
"Hmm..."
Baiklah, tempat ini ternyata terdiri dari 10 lantai. Masing-masing dari lantainya punya penjara bawah tanah yang sama.
Hanya saja, semakin dalam lantainya, semakin sempit juga ruangannya.
Lalu, diantara semua ruangan, aku menemukan sebuah tempat yang aneh, disana terdapat sebuah energi kehidupan yang terasa kuat.
Mungkin merekalah orang-orang yang selama ini kucari-cari.
"Apa langsung saja kusergap mereka? Tidak! Itu terlalu terburu-buru..."
"Hmmm.... Bagaimana dengan memberi mereka sebuah kejutan?"
Mengamati mereka sesaat lalu muncul muncul dibelakang mereka kurasa itu ide yang cukup bagus!
"Sudah lama semenjak aku ingin membunuh seseorang dengan keji seperti ini hehe... Waktunya pertunjukkan!"
"Ciela-san, "stealth!"
[Skill «Stealth», activated!]
"Okay, here we go!"
SET...
Kiryuu menggunakan teleportasi untuk berpindah dengan cepat ke depan pintu yang ditujunya dalam sekejap.
Dengan skill penyembunyian tubuh beserta teleportasi tanpa suara, Kiryuu akan dengan mudah menyusup tanpa mereka sadari.
Sebenarnya, Kiryuu bisa saja menggunakan sihir dimensinya untuk muncul dihadapan mereka semua secara tiba-tiba, tapi karena niatnya yang hanya ingin mengejutkan mereka, dia lebih memilih untuk berteleportasi.
Lagipula, tak ada batasan untuk penggunaan skill ini bagi Kiryuu.
Mananya yang sangat banyak memungkinkannya untuk melakukan hal yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin.
Mari kita kembali ke pokok permasalahannya....
"Jadi, apa status kita?" Tanya pemimpin dari mereka.
Saat ini, tampaknya hanya tersisa 3 orang saja dari mereka. Sedangkan 3 lainnya tampaknya sudah gugur.
Sementara itu, Kiryuu sedang menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Tuan, ini buruk... Menurut laporan dari prajurit penunggang wyvern yang tersisa, pasukan kita sepenuhnya telah dikalahkan oleh mereka." Jawab tetua ketiga.
"Apa?! Mustahil! Kita kalah!? Bagaimana mungkin pasukan sebanyak itu bisa dikalahkan dalam satu hari?" Tanya si ketua terkejut mendengar apa yang baru saja bawahannya katakan.
"I-itu benar ketua... Selain membantai habis pasukan kita, mereka juga membunuh tentara ksatria suci dan penyihir yang kita kirimkan, bahkan ketiga rekan kita yang lain juga diinformasika telah mati terbunuh oleh mereka." Kata si tetua kedua.
Pemimpin mereka yang mendengar sesuatu yang sangat tidak terduga membuatnya syok dan menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi wajah yang terlihat putus asa.
"Ada apa sebenarnya dengan orang-orang di kota itu? ini tak masuk akal! Padahal jumlah pasukan kita jauh berkali-kali lipat dari mereka. Apa yang terjadi sebenarnya?"
Lalu, dia pun bertanya sekali lagi...
Menghela nafas, "Kalau begitu, bagaimana dengan sisa pasukan yang kita miliki?" Tanyanya.
"Umm... Soal itu, kita masih memiliki cukup banyak pasukan yang tersisa, diantaranya adalah 490.000 pasukan ksatria suci, dan 298.000 pasukan penyihir agung." Jawab tetua ketiga.
Dan si ketua menarik nafas lega setelah mengetahui bahwa masih ada banyak pion untuk dimainkan dalam pelaksanaan rencananya.
"Fiuh... Itu bagus... Dengan ini, rencana kita akan terus berjalan, haha!" Si ketua tertawa kecil. Dia yang awalnya merasa bahwa rencana yang sudah dia susun selama bertahun-tahun akan digagalkan begitu saja dengan musnahnya pasukan besar yang dimilikinya, tapi...
Meski telah kehilangan banyak pasukan, setidaknya dia memiliki 888.000 pasukan yang tersisa. Itu jauh lebih dari cukup untuk menginvasi kota besar kerajaan Fulio.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya ketua.
"Sudah! Pasukan telah siap untuk berangkat! Mereka menunggu kita di medan perang." Jawab tetua ketiga.
__ADS_1
"Hahaha!! Kerajaan itu pasti akan jadi milik kita!" Sahut tetua kedua.
"Benar sekali! Dengan kerajaan itu menjadi milik kita, maka menguasai seluruh negeri manusia bukanlah masalah lagi bagi kita hahaha!!" Si ketua ikut tertawa gembira.
Sementara mereka bersenang-senang dengan opini dan pendapat mereka masing-masing, tiba-tiba...
Sebuah suara yang terdengar jelas dari balik pintu masuk ruangan mereka berkata...
"Eeh, kalian ini sudah mau mati tapi masih saja punya hayalan konyol untuk melakukan hal yang membosankan seperti itu?" Tanyanya dari balik pintu.
Para penyihir agung itu yang mendengar suara itu panik.
"Siapa kau!? Tunjukkan dirimu!!" Serunya.
Terlihat jelas dari wajah-wajah mereka yang sedang kebingungan.
Mereka tak habis pikir bahwa pembicaraan mereka akan didengar oleh orang lain.
Sambil terus berseru dan bertanya siapa "Dia" agar menunjukkan siapa dirinya, dia berkata sekali lagi...
"Hm? Asal kalian tahu, aku tak akan membiarkan rencana busuk kalian begitu saja, tahu!" Ucapnya sambil keluar menunjukkan dirinya yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu, "Kiryuu."
"Siapa Kau?! Dan bagaimana caramu bisa masuk kesini?!" Tanya si ketua yang terkejut bahwa orang yang menakutinya hanya seorang anak muda.
"Bukan siapa-siapa... Cuma orang biasa yang datang menjemput kematianmu!" Jawab Kiryuu tersenyum.
"Hah?! Apa yang kau bicarakan?! Hei bocah! Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku membunuhmu!" Ucap si ketua mengusirnya.
Kedua bawahannya juga mengejeknya dengan kata-kata yang tak pantas dan juga ikut-ikutan mengusir dirinya.
Emosi Kiryuu melonjak!
Saat dua yang lainnya asik meledek Kiryuu dengan mulut mereka yang pedas, salah satu kepala dari penyihir agung yaitu tetua ketiga dikirim terbang.
SPLURRT!!
Darah segar terpancur dari leher yang tertebas kemudian terjatuh lemas ke lantai.
"Ba-baj*ngan!! Apa yang telah kau lakukan pada bawahanku?!" Tanyanya dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
"Em? Tidak ada... Aku hanya membunuhnya saja. Apa ada masalah?!" Tanya Kiryuu sambil membersihkan jari-jemarinya dari noda darah.
"Kau!!"
Si ketua sangat marah dengan apa yang Kiryuu katakan lalu dengan cepat dia bertindak menyerang Kiryuu secara langsung dengan sihirnya.
Tapi,
CTEKK!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dengan satu jentikan pergelangan tangannya, waktu telah berhenti dalam sekejap.
"Hee, ingin menyerangku? Mimpi!"
Waktu yang telah dihentikan membuat kedua penyihir didepannya tubuhnya diam seperti batu.
Untuk pertama kalinya, Kiryuu telah menggunakan skill penghenti waktu yaitu, «Time stopping».
Dia mengaktifkan skill itu dengan jarak tertentu dan hanya ruangan ini saja yang waktunya berhenti, sedangkan area yang diluar jarak yang telah ditentukan masih berjalan dengan normal.
Secara harfiah, Kiryuu membatasi area yang akan dibekukan waktunya.
"Karena rencana busuk kalian, aku harus melakukan hal yang sangat merepotkan seperti ini. Bahkan kalian juga sampai berani menyulut perang dengan kotaku, nyali kalian berdua besar juga ya? Berkat kalian, turnamen yang sudah kunanti-nanti harus tertunda oleh kalian semua para manusia biadab! Hukuman apa yang cocok untuk kalian?" Ucap Kiryuu menatap si ketua sambil bergumam memirkan siksaan yang sesuai untuknya.
"Oh! Aku tau! Bagaimana dengan kematian? Tidak! Itu terlalu ringan untuk mereka! Hmm... Atau, menyiksa mereka dengan cara menguliti mereka hidup-hidup, membakar tubuhnya, mencongkel matanya, atau kubuat mereka seperti di neraka?"
Selama beberapa menit, Kiryuu terus berpikir sambil mondar-mandir kesana kemari.
"Grr... Ini membingungkan! Sudah cukup main-mainnya! Lebih baik kusimpan mereka dulu dan memikirkan hukumannya nanti!" Ucap Kiryuu kesal.
Karena gagal menemukan siksaan yang sesuai, dia memutuskan untuk menyimpan mereka berdua di dalam ruang dimensi imaginary space.
Dengan kasar, dia menarik paksa tubuh kedua orang itu dari kebekuan waktu lalu melempar mereka masuk kedalam ruang isolasi imaginary space miliknya.
"Yosh!! Tugasku sudah selesai disini! Mari kembali ke permukaan terlebih dahulu! Aku harus memberitahu pak tua itu nanti!"
SET...
Lagi-lagi, Kiryuu menteleportasikan dirinya agar sampai ditujuan dengan instan.
Apa yang dia rencanakan sebenarnya?
__ADS_1
To Be Continued~
Next? Please vote this novel! 🙏🙏