnya.


Setelah itu, 11 demon lord juga ikut berbaris dan menyambutnya. Jika ditambah dengan Shiro, Agil, dan Kazaru, jika ditotal terdapat 14 demon lord yang hadir disana.


Kedisplinan mereka juga sangat luar biasa. Tak ada kelalaian diantara mereka.


Jadi,


"EEEEEH!!??"


Sejak kapan orang-orang dikotaku menjadi sekuat ini?!


Bukankah terakhir kali aku disini mereka semua masih sangat berbeda?


Dan apa-apaan jumlah mana yang terpancar ini? Apakah mereka tak pandai menahan aura kalian?


Bagaimana jika Haruna dan yang lain sulit bernafas?


Oh ya! Aku lupa!!


Kiryuu berbalik dan mengecek apakah mereka baik-baik saja. Sayangnya, itu sudah terlambat! Mereka kesulitan untuk bernafas dan bahkan beberapa anak-anak pingsan beserta nenek mereka. Yang masih bisa bertahan hanyalah 3 orang saja termasuk Haruna sedangkan yang lainnya tak sadarkan diri.


"GAAH!! Sial aku terlambat! Hei kalian?! Apa kalian ini bodoh?! Lihat apa yang kalian lakukan pada mereka! Tahanlah aura kalian semua atau kalian akan membunuh mereka!!" Ucap Kiryuu yang panik.


"Ta-tapi... Kami tak tau caranya menahan aura kami sendiri." Ucap mereka yang juga tidak tau harus apa.


"WTF?! JADI KALIAN TIDAK TAHU?! KALIAN RAJA IBLIS YANG CERDAS TAPI KALIAN TIDAK TAHU?!"


Karena terdesak, Kiryuu memberikan mereka semua perisai sihir yang akan melindungi mereka dari aura para monster idiot tapi cerdas itu dan kemudian sekalian menyembuhkan mereka dengan auto recovery.


Setelah itu~


"Huft... Syukurlah denyut jantung mereka semua sudah kembali normal... HENG?!!" Kiryuu berbalik menatap bawahannya dengan tajam dan bawahannya memalingkan wajah mereka dan berpura-pura tidak tau.


Kiryuu pun berdiri lalu berjalan ke arah bawahannya dengan gaya seperti orang yang sedang marah terhadap anaknya.


"Jadi, kalian benar-benar tidak tahu cara menyembunyikan aura kalian sendiri?" Tanya Kiryuu.


"Ka-kami benar-benar tidak tau..." Jawab mereka menundukkan kepala mereka dengan ekspresi wajah yang sangat gugup.


Kiryuu menghela nafas dan memendam emosinya dalam-dalam, "Baiklah, mungkin ini sebagian juga salahku tak mengajarkannya pada kalian. Tanyalah pada Ciela-san untuk mengetahui rincian penuh tentang metode ini. Aku mengizinkannya! Sekarang, beritahu aku! Apa status kota ini? Dan bagaimana dengan perangnya?" Tanya Kiryuu.


"Lapor! Status: Terkendali! Mengenai perang beberapa hari lalu, kami sudah mengatasinya sesuai perintah anda, Kiryuu sama! Jumlah jiwa dan energi yang kami dapatkan dari hasil peperangan kemarin akan kami berikan kepada anda!" Jawab Savier yang merupakan Queen (Salah satu dalam pion catur. Gua pake nama itu biar enak dibaca kalo nyangkutin tentang strategi perang).

__ADS_1


"Tidak, tidak tidak! Aku tak mau menerimanya!" Ucap Kiryuu menolak.


"Eh? Tapi kenapa?" Sahut Feron.


"Kalian ini! Itukan hasil jerih payah kalian sendiri, jiwa-jiwa yang kalian dapatkan juga hasil kerja keras kalian kan? Jadi, untuk apa aku memilikinya? Simpan saja untuk kalian. Gunakan sesuka hati untuk kebaikan kalian sendiri."


"Sesuai keinginan anda, tuanku!"


Dan Feron tak membantahnya.


"Lalu, ada keperluan apa Kiryuu-sama datang kesini tiba-tiba?" Hakurou bertanya.


"Ah aku hampir lupa! Emi, Luna! Aku butuh bantuan kalian!" Seru Kiryuu memanggil mereka berdua.


Dan mereka menjawab panggilannya.


"Ya, tuanku! Apa yang bisa kami bantu?" Tanya Emi.


"Jangan terlalu formal, aku meminta kalian berdua membawa mereka orang-orang ini ke ruanganku terlebih dahulu. Aku akan membuat rumah baru!" Ucapnya.


"Rumah baru?" Mereka keheranan.


"Benar! Mulai sekarang, mereka semua akan tinggal di kota kita! Perlakukan mereka dengan baik dan jangan membantah!" Ucap Kiryuu.


"Baik!!"


Mereka berdua mengindahkan kata-katanya lalu pergi membawa Haruna dan yang lainnya masuk ke rumahnya.


"Bagus! Kalian semua, bubar!" Seru Kiryuu pada bawahannya.


Mereka semua pun pergi meninggalkan Kiryuu sendirian.


"Yosh! Waktunya bekerja!"


1 jam kemudian~


Baiklah, dengan ini, rumahnya sudah selesai dibuat.


"Hehe!"


Tentu saja ini bukanlah rumah biasa. Bisa dibilang, rumah ini termasuk rumah yang canggih meskipun hanya terdapat 3 lantai saja dan itu lebih dari cukup untuk mereka semua tinggali.


Luas dari rumah ini adalah setengah lapangan sepak bola 50×50 persegi. Ini juga sudah termasuk rumah konglomerat yang ada di bumi.


Dan tentu saja, aku melakukannya dengan curang sehingga selesai dengan cepat.


Yah, meskipun ada banyak sekali kesalahan saat aku membuatnya karena susunannya salah terus menerus, pada akhirnya aku memilih meminta bantuan Ciela-san dan dia pun memberiku banyak sekali pilihan desain rumah dan rumah inilah yang kupilih karena menurutku ini sangat cocok untuk mereka.


"Tugasku sudah selesai disini, waktunya memberi tahu mereka lalu kembali ke kota atau Nana akan memarahiku karena terlambat pulang lebih dari 4 jam."


Kiryuu pun memberitahu Emi dan Luna melalui telepatinya.


(Kuserahkan sisanya pada kalian. Saat anak-anak dan yang lainnya bangun, bawa mereka ke rumah baru yang baru saja selesai kubuat dan akan kuberikan titik koordinatnya nanti. Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya. Sampaikan salamku pada yang lainnya. Oh ya, saat aku pergi, jangan lupa ajari mereka banyak hal tentang seisi kota kita serta ajak mereka jalan-jalan dan berkenalan dengan teman-teman kita yang ada di kota jika kesadaran mereka sudah pulih. Itu saja pesan dariku. Aku pergi dulu!)

__ADS_1


(Tu-tunggu...!)


Belum selesai Emi ingin mengatakan sesuatu, telepati telah terputus.


Sepertinya, Kiryuu sudah pergi meninggalkan kota dan kembali ke sana.


"Di-dia sudah pergi begitu saja...." Emi menurunkan alisnya. Sepertinya, dia sedih.


"Jangan kawatir, dia akan baik-baik saja, lagipula, Kiryuu-sama pernah bilang kalau akan segera pulang jika urusannya sudah selesai." Ucap Luna yang mencoba menghibur Emi.


"Terima kasih... Aku sudah lebih baik sekarang..." Emi kembali tersenyum.


Sementara itu,


SIUUT...


Kiryuu pun tiba di kamarnya dalam sekejap dengan teleportasinya.


"Fiuh! Ini cukup melelahkan! Aku mau tidur saja!" Ucapnya yang langsung melompat ke kasurnya lalu memeluk bantalnya kemudian tidur.


Tapi, disaat Kiryuu ingin tertidur, lagi-lagi Nana sudah menunggunya sejak lama.


"Kau terlambat! Dari mana saja kau?" Tanya Nana.


"Eh? WAAH, SIAPA ITU?!!" Kiryuu terkejut ketika membuka kelopak matanya Nana sudah berada di sampingnya.


"Na-Nana?! Sejak kapan kau berada di situ? Kau membuatku kaget saja!" Tanya Kiryuu yang langsung mundur ke dinding.


"Berhenti membuat alasan dan jelaskan kenapa kau terlambat pulang lebih dari 4 jam?" Tanya Nana dengan ekspresi marahnya.


"Ba-baik!"


Beberapa menit kemudian~


"Jadi begitu, aku mengerti... Tapi tetap saja kau terlambat! Terlebih lagi kau tidak memberitahuku terlebih dulu. Kebiasaan burukmu itu benar-benar menjengkelkan!" Ucap Nana menyindir.


"Maaf, soalnya saat itu benar-benar mendadak!" Ucap Kiryuu meminta maaf dengan tulus.


"Sudahlah! Tak ada gunanya memarahimu... Lagipula, aku tau betul sifatmu yang akan semakin bandel jika diperingati. Ayo! Makan malamnya akan dingin nanti!" Ucap Nana menarik tangan Kiryuu dari kasurnya.


"O-oi... Tunggu dulu! Aku baru saja ingin beristirahat!" Kiryuu mencoba berontak.


"Tidak! Kau harus makan! Kau pasti lelah kan, seharian ini?" Nana tetap bersikeras.


"Maka dari itu, aku ingin tidur!"


"Tidak boleh!" Nana menarik Kiryuu semakin keras.


"EEEH?!! TUNGGU! ITU SAKIT!!" Kiryuu meronta-ronta.


"Berhentilah mengeluh!" Ucap Nana.


Dan pada akhirnya, Kiryuu tak bisa beristirahat sama sekali.

__ADS_1


To Be Continued~


__ADS_2